Investasi SDM dan Riset, Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi

Investasi SDM dan Riset, Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi

Industri teknologi kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Investasi SDM dan Riset, Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kualitas Sumber Daya Manusia dan Inovasi sebagai Faktor Utama Daya Saing Ekonomi Nasional

Kualitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi menjadi penentu utama daya saing ekonomi nasional. Tantangan seperti brain drain, rendahnya hilirisasi riset, serta minimnya keterlibatan industri menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak bisa hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa pendidikan tinggi dan riset merupakan fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. “Tanpa investasi pada ide dan inovasi, pertumbuhan ekonomi akan berhenti pada kondisi steady state,” kata Stella dalam pernyataannya, Jumat (19/12).

Mengacu pada teori pertumbuhan ekonomi Paul Romer, Stella menyebut bahwa investasi pada sumber daya manusia, pengetahuan, dan inovasi memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian. Peningkatan belanja riset sebesar 10% berpotensi mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 0,2% dalam jangka pendek dan hingga 0,9% dalam jangka panjang.

Peningkatan Anggaran Riset untuk Penguatan Universitas Riset

Pemerintah meningkatkan anggaran riset pada tahun 2025 menjadi Rp 3,2 triliun, melonjak 218% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana tersebut diharapkan memperkuat universitas riset dengan fokus pada kualitas dan dampak ekonomi, bukan sekadar jumlah publikasi.

Stella mencontohkan universitas riset global seperti Stanford University yang menghasilkan manfaat ekonomi tahunan triliunan dolar dan menciptakan jutaan lapangan kerja. Ia juga menekankan pentingnya strategi spesialisasi riset. Menurutnya, investasi tidak efektif jika tersebar tipis di banyak bidang tanpa fokus pada sektor yang memiliki keunggulan kompetitif.

Salah satu contoh adalah rumput laut, di mana Indonesia masih banyak menjual bahan mentah meski menjadi produsen utama dunia. Dukungan industri menjadi kunci lain. Di negara maju, mayoritas pendanaan riset berasal dari sektor swasta, sementara di Indonesia perannya masih terbatas.

“Industri berbasis teknologi dan ide saintifik memiliki margin keuntungan tertinggi. Karena itu, investasi riset seharusnya diperlakukan sebagai peluang bisnis, bukan beban,” kata Stella.

Sistem Pembelajaran yang Masih Berorientasi Hafalan

Sementara itu, lemahnya daya saing inovasi Indonesia juga dipengaruhi oleh sistem pembelajaran yang masih berorientasi hafalan. Pola ini menghasilkan pengetahuan yang tidak terkonversi menjadi inovasi dan solusi ekonomi.

Data Global Innovation Index 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 55 dunia, mencerminkan kesenjangan antara kapasitas riset dan output berharga tambah.

Strategi untuk Mengubah Tantangan Menjadi Modal Pertumbuhan

Ke depan, penguatan kebijakan berbasis data, kolaborasi riset, serta strategi menarik kembali talenta diaspora dinilai krusial untuk mengubah tantangan tersebut menjadi modal pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan fokus pada pengembangan SDM, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat meningkatkan daya saing dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar