
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Harga Bitcoin Tetap Stabil di Sekitar USD 109.300
Harga Bitcoin (BTC) saat ini berada di kisaran USD 109.300 atau sekitar Rp 1,8 miliar. Meskipun pasar mengalami gejolak yang belum mereda sejak aksi jual besar pada 10 Oktober lalu, harga BTC tetap bertahan di level tersebut. Para analis menilai bahwa fase saat ini menjadi titik krusial yang akan menentukan apakah pasar Kripto akan melanjutkan reli atau justru memasuki koreksi besar.
Fase "Late Bull Phase" untuk Bitcoin dan S&P 500
Menurut analis pasar keuangan Axel Adler, baik Bitcoin maupun indeks S&P 500 kini berada dalam fase yang disebutnya sebagai “late bull phase”, yaitu fase akhir dari siklus kenaikan sebelum potensi pendinginan pasar. Ia menjelaskan bahwa S&P 500 mencatat imbal hasil 52 minggu sebesar +13%, menandakan pasar global masih dalam suasana risk-on, dengan investor tetap berani menaruh dana pada aset berisiko seperti saham dan Kripto.
Korelasi antara Bitcoin dan S&P 500 saat ini berada di 0,26, menunjukkan bahwa keduanya masih bergerak ke arah yang sama, meskipun tidak sepenuhnya seirama. Menurut Adler, faktor makro seperti kebijakan moneter dan kinerja perusahaan masih memengaruhi Bitcoin, namun dinamika internal seperti likuiditas dan posisi derivatif juga menjadi penentu penting.
Potensi Dampak dari Perubahan Sentimen Pasar Saham
Adler mengingatkan bahwa jika sentimen pasar saham mendingin akibat faktor geopolitik atau pengetatan moneter, dampaknya bisa langsung terasa di pasar Kripto. Ia menilai bahwa kuartal keempat 2025 akan menjadi masa transisi penting bagi pasar tradisional dan aset digital. Setelah hampir dua tahun mengalami pertumbuhan hasil dan kebijakan moneter ketat, fokus kini beralih dari ekspektasi menuju kinerja nyata perusahaan (earnings).
Hingga saat ini, 58 perusahaan besar yang sudah melaporkan kinerja kuartal ketiga justru mengalahkan perkiraan analis dengan rata-rata margin 571 basis poin. Pertumbuhan laba yang awalnya diprediksi 7% kini meningkat menjadi 8%, memperkuat pandangan bahwa pasar masih berada di tahap akhir dari siklus bullish.
Risiko Tersembunyi di Fase Ini
Namun, fase ini juga menandai munculnya risiko tersembunyi. Mulai dari valuasi yang terlalu tinggi hingga penurunan likuiditas global. Adler menilai, pola ini mencerminkan optimisme jangka pendek dengan fondasi yang rapuh. Ia menyampaikan bahwa kondisi saat ini menunjukkan perilaku pasar di akhir siklus bullish. Jika laporan keuangan terus positif, momentum bisa berlanjut. Tapi jika sentimen global memburuk, koreksi besar bisa terjadi, termasuk di Bitcoin.
Analisis Teknis Grafik Tiga Hari Bitcoin
Secara teknikal, grafik tiga hari Bitcoin menunjukkan pola konsolidasi antara USD 106.000 (Rp 1,749 miliar) dan USD 117.500 (Rp 1,94 miliar), dengan area atas menjadi resistance kuat sejak pertengahan September. Level USD 117.500 merupakan titik volume tertinggi (Point of Control) dari periode Agustus–September dan menjadi batas yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Jika Bitcoin berhasil menembus level ini, harga berpotensi menuju USD 123.000 (Rp 2,03 miliar), di mana terdapat banyak likuiditas dan posisi short yang bisa dilikuidasi. Sebaliknya, penolakan di area USD 111.000–USD 112.000 (Rp 1,83–Rp 1,85 miliar) dapat memperpanjang fase konsolidasi atau bahkan menimbulkan koreksi ke USD 105.000 (Rp 1,73 miliar).
Kesimpulan: Bitcoin Berada di Posisi Netral-Bullish
Adler menyimpulkan bahwa Bitcoin saat ini berada di posisi netral–bullish, namun kepercayaan pasar masih rapuh. Ia menyatakan bahwa beberapa sesi ke depan akan menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan reli, atau justru menghadapi fase pendinginan bersama pasar global.
Komentar
Kirim Komentar