Indonesia Berada di Peringkat 13 Dunia dalam Manufaktur

Indonesia Berada di Peringkat 13 Dunia dalam Manufaktur

Dunia gadget kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Indonesia Berada di Peringkat 13 Dunia dalam Manufaktur yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Indonesia Masuk 13 Besar Negara Manufaktur Dunia

Pada tahun 2024, Indonesia berhasil masuk ke dalam jajaran 13 besar negara manufaktur terbesar di dunia. Hal ini ditandai oleh nilai tambah industri pengolahan yang mencapai angka 265 miliar dolar AS. Pencapaian ini menunjukkan bahwa posisi manufaktur nasional semakin dianggap penting dalam peta ekonomi global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan informasi tersebut dalam acara Kompas100 CEO Forum di ICE BSD, Tangerang, Banten, pada Rabu (26/11/2025). Ia menjelaskan bahwa data ini dirilis oleh Bank Dunia dan dapat menjadi rujukan objektif untuk melihat posisi Indonesia di tingkat internasional. Menurutnya, nilai tambah manufaktur Indonesia kini hampir sama dengan negara-negara maju seperti Prancis, Inggris, Rusia, dan Brasil.

Kontribusi Industri Pengolahan Terhadap PDB

Kontribusi dari sektor industri pengolahan nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 17,39 persen (harga berlaku) dan 18,70 persen (harga konstan). Pertumbuhan sektor ini mencapai 5,58 persen, yang lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar di angka 5 persen.

Ekspor dari industri pengolahan nonmigas pada periode Januari–September 2025 mencapai 167,85 miliar dolar AS, atau sekitar 80 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung dari kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

Tingkat Utilisasi Manufaktur yang Masih Rendah

Meskipun pencapaian ini menggembirakan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengingatkan bahwa tingkat utilisasi manufaktur hanya mencapai 61,4 persen. Ini menunjukkan bahwa kapasitas industri belum digunakan secara optimal. Menurutnya, pengendalian impor yang lebih adil bisa langsung meningkatkan serapan produksi domestik.

Ia juga menilai bahwa penguatan pasar dalam negeri sangat penting karena sebagian besar output manufaktur diserap oleh pasar lokal. Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada peringkat global, tetapi juga memastikan bahwa industri kuat di pasar sendiri agar dampaknya terasa bagi pekerja dan pelaku usaha lokal.

Strategi Baru Industri Nasional

Kementerian Perindustrian telah menyiapkan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) yang bertumpu pada hilirisasi berbasis sumber daya serta penguatan ekosistem industri. Instrumen seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan industri hijau disiapkan untuk menjaga daya saing sekaligus keberlanjutan manufaktur.

Agus menilai reformasi TKDN menjadi kunci untuk memperbesar "kue" industri tanpa mengorbankan sektor lain. Penyederhanaan aturan TKDN diarahkan lebih mudah, murah, dan berbasis insentif agar investasi manufaktur masuk lebih cepat.

Peluang dan Tantangan di Tengah Pencapaian

Capaian Indonesia masuk 13 besar dunia menjadi peluang sekaligus ujian karena publik menunggu dampaknya pada lapangan kerja dan harga barang yang lebih terjangkau. Pemerintah perlu memastikan bahwa lonjakan nilai tambah industri menetes ke daerah, bukan hanya berhenti di angka statistik nasional.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar