
aiotrade,
PALEMBANG — Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang sangat berpengaruh di tahun 2025, terutama dalam memengaruhi tingkat inflasi. Hal ini juga terjadi di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), di mana emas perhiasan memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan harga barang dan jasa.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan September 2025, emas perhiasan menyumbang sebesar 1,06% terhadap inflasi Sumsel yang mencapai 3,44% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan ini menunjukkan bahwa emas perhiasan tidak hanya sebagai benda berharga, tetapi juga sebagai faktor penting dalam dinamika ekonomi daerah.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa andil emas terhadap inflasi di wilayah Bumi Sriwijaya dipengaruhi oleh kenaikan harga global. Menurutnya, tekanan harga emas dunia yang cukup tinggi menjadi salah satu penyebab utama naiknya angka inflasi di Sumsel.
“Emas perhiasan juga turut berkontribusi terhadap inflasi karena harga emas dunia sedang meningkat. Hal ini selaras dengan tren inflasi nasional,” ujarnya pada Rabu (1/10/2025).
Harga emas mengalami kenaikan yang signifikan dalam kurun waktu sebulan. Berdasarkan data dari Antam, harga emas pada 1 September 2025 tercatat sebesar Rp1.978.000 per gram, dan naik hingga mencapai Rp2.198.000 per gram pada 29 September.
Meski demikian, tingkat pembelian emas oleh masyarakat tetap tinggi. Menurut Wahyu, hal ini disebabkan oleh perubahan perilaku masyarakat yang mulai melihat emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
“Sekarang masyarakat semakin sadar. Mereka membeli emas bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga sebagai bentuk investasi,” tambahnya.
Perubahan ini juga didukung oleh pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya, Sukanto. Ia sebelumnya menyatakan bahwa pembelian emas oleh masyarakat di tahun ini memang meningkat.
Menurut Sukanto, perubahan perilaku ini disebabkan oleh kemungkinan adanya pergeseran dari kebiasaan menabung dalam bentuk tunai ke bentuk emas. Hal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengelola dana mereka.
“Perubahan ini juga dapat menjadi indikasi bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga atau DPK di Sumsel cenderung melambat,” jelas Sukanto.
Beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan harga emas antara lain inflasi global, permintaan pasar, dan kebijakan moneter. Di sisi lain, minat masyarakat terhadap emas sebagai alat investasi menunjukkan bahwa emas tidak hanya memiliki nilai simbolis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Dengan situasi seperti ini, pemerintah dan lembaga terkait perlu memantau perkembangan harga emas serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi daerah. Penyesuaian kebijakan dan edukasi kepada masyarakat tentang manajemen keuangan akan menjadi langkah penting dalam menghadapi dinamika pasar emas.
Komentar
Kirim Komentar