
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Visi Pemerintah Indonesia Menjadi Negara Maju pada 2045
Pemerintah Indonesia memiliki visi ambisius untuk menjadi negara maju pada tahun 2045. Salah satu target utamanya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8 persen. Namun, untuk mewujudkan hal ini, diperlukan upaya yang lebih besar dan strategi yang tepat.
Ekonom sekaligus Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Raden Pardede, menyampaikan bahwa keberhasilan dalam mewujudkan visi tersebut bergantung pada pembangunan pondasi yang kuat. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan adalah mengurangi ketergantungan terhadap komoditas.
“Negara-negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Tiongkok tidak terlalu bergantung pada komoditas. Kita perlu memanfaatkan sektor manufaktur dan jasa sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya saat berbicara di Jakarta, Senin (20/10).
Menurut Raden, Indonesia tidak buruk dibandingkan negara lain. Hanya saja, jika ingin mencapai tujuan 2045, pemerintah harus bekerja lebih keras lagi.
“Kami tidak termasuk yang terburuk. Kami hanya perlu meningkatkan beberapa hal agar bisa lebih baik,” katanya.
Memperbaiki Efisiensi Investasi
Salah satu aspek yang perlu diperbaiki adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR), sebuah indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi investasi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Raden menjelaskan bahwa ICOR menunjukkan bagaimana investasi digunakan secara lebih efisien dan efektif.
“Jika mesinnya semakin baik, penggunaan bahan bakar akan lebih efisien. Ini adalah contoh sederhana dari bagaimana kita bisa belajar dari negara-negara seperti Vietnam yang lebih cepat dalam pertumbuhan ekonominya,” ujarnya.
Selain itu, Raden juga menyoroti Gross National Income (GNI) per Capita dan Compound Annual Growth Rate (CAGR) periode 2015-2025 yang dimiliki Indonesia. Angka ini hanya mencapai 3,8 persen, jauh di bawah Vietnam yang mencapai 6,2 persen.
Belajar dari Negara Lain
Raden menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari negara-negara lain, terutama dalam hal progres teknologi dan keterbukaan. Ia juga menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan momentum yang ada, karena momentum tidak selalu datang berkali-kali.
“Momentum seperti EU-CEPA ini sangat penting. Kita harus memanfaatkannya sekarang, karena mungkin dua atau tiga tahun lagi tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini,” jelasnya.
Mengurangi Ketergantungan pada Sumber Daya Alam
Saat ini, kondisi ekonomi Indonesia masih bergantung pada sektor pertanian, agrikultur, minyak bumi, batu bara, hingga CPO. Oleh karena itu, Raden menegaskan bahwa Indonesia harus fokus pada sektor manufaktur dan jasa untuk memperkuat "mesin ekonomi" yang dimiliki.
“Kita berkompetisi dengan negara-negara lain. Seperti kapal-kapal yang bersaing di laut. Kita harus bisa melihat posisi kita dan berusaha lebih keras agar bisa mengejar mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh langsung merasa tertinggal. Justru, ia menilai bahwa ini adalah kesempatan untuk berlomba dan bahkan bisa menjadi lebih cepat daripada negara-negara lain.
“Kita harus bekerja keras, tidak mudah menyerah. Jika kita berkompetisi, kita akan tahu sejauh mana kemampuan kita,” tutupnya.
Komentar
Kirim Komentar