Artikel ini disusun oleh Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Jakarta: 1. Khaerina Andini 2. Stevany Indriyani 3. Syafina Hani Fadilah 4. Syarifah Salwaa Azzahra Di tengah gaya hidup anak muda yang makin konsumtif mulai dari kopi kekinian, langganan digital, hingga tren belanja impulsif investasi justru ikut naik daun lewat berbagai platform digital. Akses yang mudah membuat investasi terlihat simpel dan menjanjikan, namun di balik euforia tersebut masih banyak generasi muda yang ragu untuk memulai. Ketakutan akan risiko, maraknya penipuan investasi, serta minimnya literasi keuangan menjadi alasan utama mengapa sebagian anak muda lebih memilih menunda, meski sadar pentingnya mengelola keuangan sejak dini.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pada Desember 2024, inflasi tahunan tercatat sebesar 1,57 persen. Meskipun angka ini terlihat moderat, pergerakan harga yang lebih cepat daripada penyesuaian upah telah membuat banyak pekerja muda kesulitan untuk menyisihkan penghasilan untuk tabungan atau investasi. Akibatnya, ruang untuk membangun aset semakin terbatas, sehingga ketergantungan pada satu sumber penghasilan menjadi kelemahan dalam perencanaan keuangan pribadi.
Survei Nasional tentang Literasi Keuangan dan Inklusi menunjukkan bahwa meskipun akses ke layanan keuangan semakin luas, hal ini tidak secara otomatis memperkuat kemampuan keuangan. Hasil survei menunjukkan bahwa indeks literasi berada di sekitar 66,46 persen, sementara indeks inklusi mencapai 80,51 persen, yang menunjukkan bahwa banyak orang sudah menggunakan akun digital atau dompet digital tetapi tidak memahami fungsi, risiko, dan tujuan jangka panjang dari produk-produk tersebut. Namun, kesenjangan antara penggunaan dan pemahaman ini seringkali menyebabkan keputusan keuangan yang reaktif dan kurang terencana.
Dilihat dari peluang yang ada, sebenarnya ada keunggulan waktu nyata bagi generasi muda. Ada bukti internasional yang semakin meningkat bahwa pendidikan keuangan sejak usia dini terkait dengan kebiasaan menabung dan berinvestasi yang lebih konsisten, artinya memulai investasi sejak dini, bahkan dengan jumlah kecil memungkinkan manfaat bunga majemuk untuk terakumulasi secara signifikan dalam jangka panjang.
Namun, potensi tersebut dapat dengan mudah hilang tanpa tindakan yang tepat. Dua risiko utama perlu dipertimbangkan: kecenderungan konsumsi untuk meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan, dan penyebaran informasi keuangan digital yang tidak terverifikasi, keduanya meningkatkan kerentanan terhadap keputusan impulsif atau produk berisiko tinggi. Oleh karena itu, literasi investasi harus dipandang sebagai kompetensi praktis yang menggabungkan pengetahuan, kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara kritis, dan perlindungan bagi konsumen sehingga akses dan waktu benar-benar diubah menjadi pembentukan aset yang berkelanjutan.
Mengapa Investasi Penting di Usia Muda?
Salah satu alasan utama investasi penting dimulai sejak dini adalah waktu. Semakin awal seseorang berinvestasi, semakin panjang waktu bagi uang tersebut untuk berkembang. Efek bunga majemuk atau compounding membuat keuntungan yang diperoleh terus menghasilkan keuntungan baru.
Di usia muda, toleransi terhadap risiko juga relatif lebih fleksibel. Jika terjadi kesalahan, masih ada waktu untuk belajar dan memperbaiki strategi. Selain itu, investasi sejak dini membantu membentuk kebiasaan finansial yang sehat, seperti disiplin, konsisten, dan berpikir jangka panjang.
Memulai investasi lebih awal juga dapat memudahkan pencapaian tujuan keuangan, baik itu dana darurat, dana pensiun, pendidikan lanjutan, hingga membeli rumah. Dengan begitu, investasi tidak hanya berfungsi sebagai alat mencari keuntungan, tetapi juga sebagai fondasi menuju kondisi finansial yang lebih mapan.
Jenis Investasi yang Cocok Untuk Muda
Beberapa instrumen investasi yang relatif ramah bagi pemula antara lain:
-
Reksa Dana
Cocok untuk pemula karena dikelola oleh manajer investasi profesional. Modal awal kecil dan risikonya relatif terukur, terutama reksa dana pasar uang dan reksa dana saham. -
Saham Blue Chip
Saham dari perusahaan besar dan stabil. Meski fluktuatif, saham jenis ini cocok untuk investasi jangka panjang. -
Emas Digital
Investasi klasik yang kini semakin praktis. Bisa dimulai dari nominal kecil dan relatif stabil untuk menjaga nilai aset. -
Obligasi Ritel
Instrumen dengan risiko rendah dan imbal hasil tetap. Cocok bagi anak muda yang ingin investasi lebih aman. -
Deposito Digital
Risiko rendah dan mudah diakses, meski imbal hasilnya tidak terlalu besar.
