
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Inovasi untuk Indonesia Emas 2045
Pencapaian tujuan Indonesia Emas 2045 memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Isu ini menjadi perhatian utama dalam menghadapi tantangan seperti brain drain, yaitu keluarnya talenta terbaik Indonesia ke luar negeri yang berpotensi mengurangi daya saing nasional.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa pendidikan tinggi dan riset merupakan fondasi utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Tanpa investasi berkelanjutan pada ide dan inovasi, perekonomian akan mengalami stagnasi.
“Tanpa investasi pada ide dan inovasi, pertumbuhan ekonomi akan berhenti pada kondisi steady state,” ujarnya dalam acara Human Development Synergy Forum: Kemitraan Multi-Pihak untuk Memperkuat Kebijakan Ekosistem Pendidikan dan Riset Nasional.
Forum tersebut menyoroti pentingnya pergeseran paradigma dari brain drain menuju brain gain. Hal ini melibatkan upaya menarik kembali talenta Indonesia dan mendorong brain circulation melalui pembangunan jejaring kolaborasi riset dan transfer pengetahuan dengan diaspora.
Arah kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan sumber daya manusia, sains, dan pendidikan sebagai prioritas. Stella menjelaskan bahwa teori pertumbuhan ekonomi Paul Romer menunjukkan bahwa investasi pada sumber daya manusia, pengetahuan, dan inovasi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.
Ia menyebutkan bahwa kenaikan investasi riset sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) sekitar 0,2 persen dalam jangka pendek dan hingga 0,9 persen dalam jangka panjang.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, anggaran riset pada 2025 mencapai Rp 3,2 triliun. Angka ini meningkat 218 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,47 triliun. Penyebab peningkatan terbesar adalah dana riset dari LPDP yang bisa disalurkan langsung kepada universitas.
Pemerintah juga memiliki gagasan membangun research university yang kuat dengan kualitas riset yang mumpuni, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi ilmiah. Stella mencontohkan dampak ekonomi universitas riset global seperti Stanford University yang menghasilkan manfaat ekonomi tahunan sekitar 2,7 triliun dollar AS dan menciptakan jutaan lapangan kerja.
“Ini bukan opini, melainkan fakta ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, Stella menekankan pentingnya strategi spesialisasi riset agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan. Investasi riset perlu difokuskan pada bidang-bidang tertentu yang memiliki keunggulan komparatif nasional.
“Jangan investasi kecil-kecil di semua bidang. Kita harus pintar mengatur investasi riset untuk spesialisasi di mana Indonesia punya niche,” katanya.
Ia mencontohkan sektor rumput laut. Indonesia merupakan penghasil rumput laut tropis terbesar di dunia dengan nilai pasar sekitar 12 miliar dollar AS. Namun, pemanfaatannya dinilai belum optimal karena Indonesia masih dominan menjual bahan mentah, bukan produk bernilai tambah tinggi berbasis riset dan inovasi.
Isu lain yang disoroti Stella adalah minimnya dukungan industri terhadap riset. Berdasarkan paparannya, kontribusi sektor swasta terhadap pendanaan riset di Eropa mencapai 59 persen, Amerika Serikat 63 persen, sementara di China, Korea Selatan, dan Jepang bahkan melebihi 75 persen.
“Kita harus meyakinkan swasta bahwa investasi terhadap riset di universitas akan menghasilkan profit tinggi karena industri berbasis teknologi dan ide saintifik memiliki profit margin tertinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator PMK, Ojat Darojat, mengungkapkan akar persoalan rendahnya daya saing inovasi Indonesia. Ia mengutip pandangan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menilai sistem pembelajaran di Indonesia masih didominasi rote learning atau hafalan, tanpa diimbangi kemampuan penerapan.
Pola tersebut, menurut Ojat, menghasilkan inert knowledge, yakni pengetahuan yang tidak terkonversi menjadi inovasi maupun solusi nyata. “Kita masih memproduksi pengetahuan, belum mengaplikasikannya,” ujarnya.
Pun ia menekankan perlunya pergeseran menuju pembelajaran berbasis critical thinking yang selaras dengan kebutuhan industri. Tantangan tersebut tercermin dalam data Global Innovation Index 2024 yang dirilis World Intellectual Property Organization (WIPO). Indonesia berada di peringkat 55 dari 139 negara, turun satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Posisi ini menempatkan Indonesia di urutan keenam di kawasan ASEAN, tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat 5, Malaysia (34), Vietnam (44), Thailand (45), dan Filipina (50).
Dalam indeks tersebut, peringkat input inovasi Indonesia berada di posisi 60, sementara output inovasi di peringkat 59. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kapasitas riset yang dimiliki dengan hasil inovasi yang berdampak langsung pada perekonomian.
Executive Director Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) Yenny Bachtiar menilai, tantangan brain drain tidak semestinya dimaknai sebagai kehilangan semata, melainkan peluang untuk membangun brain gain melalui kemitraan yang terarah dan berkelanjutan.
“Kebijakan pendidikan dan riset harus dibangun dari data yang akurat, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya. Yenny menegaskan, data berperan sebagai “alat navigasi” kebijakan agar riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan berujung pada solusi pembangunan yang nyata.
Dari perspektif global, Program Manager Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Rina Julvianty menilai investasi berkelanjutan pada pendidikan, riset, dan inovasi yang ditopang kemitraan multipihak merupakan fondasi utama daya saing bangsa. FES, menurut dia, memposisikan diri sebagai jembatan antara riset dan kebijakan publik dengan menghubungkan praktik baik internasional dan kebutuhan nasional.
Komentar
Kirim Komentar