
Makassar – Potensi desa wisata di Sulawesi Selatan terus mendapat perhatian. Tidak hanya karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena peluang besar yang dimilikinya untuk menarik investasi asing. Hingga 2025, provinsi ini memiliki lebih dari 600 desa wisata yang terus berkembang.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Sektor pariwisata dipandang mampu menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Terlebih, pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius dengan capaian 8 persen pada 2029 mendatang. Menanggapi hal ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan menilai desa wisata memiliki potensi besar untuk memperkuat sektor riil dan menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Deded Tuwanda, Ekonom Senior Kpw BI Sulsel, dalam acara Capacity Building bertajuk "Kiprah Bank Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah" di Makassar, Rabu (22/10/2025), malam, menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan sangat kuat dengan destinasi-destinasinya. Masing-masing desa wisata memiliki karakteristik keunggulannya sendiri-sendiri.
Menurut Deded, potensi ekonomi di tingkat daerah tidak bisa hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tetapi juga lewat dorongan investasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, investasi terutama dari sektor riil menjadi kunci untuk memperkuat ekonomi lokal.
Untuk mendorong hal itu, BI bersama pemerintah daerah terus berupaya menyiapkan proyek-proyek investasi yang siap ditawarkan kepada calon investor, termasuk dari luar negeri. Deded menjelaskan bahwa jika ada proyek investasi yang siap ditawarkan, maka dapat disampaikan kepada investor, terutama investor asing.
"Kalau investor asing masuk ke sektor riil, tentu modalnya tidak gampang keluar seperti di surat berharga atau saham. Itu bagus juga karena berimplikasi positif pada nilai tukar rupiah," tambahnya.
Kekayaan desa wisata di Sulawesi Selatan harus menjadi fokus potensial karena setiap desa memiliki daya tarik tersendiri mulai dari panorama alam hingga budaya lokal yang unik. Contohnya, Bira dengan pantai pasir putihnya, atau Toraja dengan kekuatan budayanya. Tinggal bagaimana membuat atraksi yang berkelanjutan, sehingga wisatawan bisa stay lebih lama dan melakukan spending di daerah. Hal ini akan berdampak positif pada ekonomi lokal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Muhammad Arafah, menyebut bahwa pengembangan desa wisata di Sulsel terus mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021 jumlahnya hampir 200, kemudian bertumbuh menjadi 400 lebih pada 2022, dan 500 lebih di 2023. Tahun 2024 sudah lebih dari 600 desa wisata.
Menurut Arafah, pertumbuhan ini tak lepas dari potensi alam dan budaya Sulsel yang luar biasa, serta dukungan infrastruktur yang terus ditingkatkan. Ia menambahkan, Disbudpar Sulsel juga aktif melakukan pendampingan dan promosi untuk meningkatkan daya tarik desa wisata.
Ada lima pilar yang diterapkan dalam mengembangkan pariwisata. Salah satunya adalah pendampingan, di mana hampir setiap saat desa wisata ini diundang untuk mendorong perkembangan pariwisata. Dari sisi promosi, daya tarik desa wisata juga digencarkan.
Lebih jauh, Arafah menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat infrastruktur pariwisata agar aksesibilitas ke desa wisata semakin mudah. Meski pariwisata mencoba dikelola agar aksesibel, banyak sisi aksesibilitas masih belum terjangkau karena jalannya yang rusak.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Unit Kehumasan BI DIY, Maya Mulyawati, turut menilai bahwa Sulsel memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor pariwisata. Ia pun sepakat terkait adanya sinergi antara pemerintah daerah dan BI dalam mengembangkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi.
Maya menilai Sulawesi Selatan bukan hanya Indonesia bagian Timur tetapi juga merupakan simpul penting dalam jaringan ekonomi nasional, dengan pelabuhan internasional, konektivitas logistik yang kuat serta kekayaan budaya dan kuliner yang mendunia. Makassar mempunyai posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan beberapa destinasi unggulan tersebut, tentunya ia berharap bisa menginspirasi, terkait bagaimana upaya Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga bagaimana ekonomi tetap berkembang terutama di pariwisata.
Meski BI berfungsi utama menjaga stabilitas moneter, di tingkat daerah BI juga memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor riil seperti pariwisata termasuk melalui Desa wisata yang kini bukan hanya sarana promosi budaya dan pariwisata, melainkan juga instrumen ekonomi yang didorong mampu menarik investasi asing dan memperluas lapangan kerja di daerah.
"BI mempunyai peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi termasuk sektor pariwisata," katanya.
Komentar
Kirim Komentar