Aliran Likuiditas Menteri Purbaya Belum Maksimal Dorong Kredit Bank

Aliran Likuiditas Menteri Purbaya Belum Maksimal Dorong Kredit Bank

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Aliran Likuiditas Menteri Purbaya Belum Maksimal Dorong Kredit Bank menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Pertumbuhan Kredit Perbankan di Tengah Tantangan Ekonomi

Pertumbuhan kredit perbankan pada September 2025 mencatatkan angka sebesar 7,7% secara tahunan (year on year/YoY), yang hanya sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,56%. Namun, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada September 2024 yang tercatat sebesar 10,85%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan kecil, pertumbuhan kredit masih belum optimal.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa penyaluran kredit perbankan masih perlu ditingkatkan untuk mendukung perekonomian. Menurutnya, permintaan kredit belum kuat karena beberapa faktor seperti sikap pelaku usaha yang masih wait and see, optimalisasi pendanaan internal oleh korporasi, serta suku bunga kredit yang relatif tinggi. Meskipun BI telah menurunkan BI Rate sebesar 105 basis poin (bps) pada awal 2025, suku bunga deposito satu bulan hanya turun sebesar 29 bps dari 4,81% menjadi 4,52% pada September 2025. Penurunan ini lebih lambat dibandingkan dengan penurunan BI Rate yang mencapai 150 bps.

Suku bunga kredit perbankan juga turun cukup lambat, hanya sebesar 15 bps dari 9,20% menjadi 9,05% pada September 2025. Selain itu, fasilitas pinjaman yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.374,8 triliun atau 22,54% dari total kredit. Angka ini terutama disumbang oleh korporasi di sektor perdagangan, industri, dan pertambangan.

Uang Beredar Naik

Meskipun pertumbuhan kredit belum agresif, Bank Indonesia melaporkan bahwa uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp9,771,3 triliun pada September 2025. Pertumbuhan M2 pada periode tersebut sebesar 8,0% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 yang sebesar 7,6% YoY. Perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% YoY dan uang kuasi sebesar 6,2% YoY.

Aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 12,6% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan lalu sebesar 10,7% YoY. Penyaluran kredit oleh perbankan juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,2% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,0% YoY. Tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 6,5% YoY, meningkat dari pertumbuhan bulan lalu yang tercatat sebesar 5,0% YoY.

Sementara itu, uang primer (M0) pada September 2025 tercatat meningkat 18,6% YoY menjadi Rp2.152,4 triliun. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,3% YoY. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 37,0% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,5% YoY.

Optimisme Menteri Keuangan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penempatan dana Rp200 triliun kas pemerintah ke bank milik negara (himbaga) belum memberikan dampak sepenuhnya pada September 2025. Injeksi dana pemerintah ke lima himbara baru dilakukan pada pertengahan bulan yang sama. Ia optimistis bahwa pertumbuhan kredit akan meningkat pada Oktober, November, dan Desember 2025.

Menurutnya, capaian pertumbuhan kredit sebesar 7,7% (yoy) pada September 2025 sudah lebih tinggi dari Agustus. Meski demikian, ia menilai bahwa pertumbuhan single digit pada September disebabkan oleh dampak demonstrasi besar-besaran akhir Agustus 2025.

Kemudahan Akses Kredit

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta kemudahan akses kredit sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI rate sebesar 4,75%. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan kebijakan moneter bank sentral ini mempertimbangkan kinerja nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kendati demikian, kinerja mata uang garuda melemah pada September 2025 sebesar 1,05% dibandingkan dengan Agustus 2025.

Shinta menyatakan bahwa suku bunga acuan yang rendah belum mampu menggerakkan sektor riil karena kendala kredit masih ada. Ia menyarankan pemerintah untuk memperhatikan ketersediaan dana untuk kredit serta melakukan relaksasi terhadap ketentuan dan penilaian risiko kredit oleh perbankan.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Aliran Likuiditas Menteri Purbaya Belum Maksimal Dorong Kredit Bank ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar