Apakah Pabrikan Tiongkok Beralih ke Teknologi Hybrid?

Apakah Pabrikan Tiongkok Beralih ke Teknologi Hybrid?

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Apakah Pabrikan Tiongkok Beralih ke Teknologi Hybrid? yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Perubahan Strategi Pabrikan Otomotif Tiongkok ke Teknologi Hybrid

Setelah beberapa tahun fokus pada pengembangan mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV), kini banyak pabrikan asal Tiongkok mulai melirik teknologi hybrid. Perubahan ini tidak hanya sekadar tren, tetapi juga bagian dari strategi besar untuk menyesuaikan diri dengan pasar global yang memiliki regulasi beragam dan infrastruktur kendaraan listrik yang belum merata di semua negara.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Langkah menuju teknologi hybrid ini dianggap sebagai jembatan yang realistis antara kendaraan konvensional dan kendaraan listrik penuh. Dengan menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, mobil hybrid menawarkan efisiensi bahan bakar lebih baik, emisi yang lebih rendah, serta jarak tempuh yang lebih panjang tanpa ketergantungan total pada stasiun pengisian daya. Inilah yang membuat banyak konsumen dan produsen melihat hybrid sebagai solusi transisi yang ideal.

Dorongan dari Pasar Global


Salah satu alasan utama pabrikan Tiongkok mulai beralih ke hybrid adalah tekanan dari regulasi dan tarif ekspor di pasar luar negeri, terutama Eropa. Uni Eropa memberlakukan tarif impor lebih tinggi untuk mobil listrik murni (BEV) asal Tiongkok karena dianggap mendapat subsidi besar dari pemerintah. Namun, mobil hybrid tidak termasuk dalam kategori tersebut sehingga lebih mudah dipasarkan. Akibatnya, sejumlah produsen seperti BYD, Geely, dan SAIC mulai memperkuat lini hybrid mereka untuk menembus pasar Eropa dengan risiko ekonomi lebih rendah.

Selain itu, permintaan di pasar domestik juga mendorong tren ini. Di banyak wilayah Tiongkok, terutama di luar kota besar, jaringan pengisian daya belum merata. Konsumen pun masih khawatir soal jarak tempuh dan waktu pengisian baterai. Dengan hadirnya teknologi hybrid dan plug-in hybrid (PHEV), pengguna dapat menikmati tenaga listrik dalam perjalanan pendek dan tetap mengandalkan bensin untuk perjalanan jauh, tanpa khawatir kehabisan daya.

Strategi Teknologi


Bagi pabrikan Tiongkok, beralih ke hybrid juga membuka peluang baru dalam penguasaan teknologi mesin pembakaran internal yang efisien. BYD, misalnya, kini mengembangkan sistem hybrid “DM-i” yang diklaim mampu menempuh jarak hingga 1.200 km dalam satu kali pengisian dan pengisian bahan bakar penuh.

Geely dan Chery juga tidak ketinggalan dengan meluncurkan varian plug-in hybrid yang menyasar pasar ekspor. Investasi ini menunjukkan bahwa hybrid bukan sekadar alternatif sementara, tetapi strategi jangka menengah untuk memperluas pasar sambil tetap mendukung target emisi karbon rendah.

Secara ekonomi, biaya produksi mobil hybrid juga lebih rendah dibandingkan mobil listrik murni karena tidak membutuhkan baterai berkapasitas besar. Hal ini membuatnya lebih mudah dijangkau oleh konsumen kelas menengah, baik di Tiongkok maupun di negara berkembang seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Masa Depan Transisi Otomotif Tiongkok


Melihat tren yang berkembang, transisi pabrikan Tiongkok ke teknologi hybrid tampaknya akan semakin kuat dalam beberapa tahun ke depan. Analis industri memprediksi bahwa penjualan mobil hybrid di Tiongkok bisa melampaui mobil listrik murni pada 2026, seiring meningkatnya permintaan di segmen menengah. Namun, langkah ini bukan berarti meninggalkan BEV sepenuhnya, melainkan memperluas pilihan agar sesuai dengan kondisi pasar global yang berbeda-beda.

Dengan pendekatan yang fleksibel dan agresif, pabrikan mobil Tiongkok kini bukan hanya menantang dominasi merek Barat, tetapi juga menetapkan standar baru dalam efisiensi dan inovasi kendaraan masa depan. Dalam waktu dekat, kita mungkin akan melihat lebih banyak model hybrid buatan Tiongkok di jalan-jalan Asia maupun Eropa.

Apakah Perawatan Mobil ICE Berbeda dengan Mobil Hybrid?

Perawatan mobil dengan mesin pembakaran internal (ICE) dan mobil hybrid memiliki perbedaan signifikan. Mesin bensin pada mobil ICE memerlukan perawatan rutin seperti penggantian oli, filter udara, dan busi. Sementara itu, mobil hybrid memiliki komponen tambahan seperti baterai dan motor listrik yang memerlukan perhatian khusus. Penggantian baterai, misalnya, bisa menjadi biaya yang lebih mahal jika dilakukan di luar garansi. Selain itu, sistem hybrid biasanya dirancang untuk bekerja secara efisien, sehingga perawatan lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional. Namun, pemilik mobil hybrid perlu memastikan bahwa sistem elektronik dan baterai dalam kondisi baik agar performa tetap optimal.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar