BI prediksi kredit perbankan capai 8 persen akhir 2025

BI prediksi kredit perbankan capai 8 persen akhir 2025

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai BI prediksi kredit perbankan capai 8 persen akhir 2025 menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


Pertumbuhan kredit perbankan di akhir tahun ini diproyeksikan meningkat, menurut Bank Indonesia (BI). Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit pada Desember 2025 diperkirakan mencapai angka di atas 8 persen. Hal ini disampaikan oleh Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro, dalam acara Taklimat Media bertajuk Asesmen Efektivitas Kebijakan Makroprudensial dalam Mendorong Pertumbuhan Kredit di 2025.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit Perbankan

Pada November 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,74 persen. Dengan peningkatan ini, BI berharap pertumbuhan kredit bisa mencapai target sebesar 8 persen pada akhir tahun. Solikin menyatakan bahwa proyeksi tersebut akan didorong dari sisi permintaan maupun penawaran.

“Kita melihat faktor-faktor dari sisi demand dan supply yang memengaruhi pertumbuhan kredit,” ujarnya. Target pertumbuhan kredit perbankan untuk tahun 2025 ditetapkan di kisaran 8—11 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 10—12 persen. Realisasi pertumbuhan kredit pada 2024 tercatat sebesar 10,39 persen, berada dalam rentang target.

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kredit

Meskipun pertumbuhan kredit pada 2025 tidak sekuat 2024, Solikin mengungkapkan bahwa pertumbuhan tetap baik. BI mengakui bahwa permintaan kredit masih belum kuat. Hal ini dipengaruhi oleh perilaku wait and see pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang lambat.

Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 tercatat besar, yaitu sebesar Rp 2.509,4 triliun atau 23,18 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan perbankan dinilai memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) meningkat menjadi 29,67 persen, serta Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 12,03 persen (yoy) pada November 2025.

Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit

Perkembangan tersebut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) BI, serta ekspansi keuangan pemerintah, termasuk penempatan dana pemerintah pada sejumlah bank besar. Minat penyaluran kredit secara umum masih terjaga, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat meningkatnya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.

Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM pada November 2025 yang tercatat terkontraksi sebesar 0,64 persen (yoy).

Target dan Strategi Ke depan

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan 2025 berada pada batas bawah kisaran 8—11 persen (yoy) dan akan meningkat pada 2026. Untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan sekaligus memperbaiki struktur suku bunga, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Tantangan dan Peluang

Dari sisi permintaan, BI menghadapi tantangan dalam meningkatkan minat pelaku usaha terhadap kredit. Namun, dari sisi penawaran, kapasitas perbankan masih cukup memadai. BI juga terus memantau kondisi pasar dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan kredit. Dengan koordinasi yang baik antara BI, pemerintah, dan lembaga keuangan lainnya, diharapkan pertumbuhan kredit dapat tercapai sesuai target.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai BI prediksi kredit perbankan capai 8 persen akhir 2025 ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar