Ghumaida: Mahasiswi UIN Bandung yang Memilih Hidup Lambat

Ghumaida: Mahasiswi UIN Bandung yang Memilih Hidup Lambat

Berita terbaru hadir untuk Anda. Mengenai Ghumaida: Mahasiswi UIN Bandung yang Memilih Hidup Lambat, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.


Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang merasa harus selalu siap menghadapi segala tantangan. Namun bagi Ghumaida, kehidupan yang tenang dan penuh makna justru menjadi kunci keberhasilannya. Seorang mahasiswi semester lima Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia dikenal sebagai sosok yang tenang, sederhana, namun memiliki kekuatan karakter yang luar biasa.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Ghumaida Tsuraya Chairul Yumna lahir di Bekasi pada 1 Februari 2004. Meskipun memiliki postur tubuh ideal dan paras yang menarik, daya tariknya tidak hanya terletak pada penampilan fisik. Ia juga dikenal cerdas, mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, serta mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Semua itu bukanlah hasil instan, melainkan hasil dari proses panjang dan dukungan lingkungan sekitarnya.

Salah satu ciri khas Ghumaida adalah sikap tenangnya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswi yang tidak suka menonjolkan diri, bahkan ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Banyak teman yang penasaran dengan gaya hidupnya, mulai dari rutinitas harian hingga motivasi hidupnya.

Kebiasaan Kecil yang Membentuk Pribadi Ghumaida

Dalam sebuah percakapan santai, Ghumaida mengungkapkan bahwa ketenangannya berasal dari kebiasaan sederhana yang sudah ia lakukan sejak lama.
"Sejak kecil, aku selalu tidur lebih awal dan bangun pagi. Aku jarang begadang kecuali ada hal mendesak yang harus dikerjakan. Selain itu, aku lebih suka mengerjakan tugas di pagi hari karena pikiran lebih fokus dan segar," ujarnya.

Support System dalam Hidup Ghumaida

Di balik pola hidup yang teratur ini, Ghumaida memiliki support system yang sangat kuat: kedua orang tuanya. Kehadiran mereka dan model parenting yang digunakan turut membentuk karakternya. Ketika ditanya tentang siapa yang paling berpengaruh dalam hidupnya, Ghumaida menjawab tanpa ragu bahwa Abi (ayah) dan Bunda (ibu) adalah sosok utama yang selalu menjadi sandaran dan panutan.

"Abi dan Bunda selalu memberi contoh terlebih dahulu sebelum memberi nasihat. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi berusaha menjadi teladan dari apa yang disampaikan. Mereka juga selalu memilih tabayyun daripada langsung menghakimi jika anak-anaknya melakukan kesalahan," kata Ghumaida.

Pola asuh ini terlihat jelas dari pandangan sang ibu. Ia ingin menjadi teman ngobrol yang terbuka dan jujur, serta menjadi orang tua yang menghargai bakat dan jalan hidup anak-anaknya. Salah satu hal yang menarik dari pengakuan ibunya adalah keinginannya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Baginya, tempat pulang bukan hanya berupa bangunan, tetapi sosok yang selalu menanti kepulangan kita dalam kondisi apapun.

Tips Hidup Slow Living

Dari keluarga yang hangat inilah Ghumaida belajar untuk menjalani hidup dengan ritme yang lebih pelan, teratur, dan penuh kesadaran. Gaya hidup ini dikenal sebagai slow living. Ia pun membagikan beberapa kebiasaan yang selalu diterapkannya:

  • Fokus pada satu hal yang menjadi kewajiban
  • Mengurangi penggunaan gadget saat berbicara dengan orang lain
  • Memprioritaskan waktu istirahat yang cukup

Harapan dan Pesan untuk Masa Depan

Di akhir wawancara, Ghumaida menyampaikan harapan yang ia genggam erat.
"Aku ingin menjadi kebanggaan Abi dan Bunda. Tidak perlu menjadi hebat, tapi bisa terus menjaga kepercayaan mereka dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri," pungkasnya.

Kisah Ghumaida menjadi pelajaran berharga, baik bagi para orang tua maupun anak. Pola asuh keluarga memegang peranan besar dalam membentuk karakter seorang anak, karena sebagian besar waktu tumbuh dan belajar mereka dihabiskan bersama orang tua. Oleh karena itu, sudah semestinya orang tua hadir bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai teman yang mampu mendengarkan, memahami, dan menciptakan hubungan yang hangat serta harmonis. Dengan kedekatan seperti ini, seorang anak dapat tumbuh lebih percaya diri, tenang, dan mampu mengenali dirinya dengan lebih baik.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Ghumaida: Mahasiswi UIN Bandung yang Memilih Hidup Lambat. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar