Syekh Abdus samad bin abdullah al jawi al palinbani

Syekh Abdus samad bin abdullah al jawi al palinbani

1.Asal-Usul dan Latar Belakang

Syekh Abdus Samad al-Palimbani dilahirkan sekitar tahun 1737 M di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau wafat diperkirakan setelah tahun 1832 M, kemungkinan di Mekah atau Thaif.

Latar belakang keluarganya sangat berpengaruh pada perjalanan ilmunya. Kakeknya adalah seorang ulama sufi terkemuka yang menjabat sebagai Mufti di Kerajaan Kedah (sekarang bagian dari Malaysia). Ayahnya, Syekh Abdullah, juga seorang ulama yang kemudian menetap di Palembang. Lingkungan keluarga yang sangat agamis dan berilmu ini memberikan landasan pendidikan agama yang kuat sejak dini, memotivasinya untuk mengejar ilmu lebih dalam, yang kemudian membawanya merantau ke Haramain (Mekah dan Madinah).

2. Perjalanan Menuntut Ilmu

Beliau belajar di berbagai pusat keilmuan Islam, terutama di Mekah dan Madinah (Haramain), tempat beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menuntut ilmu dan mengajar. Beliau juga menimba ilmu dari ulama di Mesir dan Yaman.

Beberapa guru beliau yang terkenal berasal dari kalangan ulama terkemuka di Haramain, yang masyhur dengan keilmuan dan kesalehannya. Beliau juga aktif dalam diskusi keilmuan di dalam "Komunitas Jawi", yakni komunitas pelajar dari Nusantara yang berbahasa Melayu di sana.

Tantangan terbesar dalam menuntut ilmu pada zamannya adalah perjalanan yang jauh dan sulit dari Nusantara ke Timur Tengah, yang memakan waktu berbulan-bulan. Selain itu, kondisi politik di tanah air yang berada di bawah penjajahan Belanda juga menjadi tantangan, yang membuatnya memilih untuk mengabdi di pusat Islam sambil menyebarkan semangat perlawanan melalui karya tulisnya.

3. Karya Intelektual

Syekh Abdus Samad menghasilkan banyak karya tulis, sebagian besar dalam bahasa Melayu. Dua karyanya yang paling monumental adalah:

Hidayatus Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin: Kitab tasawuf yang membahas panduan bagi para penempuh jalan spiritual (sufi) berdasarkan kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali. Pengaruhnya sangat besar sebagai panduan utama tasawuf di Nusantara.

Siyarus Salikin ila Ibadat Rabb al-'Alamin: Juga merupakan kitab tasawuf yang lebih mendalam, menjadi rujukan penting dalam Tarekat Sammaniyah yang diikutinya. Kitab ini menguraikan jalan-jalan ibadah dan suluk (perjalanan spiritual).

Karya-karya beliau ini memiliki pengaruh yang luas dalam menyebarkan ajaran tasawuf yang moderat dan terstruktur di dunia Islam, khususnya di kawasan Melayu, serta memperkuat jaringan keilmuan antara Timur Tengah dan Nusantara.

4. Peran dan Kontribusi Global

Beliau dikenal di dunia internasional, terutama di dunia Melayu dan Arab, dalam bidang tasawuf, fiqih, dan dakwah. Kontribusi utamanya adalah sebagai penghubung mata rantai keilmuan dari Haramain ke Nusantara, serta menyebarkan semangat jihad melawan penjajahan.

Negara yang menjadi tempat perjuangannya adalah Indonesia (khususnya Palembang), di mana ajarannya tersebar luas, dan Arab Saudi (Mekah dan Madinah), tempat beliau berkarya dan mengajar.

5. Murid dan Jaringan Keilmuan

Syekh Abdus Samad memiliki banyak murid yang menjadi tokoh penting di dunia Islam, baik yang berasal dari Arab maupun dari Nusantara (Komunitas Jawi). Beberapa di antaranya adalah ulama-ulama besar dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia, yang meneruskan ajaran dan semangat perjuangannya. Beliau merupakan bagian dari mata rantai ulama-ulama Jawi terkemuka di Mekah pada abad ke-18 dan ke-19, bersama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan lainnya.

---

*6. Perjuangan dan Keteguhan Iman*

Beliau menunjukkan perjuangan melawan penjajahan dengan seruan jihad melawan kolonial Belanda. Dalam karya-karyanya, ia mengingatkan umat Islam untuk bersatu dan tidak tunduk pada penjajah. Keteguhan imannya terlihat dari keberanian beliau berdakwah di tengah kondisi politik yang genting dan keberaniannya menyampaikan kebenaran tanpa takut tekanan dari pihak mana pun.

*7. Nilai-Nilai Keteladanan*

Sifat yang paling menonjol dari beliau adalah:

- *Semangat belajar tinggi*, terbukti dari perjalanannya menuntut ilmu sampai ke Mekah.

- *Cinta tanah air*, karena ia ikut mendorong perjuangan umat melawan penjajah.

- *Rendah hati*, terlihat dari gaya penulisannya yang membimbing, bukan menggurui.

- *Keikhlasan berdakwah*, tanpa mengharapkan imbalan duniawi.

*8. Relevansi untuk Generasi Sekarang*

Nilai perjuangan dan ilmu dari beliau bisa diterapkan dengan cara:

- Rajin belajar, karena ilmu adalah bekal utama untuk membangun bangsa.

- Berani menyuarakan kebenaran di media sosial dengan akhlak mulia.

- Menumbuhkan semangat bela negara dengan cara positif, seperti aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan literasi. - Tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan zaman.

*9. Inspirasi Pribadi*

Jika saya bisa bertemu beliau, saya ingin bertanya:

*"Bagaimana cara menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu dan berdakwah di tengah dunia yang penuh godaan?"*

Karena ini penting untuk saya sebagai pelajar agar tetap fokus mengejar ilmu dan tidak hanya mencari pujian.

*10. Karya Kreatif Kelompok (Puisi Pendek)*

*Di tanah suci kau menimba ilmu,*

*Demi bangsa kau serukan rindu.*

*Tak gentar melawan penjajah angkuh,*

*Dengan ilmu dan iman yang teguh.*

*Palimbani, namamu abadi,*

*Menjadi cahaya generasi kini.*

Berita Popular

Advertisement