Ekonom UNUSIA Ingatkan Menteri Keuangan Fokus pada Kebijakan Prioritas

Ekonom UNUSIA Ingatkan Menteri Keuangan Fokus pada Kebijakan Prioritas

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Ekonom UNUSIA Ingatkan Menteri Keuangan Fokus pada Kebijakan Prioritas menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.
Ekonom UNUSIA Ingatkan Menteri Keuangan Fokus pada Kebijakan Prioritas

Kebijakan Fiskal Menteri Keuangan: Harapan dan Tantangan

Kebijakan fiskal yang diambil oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam beberapa bulan terakhir patut mendapat apresiasi. Namun, apresiasi tersebut harus diiringi dengan kewaspadaan dan pengawasan yang serius agar tidak hanya menjadi wacana populis. Program besar seperti penyaluran dana sebesar Rp 200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank Himbara untuk pembiayaan sektor padat karya dan UMKM, misalnya, harus memiliki ukuran kinerja yang jelas. Dana sebesar itu tidak boleh menguap tanpa hasil nyata bagi rakyat kecil.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menurut Dr. Muhammad Aras Prabowo, ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), kebijakan tersebut adalah langkah progresif, tetapi sangat bergantung pada efektivitas pelaksanaannya. “Kebijakan ini tidak boleh hanya menjadi respon reaktif terhadap situasi ekonomi jangka pendek. Pemerintah dan perbankan harus memastikan bahwa inovasi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.

Artinya, dana yang disalurkan wajib menyentuh pelaku UMKM, petani, dan nelayan, bukan berhenti di level korporasi menengah ke atas. Aras menekankan perlunya inovasi perbankan dalam menyalurkan dana ke sektor agraria dan maritim. “Perbankan harus mengubah pendekatannya dengan mempertimbangkan dimensi sosiologis petani dan nelayan. Pola pengembalian kredit tidak bisa disamakan dengan dunia industri formal. Harus memperhitungkan musim tanam, masa panen, dan periode melaut,” katanya.

Ia mencontohkan Bank BRI sebagai lembaga yang cukup berhasil membangun komunikasi produktif dengan petani dan nelayan. Model seperti ini bisa dijadikan acuan bagi bank-bank Himbara lainnya agar dana Rp 200 triliun tersebut betul-betul produktif dan tidak sekadar menjadi angka pencitraan.

Pengurangan Transfer ke Daerah: Pro dan Kontra

Kebijakan lain yang juga menimbulkan pro dan kontra adalah pengurangan transfer ke daerah. Menkeu Purbaya menyebut langkah ini sebagai upaya efisiensi agar dana yang tidak terserap bisa dialihkan ke prioritas lain. Namun, Aras menilai bahwa kebijakan ini dapat menimbulkan persepsi negatif di daerah. “Pengurangan transfer bisa ditafsirkan sebagai pemangkasan sumber daya lokal. Tapi jika dikawal dengan sistem yang berbasis kinerja, justru bisa mendorong kompetisi positif antar kepala daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penilaian harus didasarkan pada kinerja keuangan daerah dan keberpihakan terhadap rakyat, bukan hubungan politik dengan pemerintah pusat. Menkeu harus memiliki sistem pemantauan yang transparan terhadap arus penggunaan dana di daerah. “Kinerja daerah perlu dievaluasi dengan data akuntabilitas yang terbuka. Bukan berdasarkan kedekatan, tapi hasil nyata terhadap kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Kebijakan Tidak Ada Pajak Baru: Kesempatan dan Risiko

Terkait dengan kebijakan tidak adanya pajak baru, Aras menilai ini merupakan keputusan yang tepat di tengah tekanan ekonomi global. Namun, keputusan itu harus diikuti oleh pengawasan ketat terhadap penerimaan pajak yang sudah ada. “Jangan sampai ada lagi fraud antara pegawai pajak dan oknum pengusaha besar. Purbaya harus memastikan penerimaan pajak dari pengusaha kelas kakap benar-benar optimal,” ujarnya.

Langkah ini menjadi penting agar beban pajak tidak kembali jatuh pada masyarakat kecil, sementara kelompok besar justru menikmati kelonggaran. Selain itu, rencana alokasi Rp 20 triliun untuk menghapus tunggakan BPJS Kesehatan bagi masyarakat tidak mampu juga mendapat perhatian Aras. Ia mengapresiasi kebijakan ini sebagai bentuk keberpihakan kepada rakyat kecil, namun menegaskan perlunya evaluasi manajemen BPJS.

“BPJS tidak bisa terus-menerus disubsidi tanpa pembenahan. Jika akar masalahnya ada di tata kelola dan manajemen, maka perlu dilakukan reformasi struktural. Pemerintah harus berani melakukan perombakan agar sistem kesehatan kita tidak terus menjadi beban fiskal setiap tahun,” katanya.

Kebijakan yang Berkelanjutan dan Transparan

Dalam konteks yang lebih luas, Aras menegaskan bahwa seluruh kebijakan yang dimulai oleh Purbaya harus memiliki mekanisme kontrol dan pengawasan berkelanjutan. Jangan sampai kebijakan yang awalnya progresif justru menjadi reaktif, populis, atau bahkan politis jangka pendek. “Kebijakan yang baik tidak berhenti pada pengumuman, tapi harus dikawal sampai hasilnya bisa dirasakan masyarakat. Jika tidak, kebijakan-kebijakan itu hanya akan menguap, menjadi headline sesaat tanpa dampak nyata,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat harus menjadi bagian dari pengawasan. Pengawasan partisipatif publik perlu diperkuat agar kebijakan fiskal lebih transparan dan akuntabel. “Kebijakan Purbaya harus berdampak pada kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, bukan sekadar menyenangkan publik sesaat. Masyarakat jangan larut dalam pemberitaan media; ikutlah mengawasi arah kebijakan fiskal negara,” tutup Aras.

Pada akhirnya, keberhasilan Purbaya tidak hanya diukur dari keberaniannya membuat kebijakan, tetapi dari kemampuannya mengawal implementasi kebijakan tersebut hingga benar-benar menyentuh kehidupan rakyat kecil. Sebab, dalam ekonomi rakyat, yang penting bukan sekadar angka dan tabel, tetapi bagaimana setiap kebijakan mampu mengubah keseharian masyarakat menjadi lebih sejahtera, adil, dan berkelanjutan.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Ekonom UNUSIA Ingatkan Menteri Keuangan Fokus pada Kebijakan Prioritas ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar