
Pergantian Hari dalam Islam dan Makna Malam 1 Rajab
Dalam sistem penanggalan Islam, khususnya kalender Hijriah, pergantian hari tidak berlangsung pada pukul 00.00 seperti dalam sistem Masehi. Sebaliknya, satu hari baru dimulai setelah matahari terbenam, yang ditandai dengan masuknya waktu sholat Maghrib. Konsep ini menjadi dasar penting dalam pelaksanaan ibadah, karena banyak amalan yang terkait dengan waktu tertentu, termasuk amalan-amalan malam hari di awal bulan Hijriah.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Berdasarkan kalender Hijriah yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tanggal 1 Rajab 1447 Hijriah jatuh pada hari Minggu, 21 Desember 2025. Dengan demikian, malam pertama bulan Rajab akan dimulai sejak Sabtu petang, tepat setelah sholat Maghrib pada 20 Desember 2025. Malam inilah yang disebut sebagai malam 1 Rajab.
Rajab merupakan bulan ketujuh dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia dalam Islam. Meski memiliki kedudukan istimewa, para ulama sepakat bahwa tidak ada ibadah khusus yang secara syariat ditetapkan hanya untuk bulan Rajab atau malam pertamanya.
Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani yang menyatakan bahwa tidak ada hadits shahih yang secara khusus menjelaskan keutamaan ibadah tertentu di bulan Rajab, baik berupa puasa, sholat malam khusus, maupun amalan lainnya. Namun, umat Islam tetap dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan secara umum di bulan ini.
Sebab, menurut penjelasan para ulama tafsir, pahala amal shalih di bulan-bulan haram lebih besar dibanding bulan lainnya. Di sisi lain, perbuatan maksiat juga memiliki konsekuensi dosa yang lebih berat.
Amalan yang Dianjurkan di Malam Awal Rajab
Beberapa amalan yang dapat dilakukan pada malam awal Rajab antara lain:
-
Memperbanyak doa sesuai kebutuhan masing-masing: Dalam beberapa riwayat yang dinukil oleh Imam Syafi’i, disebutkan bahwa terdapat beberapa malam yang diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa, termasuk malam pertama bulan Rajab. Meskipun tidak bersifat wajib atau memiliki dalil yang sangat kuat, Imam Syafi’i menyatakan kesukaannya terhadap amalan-amalan tersebut sebagai bentuk pengharapan kepada Allah SWT.
-
Membaca Al-Qur’an: Banyak hadits shahih yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an, salah satunya bahwa Al-Qur’an akan datang memberi syafaat kepada pembacanya di hari kiamat. Kitab suci ini juga menjadi sarana Allah SWT dalam meninggikan derajat seseorang atau suatu kaum.
-
Membaca Sayyidul Istighfar: Doa ini dikenal sebagai istighfar paling utama. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa seseorang yang membacanya pada waktu petang dengan penuh keyakinan, lalu wafat sebelum pagi hari, maka ia termasuk golongan penghuni surga. Sayyidul Istighfar tidak terbatas pada malam 1 Rajab saja, melainkan bisa diamalkan setiap hari, baik pagi maupun petang.
-
Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Walaupun sholawat sangat ditekankan pada hari Jumat, membacanya di malam-malam lain tetap memiliki keutamaan besar. Salah satunya, orang yang paling banyak bersholawat akan menjadi manusia yang paling dekat dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat. Selain itu, satu kali sholawat yang dibaca akan dibalas Allah dengan sepuluh sholawat.
-
Sholat sunnah mutlak: Sholat ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk pada malam 1 Rajab. Sholat ini tidak dibatasi jumlah rakaat dan tidak memiliki bacaan khusus. Keutamaannya antara lain sebagai pelengkap kekurangan dalam sholat wajib, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang hisab amal di hari kiamat.
-
Menjaga perilaku dan memperbanyak amal shalih secara umum: Berbuat baik kepada sesama, menahan diri dari perbuatan zalim, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai bulan haram.
Dengan demikian, malam pertama Rajab dapat diisi dengan berbagai ibadah yang bersifat umum tanpa keyakinan adanya pengkhususan tertentu. Semua amalan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan tetap berpegang pada tuntunan syariat. Wallahu a’lam bish-shawab.
Komentar
Kirim Komentar