Strategi PLN dalam Menjaga Harga Listrik yang Terjangkau
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menekankan bahwa strategi menjaga harga listrik tetap terjangkau bukan hanya sekadar isu tarif, tetapi juga menjadi alat ekonomi penting untuk menarik investasi baru ke Indonesia. Ia menjelaskan bahwa keterjangkauan energi akan berdampak langsung pada kemampuan negara dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian nasional, terlebih di tengah tantangan global saat ini.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
“Bagaimana kita bisa menyediakan energi yang terjangkau? Karena dengan adanya energi yang terjangkau ini, akan muncul investasi baru. Dan dari investasi tersebut, akan lahir lapangan kerja. Ini bisa membantu mengatasi kemiskinan, kelaparan, serta menciptakan kemakmuran dan mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Darmawan dalam 100 CEO Forum di ICE BSD, Rabu (26/11).
Ia menegaskan bahwa seluruh strategi energi PLN harus mampu menjawab dua tuntutan sekaligus, yaitu menjaga harga listrik tetap ramah bagi industri dan masyarakat, serta menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai target nasional.

Penambahan Pembangkit Berbasis EBT dan Nuklir
Darmawan menjelaskan bahwa saat ini PLN sedang melakukan transformasi energi menuju pembangkit rendah karbon. “Penambahan pembangkit selama 10 tahun sebanyak 76 persen adalah berbasis energi baru terbarukan dan nuklir,” katanya.
Arah baru dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tersebut, menurut Darmawan, merupakan mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang meminta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan lingkungan.
Investasi yang Besar untuk Transformasi Energi
Darmawan memaparkan bahwa agenda besar ini tidak dapat berjalan tanpa dukungan pendanaan yang kuat. Ia memproyeksikan bahwa PLN membutuhkan investasi sekitar Rp 3.000 triliun selama 10 tahun.
“Kami membutuhkan investasi sekitar Rp 3.000 triliun selama 10 tahun,” ujarnya.
PLN menilai perlu adanya ekosistem investasi yang lebih kondusif. Mulai dari kepastian regulasi, kolaborasi lintas sektor, hingga dukungan pemerintah dan pelaku industri.
Menurut Darmawan, kerja sama yang melibatkan pelaku usaha, pemerintah, hingga mitra internasional akan menjadi fondasi percepatan transisi energi nasional. “Kita tidak akan bekerja sendirian, tetapi kita bekerja bersama-sama penuh dengan kekompakan,” tegasnya.

Kolaborasi sebagai Kunci Sukses
Darmawan menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci utama dalam mewujudkan transformasi energi yang berkelanjutan. Ia menilai bahwa sinergi antara pihak swasta, pemerintah, dan mitra internasional sangat diperlukan untuk mendukung proyek-proyek besar dalam sektor energi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Peningkatan kepastian regulasi agar investor merasa aman dan yakin untuk berinvestasi.
- Penguatan kerja sama lintas sektor, baik dalam hal teknologi maupun sumber daya manusia.
- Dukungan pemerintah dalam bentuk insentif atau kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan dan nuklir.
Dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, PLN optimis mampu mencapai target penambahan pembangkit berbasis energi baru terbarukan dan nuklir, sekaligus menjaga harga listrik yang terjangkau bagi masyarakat dan industri.
Komentar
Kirim Komentar