Ayah Ambil Rapor Anak: Hakim Ingin Dekat dengan Putrinya

Ayah Ambil Rapor Anak: Hakim Ingin Dekat dengan Putrinya

Jagat maya sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Ayah Ambil Rapor Anak: Hakim Ingin Dekat dengan Putrinya. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kehadiran Ayah dalam Pengambilan Rapor Sekolah

Pada akhir tahun 2025, pengambilan rapor sekolah menjadi momen penting bagi banyak orang tua. Salah satu yang mengalami pengalaman ini adalah Hakim (41), seorang ayah yang mengambil peran langsung dalam proses pengambilan rapor putrinya di sekolah dasar. Pada Jumat, 19 Desember 2025, ia datang ke sekolah anak perempuannya yang berada di kawasan Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Hakim tiba di sekolah pagi hari dan langsung menerima dokumen laporan pembelajaran yang dibungkus dengan map tebal. Setelah itu, ia dan putrinya segera pulang. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil meninggalkan area sekolah. Tangan kiri Hakim menggenggam tangan kanan putrinya, sedangkan tangan kanannya memegang map rapor. Di bahunya tergantung tas ransel sang anak.

Hakim tampak tersenyum setelah melihat hasil belajar putrinya yang menunjukkan perkembangan positif dibandingkan semester sebelumnya. Ia menyampaikan bahwa ia merasa puas dengan peningkatan yang terlihat. "Ya puas, Alhamdulillah so far bagus sih, ada peningkatan dari sebelumnya," ujar Hakim saat ditemui di sekolah anaknya.

Sebelumnya, biasanya istri Hakim yang mengambil rapor anak-anak mereka. Namun kali ini, ia memilih untuk turut serta di tengah kesibukannya agar lebih terlibat dalam keseharian pendidikan anak. "Namanya Bapak ya, kesibukannya penuh. Jadi, ingin mengetahuilah dari segi kesehariannya anak-anak di sekolah gitu," jelas dia.

Hakim menjelaskan bahwa pembagian tugas dilakukan bersama istrinya. Sang istri mengambil rapor anak pertama, sementara ia mengambil rapor anak keduanya. Meski belum mengetahui adanya program pemerintah yang mendorong ayah untuk mengambil rapor anak, Hakim mendukung inisiatif tersebut karena dinilai dapat meningkatkan keterlibatan ayah dalam perkembangan anak.

"Karena kalau dilihat dari kondisi ya, biasanya seorang ayah sibuk dengan waktu bekerja ya. Jadi, waktu untuk anak tuh memang agak sedikit gitu ya. Cukup bagus sih, seperti itu ya. Jadi, terdorong gitu ya," tutur dia.

Hakim bersyukur dapat mengambil peran langsung kali ini. Ia mengaku momen tersebut memberinya kesempatan untuk berbincang lebih dekat dengan putrinya selama perjalanan pulang. Usai meninggalkan area sekolah, Hakim dan putrinya berjalan menuju sepeda motor yang terparkir tak jauh dari gerbang. Ia tetap menggenggam tangan putrinya hingga membantu memakaikan helm sebelum keduanya bertolak pulang ke rumah.

Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah

Sebelumnya, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara resmi meluncurkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah. Program ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kemendukbangga/BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 tentang Gerakan Anak ke Sekolah yang ditandatangani Kepala BKKBN Wihaji pada 1 Desember 2025.

Dalam surat edaran tersebut, BKKBN menyatakan bahwa Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah bertujuan memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini. Kehadiran ayah pada momen penting di sekolah diharapkan dapat membangun kedekatan emosional yang berdampak positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar.

Gerakan ini juga menjadi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia, dari yang sebelumnya terpusat pada peran ibu menjadi lebih kolaboratif dan setara. Sejalan dengan mandat Kemendukbangga/BKKBN dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi emas, keterlibatan ayah dalam pendidikan anak dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar