
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Rempah Indonesia Menjadi Sorotan di Panggung Perdagangan Internasional
Di tengah meningkatnya tren global terhadap bahan alami dan produk berkelanjutan, potensi besar dari rempah Indonesia mulai mendapat perhatian serius dari banyak negara. Salah satu bukti nyata adalah kehadiran PT Natura Perisa Aroma (NPA) melalui lini bisnisnya, Nekaboga, dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025. Di acara tersebut, sejumlah perusahaan dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia Selatan menunjukkan minat kuat terhadap produk olahan rempah asli Indonesia.
Laksmi Istikasari, Sales & Marketing Manager Nekaboga, mengungkapkan bahwa permintaan kerja sama dari berbagai negara sudah datang sejak hari pertama pameran. Komoditas seperti lada hitam, lada putih, kunyit, dan kayu manis menjadi yang paling diminati. Minat tersebut datang dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, India, Libya hingga Somalia. Beberapa perusahaan bahkan telah meminta pengiriman sampel untuk penjajakan ekspor tahap awal.
Potensi Ekonomi yang Masih Terbuka Lebar
Sebagaimana diketahui, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen rempah terbesar di dunia. Namun, potensi ekonominya belum tergarap maksimal, terutama di sisi hilirisasi dan pengembangan produk olahan bernilai tambah tinggi. Laksmi menilai peluang tersebut justru sedang terbuka lebar. Permintaan terhadap produk turunan rempah, seperti bumbu siap pakai, minyak atsiri, dan ekstrak alami untuk industri makanan dan kosmetik, terus meningkat baik di pasar ekspor maupun domestik.
"Rempah bukan hanya bahan mentah. Ia punya nilai ekonomi berlapis jika diolah dengan teknologi yang tepat. Dan ini yang sedang kami dorong," ujarnya.
Teknologi dan Kualitas yang Membawa Rempah Indonesia Bersaing
Nekaboga menjadi contoh pelaku industri yang menjalankan rantai bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir. Mulai dari kemitraan dengan petani lokal, pengawasan mutu di laboratorium modern, hingga penerapan teknologi steam sterilization process yang memastikan produk aman tanpa bahan kimia. Teknologi ini membuat rempah Indonesia mampu bersaing dengan produk global dari segi kualitas, keamanan, dan aroma khas.
Saat ini, sekitar 80 persen produksi Nekaboga diserap pasar luar negeri, mulai dari Asia hingga Eropa dan Amerika. "Selama tiga dekade kami menjaga komitmen pada kualitas dan keberlanjutan. Tapi kami juga ingin memperkuat pasar domestik, agar masyarakat Indonesia ikut menikmati kekayaan cita rasa dan nilai tambah rempah lokal," tambah Laksmi.
Peluang Pengembangan di Dalam Negeri
Di dalam negeri, peluang pengembangan industri rempah semakin besar seiring tren kuliner nusantara dan gaya hidup sehat berbasis bahan alami. Produk seperti bumbu siap saji, minuman rempah, dan ekstrak herbal mulai diminati konsumen muda. Sementara di pasar global, permintaan terhadap produk alami terus tumbuh. Nekaboga telah mengekspor produknya ke Australia, Jepang, Singapura, Malaysia, India, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Sertifikasi yang Memperkuat Daya Saing
Sertifikasi internasional seperti ISO, FSSC 22000, USDA Organic, hingga HALAL MUI dan Kosher turut memperkuat daya saing produk Indonesia. Selain itu, potensi rempah yang mulai dilirik pasar global jelas akan memberi manfaat bagi para petani. Dengan dukungan pemerintah, riset, dan kemitraan jangka panjang antara industri dan petani, rempah Indonesia berpeluang menjadi pilar ekspor nonmigas yang kuat.
Kesimpulan
Dari segi kualitas, keamanan, dan nilai ekonomi, rempah Indonesia tidak hanya bisa bersaing secara global, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi produk olahan bernilai tinggi yang membawa cita rasa Nusantara ke panggung global. Dengan inovasi dan komitmen terhadap kualitas, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu penghasil rempah terkemuka di dunia.
Komentar
Kirim Komentar