
Industri perbankan nasional mengalami pemulihan yang signifikan dalam penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) seiring dengan ekspansi keuangan pemerintah dan pelonggaran likuiditas oleh Bank Indonesia (BI). Kondisi ini mencerminkan stabilitas pasar yang mulai kembali berjalan. Bahkan, sejumlah bank digital berhasil mencatat lonjakan simpanan nasabah secara tahunan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21–22 Oktober 2025, BI melaporkan bahwa pertumbuhan DPK industri perbankan mencapai 11,18% secara tahunan (YoY). Angka ini menunjukkan percepatan yang cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, ketika pertumbuhan DPK masih berada di level satu digit.
Ekspansi Fiskal dan Likuiditas Dorong DPK Tumbuh
Peningkatan DPK tersebut sejalan dengan ekspansi keuangan pemerintah, antara lain melalui penempatan dana pemerintah pada sejumlah bank besar. Di sisi lain, BI juga melanjutkan kebijakan pelonggaran likuiditas dan memberikan insentif makroprudensial untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan.
Menariknya, bank digital yang tidak termasuk penerima dana pemerintah juga menunjukkan kinerja DPK yang kuat. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital serta strategi agresif yang diterapkan oleh bank-bank digital dalam mengakuisisi nasabah baru.
Allo Bank: Kompetisi Suku Bunga Mulai Mereda
Salah satu bank digital yang mencatat pertumbuhan signifikan adalah Allo Bank. Berdasarkan laporan keuangan per September 2025, total DPK Allo Bank mencapai Rp 8,78 triliun, naik 78,3% YoY dibandingkan Rp 4,93 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, menilai bahwa penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara turut membantu menurunkan tekanan kompetisi suku bunga simpanan yang sempat memanas di awal tahun.
"Kami terus menjaga tingkat DPK seiring pertumbuhan kredit yang bisa disalurkan Bank, dengan tetap menjaga biaya DPK agar bank tetap bersaing tapi tidak membebani kondisi keuangan bank," ujar Ganda kepada aiotrade, Kamis (23/10/2025).
Krom Bank: Persaingan DPK Masih Ketat
Berbeda pandangan, Krom Bank menilai bahwa kompetisi dalam menghimpun simpanan nasabah justru semakin ketat menjelang akhir tahun 2025. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menjelaskan bahwa beberapa faktor turut memengaruhi kondisi tersebut, seperti penurunan BI Rate, meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi alternatif seperti emas, serta tingginya kebutuhan likuiditas perbankan untuk mendukung ekspansi kredit.
Meski demikian, Anton menegaskan bahwa pihaknya tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan. "Krom Bank optimis pertumbuhan DPK akan tetap terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan DPK industri pada bulan September 2025 yang mengalami peningkatan," ungkapnya.
Krom Bank mencatat total DPK sebesar Rp 6,97 triliun per September 2025, atau tumbuh 212% YoY dibandingkan Rp 2,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Superbank: Ekosistem Digital Jadi Penggerak
Kinerja impresif juga dicatat oleh Superbank, yang melaporkan pertumbuhan DPK sebesar 203% YoY menjadi Rp 9,8 triliun. Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyebutkan bahwa peningkatan ini mencerminkan kepercayaan publik yang semakin besar terhadap layanan digital bank tersebut.
"Integrasi ekosistem yang kuat menjadi penggerak utama dalam memperluas akses dan mempercepat inklusi keuangan digital di masyarakat," ujar Tigor.
Komentar
Kirim Komentar