Gangguan Operasional LRT Jabodebek Menjadi Sorotan
Gangguan operasional LRT Jabodebek kembali menjadi perhatian publik setelah ratusan penumpang harus turun di tengah jalan pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Meski kejadian ini memicu kekhawatiran warganet, beberapa penumpang mengaku sudah terbiasa dengan insiden serupa sebelumnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Beberapa penumpang mengatakan bahwa kereta berhenti mendadak di tengah rute bukanlah hal baru bagi mereka. Salah satu dari mereka adalah Amidah Tsaliswati, seorang pemuda berusia 20 tahun yang memiliki akun X @matchamangoez. Ia mengungkapkan bahwa insiden tersebut sudah tiga kali ia alami selama menjadi penumpang LRT.
Amidah berangkat pada pukul 08.30 WIB dari Stasiun LRT Jati Mulya menuju Stasiun LRT Cikoko. Namun, karena kejadian yang terjadi, ia harus berjalan kaki di jalur atas rel hingga tiba di Stasiun Bekasi pada pukul 09.50 WIB.
Tiga Kali Alami LRT Mogok
Amidah mengatakan bahwa insiden tersebut bukan yang pertama kalinya. Dalam pengalamannya, kejadian seperti ini sudah terjadi tiga kali. Namun, menurut dia, insiden terakhir kali lebih parah dibandingkan sebelumnya.
"Kemarin itu aku merasa lebih buruk dibandingkan kejadian sebelumnya. Sebelumnya, kereta hanya berhenti beberapa menit lalu kembali berjalan. Atau kadang kita disuruh pindah jalur," ujarnya.
Menurut Amidah, kejadian sebelumnya tidak sampai membuat penumpang harus turun dan berjalan di atas rel. Namun, dalam insiden terbaru, banyak penumpang diperintahkan untuk keluar dan berjalan di jalur atas rel.

Penumpang Tidak Menyangka Akan Disuruh Jalan di Jalur Atas Rel
Anastasya Gisselle, seorang wanita berusia 32 tahun, juga mengalami pengalaman serupa. Meskipun kejadian LRT mogok sudah terjadi beberapa kali, ini pertama kalinya ia harus turun dan berjalan di atas walkway.
"Saya pikir akan sama seperti sebelumnya, yaitu kereta berhenti di stasiun dan kami hanya perlu menunggu. Tapi ternyata, saya harus turun dan berjalan di pinggir rel," ujarnya.
Anastasya mengungkapkan bahwa ia tidak pernah membayangkan akan mengalami situasi seperti itu. Menurutnya, kejadian kemarin cukup mengejutkan dan membuatnya merasa tidak nyaman.

LRT Harus Lakukan Evaluasi Besar-Besaran
Amidah menyampaikan bahwa ia hanya menerima pengembalian uang tiket sebagai kompensasi dari pihak LRT. Ia mengaku tidak puas dengan perlakuan yang diberikan.
"Kalau kompensasi, saya hanya dapat refund tiket. Tidak ada tambahan apa pun. Saya merasa tidak puas, karena harga tiket LRT cukup mahal, terutama saat jam sibuk," ujarnya.
Menurut Amidah, harga tiket yang mencapai Rp20 ribu selama jam sibuk dinilainya tidak sebanding dengan kenyamanan dan keselamatan yang diberikan. Ia menilai insiden terbaru sangat berbahaya, terutama karena banyak ibu-ibu yang membawa anak kecil hingga bayi.

Permintaan Evaluasi dari Penumpang
Amidah menegaskan bahwa LRT perlu melakukan evaluasi besar-besaran jika ingin menjaga kepercayaan para penumpang. Menurutnya, kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali.
"Jika kejadian ini terulang lagi, saya merasa sangat kacau. Kami benar-benar butuh evaluasi yang serius," katanya.
Pengalaman buruk yang dialami oleh para penumpang menunjukkan bahwa sistem LRT Jabodebek masih perlu diperbaiki. Dengan adanya kejadian serupa yang berulang, penting bagi pihak terkait untuk segera melakukan langkah-langkah perbaikan agar keamanan dan kenyamanan penumpang tetap terjaga.
Komentar
Kirim Komentar