
Harga Timah Dunia Tinggi Tapi Penambang Bangka Belitung Masih Merasakan Ketidakadilan
Harga timah dunia yang mencapai hampir 43.000 USD per metrik ton seharusnya menjadi kabar baik bagi masyarakat penambang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun, kenyataannya justru berbeda. Di tengah naiknya harga di pasar global, para penambang lokal masih menghadapi harga beli yang dinilai tidak layak dan jauh dari harapan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beliadi. Ia menilai bahwa disparitas harga tersebut merupakan bentuk ketidakadilan yang terus dirasakan oleh masyarakat penambang. Menurutnya, dengan harga timah dunia yang sangat tinggi saat ini, semestinya harga beli timah di tingkat masyarakat, baik oleh PT Timah Tbk maupun smelter, sudah berada di atas Rp350.000 per SN.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Harga beli timah di tingkat masyarakat masih berkisar di angka Rp300.000, bahkan di beberapa lokasi disebut berada di bawah Rp200.000, meskipun bukan dalam kategori SN. Hal ini membuat Beliadi menyampaikan kekecewaannya terhadap situasi yang terjadi.
Perlu Evaluasi Serius dari Perusahaan Tambang
“Dengan harga timah dunia hampir 43.000 USD, harga beli di masyarakat itu sudah sangat tidak wajar. Selayaknya PT Timah dan smelter membeli timah masyarakat di atas Rp350.000 per SN. Ini jelas perlakuan yang tidak adil,” tegas Beliadi, Senin (22/12/2025).
Ia menilai bahwa PT Timah yang telah diberikan hak kuasa penambangan dan perlindungan luar biasa oleh negara, seharusnya tidak “mencekik” harga timah masyarakat dengan membeli pada harga serendah-rendahnya.
“Sudah diberi hak yang luar biasa, perlindungan yang luar biasa, tapi harga di masyarakat justru dicekik. Ini sangat tidak berkeadilan,” ujarnya.
Beliadi berharap dalam satu hingga dua hari ke depan, terdapat perubahan nyata terhadap harga beli timah di tingkat masyarakat. Ia juga mengingatkan agar jangan sampai PT Timah justru membukukan laporan kerugian, di tengah selisih harga yang sangat besar antara harga dunia dan harga beli di masyarakat.
“Kalau dengan margin sebesar ini PT Timah masih melaporkan rugi, maka patut diduga ada masalah serius di internal perusahaan. Ini perlu diselidiki kembali, karena bisa saja terjadi praktik-praktik korupsi di dalamnya,” ucapnya.
Kondisi Penambang Semakin Berat
Menurutnya, kondisi penambang saat ini sangat berat. Selain timah yang semakin sulit didapat, biaya operasional terus meningkat, mulai dari harga BBM yang tinggi, jarak tempuh yang semakin jauh, hingga hasil yang tidak sebanding dengan usaha.
“Sekarang nyari timah 1–2 kilo saja sudah susah. Biaya besar, hasil kecil, harga masih dijepit. Kalau begini terus, lama-lama masyarakat penambang bisa mati,” ungkapnya.
Beliadi pun meminta PT Timah untuk lebih membuka hati dan menggunakan rasa dalam menjalankan bisnisnya dengan masyarakat Bangka Belitung. Ia menegaskan bahwa BUMN tidak boleh hanya membeli timah seenaknya ke masyarakat, apalagi selalu mengatasnamakan Presiden.
“Saya yakin Presiden juga tidak tahu kondisi di bawah seperti apa. Yang saya tahu, Presiden ingin keadilan dan keuntungan bagi masyarakat, tapi itu tidak dirasakan masyarakat timah di Babel hari ini,” pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar