Dulu Dihujat Seperti Onana, Kini Bek Rp605 Miliar Jadi Senjata Rahasia Amorim

Dulu Dihujat Seperti Onana, Kini Bek Rp605 Miliar Jadi Senjata Rahasia Amorim

Dunia olahraga tengah menjadi sorotan hari ini. Terkait Dulu Dihujat Seperti Onana, Kini Bek Rp605 Miliar Jadi Senjata Rahasia Amorim, para fans tentu sudah menanti kepastian beritanya. Simak informasi terbarunya.
Dulu Dihujat Seperti Onana, Kini Bek Rp605 Miliar Jadi Senjata Rahasia Amorim

Kebangkitan Pemain Ternyata, Kekalahan Tim Masih Terasa

Diogo Dalot telah berhasil bertransformasi dari seorang pemain yang dianggap sebagai beban tim menjadi bagian penting dari skema taktis Manchester United di bawah arahan Ruben Amorim. Perubahan ini menunjukkan bahwa meski sistem yang diterapkan pelatih asal Portugal itu masih membutuhkan penyesuaian, beberapa individu pemain mulai menemukan kembali performa terbaik mereka.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Mason Mount dan Matthijs de Ligt juga menunjukkan penampilan yang mengesankan dalam sistem 3-4-2-1 yang diterapkan oleh Amorim. Tingkat kemenangan United meningkat hingga 71,4 persen saat Mount, yang diboyong dengan biaya Rp1,13 Triliun, turun sebagai starter. Performa ini memberikan harapan bagi fans klub yang sebelumnya merasa kecewa dengan hasil yang tidak sesuai ekspektasi.

Meskipun demikian, performa tim secara keseluruhan masih belum mampu membawa United ke papan atas klasemen Liga Inggris. Bahkan, klub sempat melorot ke posisi bawah klasemen. Dalam satu tahun kepemimpinan Amorim, kinerja tim seperti roller coaster tanpa sabuk pengaman. Meskipun kemenangan atas City dan Liverpool memberikan euforia sesaat, statistik yang menunjukkan 22 kekalahan dari 59 laga adalah tamparan keras bagi publik Old Trafford.

Di tengah ketatnya sistem 3-4-2-1 yang diterapkan oleh Amorim, muncul narasi menarik tentang kebangkitan individu yang sempat dianggap "sampah". Diogo Dalot adalah salah satunya. Dengan nilai pasar mencapai Rp605 Miliar (€35 Juta), Dalot sempat menjadi sasaran kritik tajam. Penampilannya yang tidak konsisten sebagai bek sayap kiri membuatnya sering duduk di bangku cadangan, termasuk saat melawan Tottenham—sebuah momen yang ia akui sangat menyakitkan.

Namun, disinilah emosi manusiawi seorang atlet diuji. Alih-alih merajuk, Dalot berlatih mandiri, mengasah insting menyerang, dan belajar bagaimana menjadi "peluru" di koridor kiri sistem Amorim. Hasilnya? Desember menjadi bulan pembuktian. Gol indah ke gawang West Ham dan assist brilian untuk Bryan Mbeumo saat melawan Wolves adalah bukti sahih bahwa kerja keras tidak mengkhianati hasil. Dalot kini bukan lagi bek sayap yang sekadar lari naik-turun, ia adalah pencipta peluang yang efisien.

Selain Dalot, Mason Mount yang dibeli seharga Rp1 Triliun (£55 Juta atau sekitar Rp1,13 Triliun) mulai menunjukkan mengapa United rela menebusnya mahal dari Chelsea. Dengan tingkat kemenangan 71,4 % saat ia menjadi starter, Mount membuktikan bahwa sistem dua nomor 10 milik Amorim adalah habitat aslinya.

Matthijs de Ligt juga menunjukkan penampilan yang mengesankan. Ia disebut Nemanja Vidic sebagai pemain terbaik di lini belakang. Di bawah Amorim, United mungkin masih terseok secara kolektif, namun secara individu, beberapa pemain mulai menemukan kembali martabat mereka yang sempat hilang.

Analisis Data: Performa Bek Sayap di Era Amorim

Data statistik Desember 2025 (Sumber: Opta/Sofascore):

Statistik (Per Laga) Diogo Dalot (Man Utd) Noussair Mazraoui (Man Utd)
Peluang Tercipta 4.0 1.2
Sentuhan di Kotak Penalti 5 2
Pemulihan Bola 4 5
Akurasi Umpan Silang 38 % 22 %
Nilai Pasar (Estimasi) Rp605 Miliar Rp520 Miliar

Sudut Pandang: Individu Mengkilap, Kolektif Gelap

Catatan Redaksi: Melihat Dalot bangkit adalah kemenangan moral, namun Amorim tidak bisa terus mengandalkan "keajaiban individu" untuk menutupi cacat sistemnya. Menang hanya 14 kali dari 43 laga liga adalah raport merah. Jika performa kolektif tidak segera membaik, kebangkitan pemain seperti Dalot atau Mount hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku kegagalan Amorim. United butuh harmoni taktik, bukan sekadar pelari cepat di sisi sayap.

Kesimpulan: Dukung terus atlet/tim kebanggaan Anda. Nantikan terus update pertandingan selanjutnya hanya di portal kami.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar