Fed Siap Turunkan Suku Bunga Meski Inflasi Masih Mengancam

Fed Siap Turunkan Suku Bunga Meski Inflasi Masih Mengancam

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Fed Siap Turunkan Suku Bunga Meski Inflasi Masih Mengancam menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade, JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan akan kembali menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakannya pekan ini. Langkah ini dilakukan untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mengalami penurunan. Meski demikian, isu inflasi tetap menjadi perhatian utama dan mungkin membatasi langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pandangan dari kubu dovish di The Fed saat ini masih mendominasi arah kebijakan. Mereka berhasil mendorong penurunan suku bunga. Namun, beberapa pejabat lainnya memberikan peringatan bahwa terlalu banyak pelonggaran bisa menimbulkan risiko baru.

Data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan harga di AS pada bulan September, meskipun dengan laju yang paling lambat dalam tiga bulan terakhir. Meskipun hasil ini memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga lagi, perlambatan tersebut tidak cukup signifikan untuk mendukung penurunan lebih besar.

Situasi ini menjaga bias pelonggaran di bulan Oktober. Namun, gambaran dasar terkait inflasi belum banyak berubah, ujar Nicole Cervi, ekonom di Wells Fargo & Co.

Fokus Pasar

Setelah sekian lama menahan diri untuk menilai dampak tarif dan kebijakan fiskal terhadap perekonomian, The Fed akhirnya menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September lalu. Bank sentral juga memprediksi dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun.

Sejak itu, data tenaga kerja menunjukkan penurunan yang signifikan. Ketua The Fed Jerome Powell bahkan menyebut pasar tenaga kerja telah melemah secara tajam dan menghadapi risiko penurunan lebih lanjut.

Kondisi ini membuat pelaku pasar hampir sepenuhnya memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini, disusul satu kali lagi pada Desember, dan kemungkinan ketiga pada Maret 2026.

Pasar obligasi AS juga mencatat kinerja positif sepanjang tahun, didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sempat turun di bawah 4%, level terendah sejak April, setelah laporan inflasi dirilis Jumat lalu.

Namun, tidak semua pejabat The Fed sepakat. Beberapa presiden regional The Fed termasuk Alberto Musalem (St. Louis), Jeff Schmid (Kansas City), dan Beth Hammack (Cleveland) diperkirakan akan mendorong kehati-hatian lebih besar.

Dalam proyeksi kebijakan September, sembilan dari 19 pejabat The Fed hanya mendukung maksimal satu kali pemangkasan tambahan tahun ini, sementara tujuh lainnya menolak pemangkasan lebih lanjut.

Kekhawatiran Inflasi

Kekhawatiran utama mereka terletak pada risiko inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Sejumlah pejabat menyoroti tekanan harga kini meluas ke sektor jasa, di luar kategori yang terdampak langsung oleh tarif.

Inflasi jasa inti non-perumahan telah berada di atas 3% secara tahunan selama empat bulan berturut-turut. Selain itu, inflasi AS telah melampaui target 2% selama lebih dari empat tahun, dan diperkirakan baru kembali ke level sasaran pada 2028.

Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson menegaskan bahwa kredibilitas kebijakan moneter bergantung pada kemampuan bank sentral menurunkan inflasi kembali ke level 2%.

Stabilitas ekspektasi inflasi jangka panjang merupakan bukti penting dari kredibilitas kebijakan moneter. Sangat penting bagi kami untuk menuntaskan tugas ini, ujarnya.

Ketidakpastian Ekonomi

Ketidakpastian juga meningkat akibat keterlambatan publikasi data ekonomi resmi selama penutupan sebagian pemerintahan AS yang masih berlangsung sejak awal Oktober.

Menurut ekonom Veronica Clark dari Citigroup Inc., kondisi tersebut membuat The Fed kemungkinan tetap berpegang pada proyeksi September dua kali pemangkasan tahun ini dan satu kali tambahan pada 2026.

Masih ada perbedaan pandangan di internal, tapi belum ada data baru yang cukup kuat untuk mengubah posisi mereka, kata Clark.

Gubernur The Fed Christopher Waller yang sebelumnya menjadi salah satu pihak pertama memperingatkan perlambatan perekrutan, kini menekankan perlunya kehati-hatian.

Ada kontradiksi antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pasar tenaga kerja yang lemah. Salah satunya harus menyesuaikan entah pertumbuhan melambat, atau pasar tenaga kerja pulih, ujarnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Fed Siap Turunkan Suku Bunga Meski Inflasi Masih Mengancam ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar