
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pergerakan IHSG Pada Akhir Tahun 2025
Pada Senin sore, 22 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat seiring dengan sentimen positif menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2026. IHSG mengalami kenaikan sebesar 36,29 poin atau 0,42 persen, sehingga berada di posisi 8.645,83.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga naik sebesar 6,19 poin atau 0,73 persen ke posisi 859,72. Seorang pengamat pasar modal Indonesia, Reydi Octa, menyampaikan bahwa sentimen positif yang muncul berasal dari dalam negeri, termasuk aktivitas window dressing, perayaan Nataru, serta faktor dividen play yang menjadi daya tarik bagi investor menjelang awal tahun.
Dari sisi internasional, sentimen positif juga datang dari proyeksi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral global pada tahun 2026. "Ini bisa memicu arus masuk dana asing ke IHSG," ujar Reydi.
Pelaku pasar saat ini sedang memantau pergerakan dana asing menuju akhir tahun 2025. Hal ini terkait dengan ekspektasi tren penurunan suku bunga lanjutan pada 2026 serta fenomena January Effect yang dapat membuat saham-saham perbankan diserbu oleh investor asing.
Pergerakan IHSG Sepanjang Hari
Pembukaan IHSG terjadi dalam kondisi menguat, dan indeks tersebut tetap berada di zona positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor mengalami kenaikan. Sektor energi menjadi yang teratas dengan kenaikan sebesar 2,52 persen. Diikuti oleh sektor barang baku dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing naik sebesar 1,61 persen dan 0,85 persen.
Sebaliknya, lima sektor mengalami penurunan. Sektor teknologi turun paling dalam yaitu sebesar 2,35 persen. Disusul oleh sektor properti dan sektor infrastruktur yang masing-masing turun sebesar 1,41 persen dan 1,00 persen.
Frekuensi Perdagangan dan Kondisi Pasar
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.959.488 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 43,11 miliar lembar saham senilai Rp24,23 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 251 saham mengalami kenaikan, 433 saham menurun, dan 120 saham tidak mengalami perubahan nilai.
Kondisi Bursa Regional Asia
Di tingkat regional Asia, beberapa indeks mengalami kenaikan dan penurunan. Indeks Nikkei menguat sebesar 875,40 poin atau 1,77 persen ke posisi 50.382,60. Indeks Shanghai juga menguat sebesar 26,91 poin atau 0,69 persen ke posisi 3.917,36. Indeks Hang Seng menguat sebesar 111,24 poin atau 0,43 persen ke posisi 25.801,76.
Namun, indeks Straits Times mengalami penurunan sebesar 40,51 poin atau 0,89 persen ke posisi 4.610,29. Hal ini menunjukkan perbedaan performa antara bursa Asia yang satu dengan yang lainnya.
Komentar
Kirim Komentar