Tips Aman Memulai Investasi
-
Pastikan platform terdaftar di OJK
Keamanan investasi sangat ditentukan oleh legalitas platform. Riset keuangan menunjukkan bahwa lembaga yang berada di bawah pengawasan regulator memiliki transparansi dan perlindungan investor yang lebih baik, sehingga mampu meminimalkan risiko penipuan. -
Mulai dari nominal kecil
Investor pemula disarankan memulai investasi dengan dana terbatas. Pendekatan ini membantu memahami mekanisme pasar dan mengelola risiko tanpa tekanan kerugian besar. -
Pahami profil risiko pribadi
Setiap orang memiliki toleransi risiko yang berbeda. Investasi yang sesuai dengan profil risiko akan lebih stabil dan mendukung pencapaian tujuan keuangan jangka panjang. -
Hindari FOMO atau ikut tren
Keputusan investasi yang didorong emosi dan tren sesaat sering berujung pada kerugian. Investor perlu berpegang pada analisis dan strategi yang rasional. -
Bedakan investasi dan trading
Investasi jangka panjang berfokus pada pertumbuhan nilai aset secara bertahap, sedangkan trading jangka pendek mengandalkan fluktuasi harga. Memahami perbedaannya membantu investor memilih strategi yang tepat.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
Bagi investor pemula, langkah awal dalam dunia investasi sering kali diwarnai oleh berbagai kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Kurangnya literasi keuangan serta emosi yang belum terkontrol menjadi faktor utama yang mendorong munculnya keputusan-keputusan keliru. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi saat seseorang mulai berinvestasi:
-
Mengikuti rekomendasi teman tanpa riset
Banyak investor pemula tergoda untuk membeli suatu instrumen hanya karena rekomendasi dari teman, influencer, atau grup percakapan media sosial. Tanpa memahami kinerja, risiko, serta prospek instrumen tersebut, keputusan investasi menjadi sangat spekulatif. Padahal, setiap individu memiliki tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan toleransi risiko yang berbeda. Tanpa riset mandiri, investasi yang terlihat menguntungkan bagi orang lain belum tentu sesuai dan aman bagi diri sendiri. -
Tergiur janji keuntungan cepat
Iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat kerap menjadi jebakan bagi investor pemula. Tawaran seperti “untung pasti” atau “return tinggi tanpa risiko” seharusnya menjadi tanda bahaya. Dalam dunia investasi, keuntungan selalu berbanding lurus dengan risiko. Ketika prinsip ini diabaikan, investor berpotensi terjebak dalam instrumen berisiko tinggi atau bahkan skema investasi ilegal yang merugikan secara finansial. -
Panik saat harga turun
Fluktuasi harga merupakan hal yang wajar dalam pasar keuangan. Namun, banyak investor pemula yang belum siap secara mental menghadapi penurunan nilai aset. Ketika harga turun, kepanikan sering kali mendorong keputusan menjual aset secara terburu-buru, sehingga kerugian justru terealisasi. Padahal, dalam investasi jangka panjang, penurunan harga bisa menjadi fase sementara sebelum pasar kembali pulih. -
Menaruh seluruh dana pada satu instrumen
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menempatkan seluruh dana investasi pada satu jenis instrumen saja loh teman teman! Strategi ini sangat berisiko karena jika instrumen tersebut mengalami penurunan tajam, seluruh portofolio akan terdampak. Prinsip diversifikasi seharusnya menjadi pegangan utama investor, yaitu menyebar dana ke beberapa instrumen berbeda untuk meminimalkan risiko dan menjaga stabilitas nilai investasi.
Secara keseluruhan, kesalahan-kesalahan tersebut umumnya muncul akibat kurangnya pemahaman tentang konsep dasar investasi serta pengaruh emosi dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, perlu banget nih! teman teman semua meningkatkan literasi keuangan dan mengelola emosi menjadi kunci penting agar investor pemula dapat berinvestasi secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Melek Investasi bukan soal menjadi kaya dalam waktu singkat, tetapi soal kesadaran finansial. Anak muda yang melek investasi memahami bahwa uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga untuk ditumbuhkan. Tidak perlu menunggu modal besar atau kondisi sempurna. Mulailah dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena keputusan finansial hari ini akan sangat menentukan keamanan dan kenyamanan hidup di masa depan.
Seperti sebuah kutipan yang sering disebutkan dalam literasi finansial: “Masa depanmu bukan ditentukan oleh seberapa besar kamu menghasilkan, tetapi seberapa bijak kamu menumbuhkannya.”
Komentar
Kirim Komentar