
aiotrade
– Sejumlah analis dari lembaga keuangan global, termasuk Standard Chartered, mengungkapkan bahwa Bitcoin (BTC) memiliki potensi untuk turun di bawah USD 100.000 atau sekitar Rp 1,65 miliar. Namun, mereka menilai koreksi ini bisa menjadi "peluang terakhir" sebelum terjadi reli besar berikutnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Geoff Kendrick, Kepala Riset Aset Digital Global di Standard Chartered, menyampaikan pandangannya dalam laporan resmi yang diterbitkan pada Jumat (24/10). Menurutnya, penurunan harga Bitcoin bisa menjadi fase transisi penting menuju rotasi modal besar-besaran dari emas ke aset digital.
Kendrick menjelaskan bahwa ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta pengetatan likuiditas global, saat ini memberi tekanan pada pasar aset tradisional seperti emas. Emas selama ini dianggap sebagai safe haven atau tempat aman bagi investor.
Ia melihat tanda-tanda awal bahwa para investor mulai memindahkan dana mereka dari emas ke aset digital. “Penjualan tajam emas kemarin bertepatan dengan lonjakan intraday di Bitcoin. Ini kemungkinan besar adalah aliran ‘jual emas, beli Bitcoin’,” ujar Kendrick dalam laporan resminya.
Menurutnya, dalam jangka menengah, ia memperkirakan lebih banyak pergerakan serupa. Setiap bukti tambahan akan menjadi sinyal bahwa level rendah Bitcoin sedang terbentuk.
Fenomena ini menandai perubahan besar dalam strategi investor global. Bitcoin mulai dipandang sebagai penyimpan nilai yang lebih dinamis dibandingkan emas. Meski pasar masih menghadapi volatilitas tinggi, pandangan jangka panjang Kendrick terhadap Bitcoin tetap optimistis.
Ia menilai tekanan likuiditas global dan ketidakpastian geopolitik justru menjadi katalis bagi kembalinya minat terhadap aset digital. “Saya kini melihat penurunan di bawah USD 100.000 tampak tak terhindarkan, meski penurunan itu mungkin hanya berlangsung singkat,” ujarnya.
“Bersiaplah untuk membeli di bawah USD 100.000, karena ini bisa jadi terakhir kalinya Bitcoin berada di level itu.” Pernyataan Kendrick memperkuat pandangan bahwa tekanan jangka pendek bukan akhir dari siklus bullish Bitcoin. Justru, kondisi ini bisa menjadi titik awal pergeseran besar dari aset konvensional menuju kripto, terutama jika harga emas mulai kehilangan momentumnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, emas menunjukkan kinerja yang lebih baik dibanding Bitcoin, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, Kendrick menilai tren tersebut mulai berbalik. Ia memprediksi bahwa begitu harga Bitcoin menstabilkan diri setelah koreksi, arus modal dari emas akan mengalir deras ke aset digital.
Pandangan ini sejalan dengan meningkatnya minat institusional terhadap kripto di tengah upaya diversifikasi portofolio global. Perubahan ini juga memperkuat persepsi bahwa Bitcoin kini bukan sekadar aset spekulatif, tetapi penyimpan nilai strategis di era digital.
Kendrick menutup analisanya dengan nada yakin: “Rotasi emas ke Bitcoin sudah dimulai. Bagi investor yang sabar, ini adalah awal dari siklus baru aset digital.”
Komentar
Kirim Komentar