Investasi Meningkat, Kesejahteraan Masih Berat: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Belum Terasa di Kalangan

Investasi Meningkat, Kesejahteraan Masih Berat: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Belum Terasa di Kalangan

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Investasi Meningkat, Kesejahteraan Masih Berat: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Belum Terasa di Kalangan menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.
Investasi Meningkat, Kesejahteraan Masih Berat: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Belum Terasa di Kalangan Rakyat

Pertumbuhan Ekonomi Jateng yang Impresif, Tapi Apa Benar Dirasakan?

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) pada tahun 2025 tercatat sangat mengesankan, dengan angka mencapai 5,37 persen. Angka ini bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan nasional. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menyebut capaian ini sebagai hasil dari kolaborasi antara investasi, perdagangan, dan industri. Namun di balik angka tersebut, muncul pertanyaan penting dari masyarakat: sejauh mana pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Di tingkat rumah tangga, banyak pekerja dan warga merasa ada jarak yang cukup lebar antara gencarnya investasi dan realisasi kesejahteraan. Masalah seperti upah, harga kebutuhan pokok, serta peluang keluar dari kemiskinan menjadi perhatian utama. Eka, salah satu buruh pabrik di kawasan industri Semarang, mengungkapkan bahwa meski ekonomi tumbuh, biaya hidup terus meningkat sementara upah tetap stabil.

Peran GINSI dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Di tengah situasi ini, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meminta Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) untuk berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Permintaan ini disampaikan saat pengukuhan pengurus Badan Pengurus Daerah (BPD) GINSI Jateng di Hotel Grasia, Kota Semarang. Luthfi menegaskan bahwa Jateng harus menjadi pusat investasi baru dan meminta dukungan dari seluruh pihak, termasuk GINSI.

Pemprov Jateng terus mendorong pembentukan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus, revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas, optimalisasi Bandara Ahmad Yani, hingga dukungan terhadap rencana dry port oleh PT KAI. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor industri dan investasi.

Struktur Impor dan Ekspor Jateng

Secara struktur, impor Jateng didominasi bahan baku industri sebesar 83,34 persen, disusul barang modal 10,89 persen, dan barang konsumsi 4,77 persen. Komoditas impor non-migas terbesar meliputi mesin dan peralatan mekanis-elektrik (27,67 persen), tekstil dan produk tekstil (17,37 persen), serta plastik dan barang dari plastik (8,54 persen). Negara asal impor terbesar masih didominasi China (60,10 persen).

Di sisi lain, kinerja ekspor juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Nilai ekspor non-migas Jateng Januari-Oktober 2025 mencapai US$ 10,11 miliar, tumbuh 11,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor, disusul Jepang dan Tiongkok.

Masalah Kemiskinan dan Upah Minimum

Namun, capaian ekonomi makro tersebut berbanding terbalik dengan tingkat kemiskinan. Data BPS Maret 2025 menunjukkan angka kemiskinan di Jawa Tengah masih berada di 9,48 persen atau sekitar 3,37 juta jiwa. Angka ini relatif setara dengan Jatim di angka 9,50 persen dan lebih tinggi dibanding Jabar 7,02 persen. Padahal, Jateng selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi tujuan investasi padat karya.

Bagi sebagian warga, kondisi ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi belum cukup inklusif. Siti, pedagang di Pasar Johar, menyatakan bahwa meski industri dan pabrik banyak, jumlah orang miskin tetap tinggi. Persoalan lain yang sering disorot adalah upah minimum. Pada 2025, UMP Jateng masih berada di kisaran Rp 2,16 jutaan, termasuk yang terendah secara nasional.

Angka ini tidak terpaut jauh dari Jabar dan Jatim, yang juga berada di bawah rata-rata UMP nasional sekitar Rp 3,28 juta. Bagi buruh, upah tersebut dinilai belum mencerminkan kebutuhan hidup layak, terlebih dengan meningkatnya harga pangan, sewa hunian, transportasi, dan pendidikan.

Peran GINSI dalam Menyejahterakan Masyarakat

Adapun Ketua Umum BPP GINSI, Capt. Subandi, menyatakan bahwa organisasi importir harus mengambil peran strategis, tidak hanya untuk pelaku usaha tetapi juga bagi perekonomian daerah. Menurutnya, GINSI perlu meluruskan stigma negatif terhadap importir dan menjadi jembatan antara pemerintah dan dunia usaha.

“GINSI harus memberikan manfaat nyata, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, dan ikut menyejahterakan masyarakat,” katanya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Investasi Meningkat, Kesejahteraan Masih Berat: Pertumbuhan Ekonomi Jateng Belum Terasa di Kalangan ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar