
JABEJABE.CO - Pasar saham Indonesia lagi agak “panas dingin” belakangan ini. Di pekan terakhir, para investor asing kompak melakukan aksi jual besar-besaran, terutama di saham-saham perbankan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dua raksasa keuangan negeri ini, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA), jadi pusat perhatian karena saham keduanya dilego investor asing hingga tembus triliunan rupiah.
Para investor asing yang selama ini jadi “motor penggerak” reli saham bank, tampaknya mulai pasang mode waspada. Banyak yang menilai, langkah jual saham ini jadi bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang bikin sentimen investasi terasa agak goyah.
Hasilnya, dalam dua minggu terakhir, aksi jual bersih dari asing lumayan besar dan bikin harga saham BBRI dan BBCA ikut tertekan.
Khusus untuk BBRI, bank yang dikenal fokus di sektor mikro dan UMKM ini, tercatat sahamnya dilepas asing lebih dari Rp 3 triliun. Sementara BBCA, bank swasta terbesar dan paling “mapan”, juga nggak luput dari gelombang jual, dengan nilai hampir Rp 2,5 triliun.
Padahal kalau dilihat dari sisi fundamental, dua bank ini masih dianggap sangat kuat kinerjanya solid, untung terus, dan punya potensi jangka panjang yang stabil.
Tentu saja, aksi jual asing ini sempat bikin pasar agak waswas. Banyak yang khawatir sektor perbankan bakal goyah, apalagi di tengah inflasi global yang belum jinak dan tekanan kenaikan suku bunga di berbagai negara. Tapi, sebagian analis justru melihat ini sebagai hal wajar semacam “napas sejenak” dalam siklus pasar saham yang terus berputar.
Menariknya, beberapa pengamat malah menyarankan investor lokal untuk ambil peluang. Momen seperti ini bisa jadi kesempatan buat memperkuat posisi di saham-saham perbankan yang notabene jadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Pemerintah dan otoritas bursa sendiri diharapkan tetap bisa menjaga iklim investasi agar tetap nyaman, lewat kebijakan yang bijak dan menenangkan pasar. Sementara itu, para investor disarankan untuk nggak gampang panik dan mulai menimbang ulang portofolionya pikirkan jangka panjang, bukan cuma gejolak harian.
Pada akhirnya, pasar saham kita khususnya sektor perbankan lagi diuji kedewasaannya dalam menghadapi dinamika global yang serba cepat berubah. Meski saham BBRI dan BBCA sempat “dijual ramai-ramai”, para analis tetap optimis prospek jangka panjangnya masih cerah bagi siapa pun yang berani berpikir strategis dan nggak mudah terbawa arus.***
Komentar
Kirim Komentar