
aiotrade, JAKARTA - Momentum kenaikan bursa Amerika Serikat (AS) pekan ini akan diuji oleh berbagai faktor yang saling terkait. Antara lain, tekanan suku bunga, ketegangan dagang, dan hasil kinerja perusahaan-perusahaan besar. Selain itu, meningkatnya ketegangan antara AS dan China serta penutupan sebagian pemerintahan juga menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi pada Jumat lalu, dengan kenaikan sekitar 36% sejak posisi terendahnya pada April. Secara tahunan, indeks acuan ini sudah naik lebih dari 15%. Chris Fasciano, Chief Market Strategist di Commonwealth Financial Network, mengatakan bahwa pasar telah naik selama beberapa bulan tanpa adanya koreksi signifikan. Hal ini berpotensi meningkatkan volatilitas dalam waktu dekat.
Yang perlu kita lihat adalah kinerja laba perusahaan yang tetap kuat dan narasi positif dari pelaku korporasi soal ekonomi. Kekhawatiran baru muncul ketika kepercayaan konsumen atau dunia usaha mulai menurun, ujarnya.
Musim laporan keuangan kuartal III/2025 berjalan solid sejauh ini, meskipun ada kekecewaan dari beberapa emiten besar seperti Netflix dan Texas Instruments. Berdasarkan data LSEG IBES per Jumat pekan lalu, laba perusahaan di indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 10,4% dibandingkan tahun lalu. Sekitar 87% perusahaan yang telah merilis laporan berhasil melampaui perkiraan laba analis, sementara 82% mencatat pendapatan di atas ekspektasi keduanya lebih tinggi dari rata-rata historis.
Pekan ini akan menjadi periode tersibuk musim ini dengan lebih dari 170 perusahaan dijadwalkan merilis kinerja, termasuk lima anggota Magnificent Seven Microsoft, Apple, Alphabet, Amazon, dan Meta Platforms. Meski keunggulan profitabilitas kelompok tersebut terhadap sektor lain mulai menyempit, mereka masih diproyeksikan mencatat kenaikan laba 16,6%, dibandingkan 8,1% untuk perusahaan lain di S&P 500.
Faktor yang paling berpengaruh hingga akhir tahun kemungkinan adalah laporan keuangan raksasa teknologi ini. Ekspektasi pasar terhadap hasil mereka sangat tinggi, kata Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise Financial.
Fokus ke The Fed
Sementara itu, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu mendatang, dari kisaran saat ini 4%4,25%, menyusul data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Namun, karena pasar telah memperhitungkan langkah tersebut, perhatian investor akan tertuju pada sinyal kebijakan berikutnya dari Ketua The Fed Jerome Powell. Bank sentral juga diperkirakan akan memangkas suku bunga kembali pada pertemuan Desember mendatang.
Dampak terbesar akan terjadi jika The Fed memberi indikasi bahwa mereka akan keluar dari jalur pemangkasan suku bunga, kata Dominic Pappalardo, Chief Multi-Asset Strategist di Morningstar Wealth.
Keputusan The Fed kali ini juga terhambat oleh minimnya data ekonomi resmi akibat penutupan sebagian pemerintah sejak 1 Oktober, yang menyebabkan penundaan rilis data ketenagakerjaan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
Art Hogan, Chief Market Strategist di B Riley Wealth, memperingatkan bahwa semakin lama penutupan ini berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Semakin lama berlanjut, semakin sulit bagi pasar untuk mengabaikannya, ujarnya.
Ketegangan Dagang ASChina
Selain faktor domestik, ketegangan antara AS dan China kembali membayangi pasar setelah beberapa bulan relatif tenang. Awal bulan ini, Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif secara signifikan terhadap China mulai 1 November, sebagai respons atas pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing. Investor kini menanti hasil pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam beberapa hari mendatang, yang diharapkan dapat menurunkan eskalasi ketegangan.
Jika tarif benar-benar naik ke level yang diancamkan Trump, volatilitas pasar kemungkinan meningkat tajam dan respons pasar bisa negatif, terutama jika investor menilai kebijakan itu akan berlangsung lama, ujar Saglimbene.
Komentar
Kirim Komentar