Kampung Zakat Wunung Jadi Model Ekonomi Berkelanjutan Umat Gunungkidul

Kampung Zakat Wunung Jadi Model Ekonomi Berkelanjutan Umat Gunungkidul

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Kampung Zakat Wunung Jadi Model Ekonomi Berkelanjutan Umat Gunungkidul menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kampung Zakat Wunung: Model Integrasi Zakat dan Ekonomi Lokal

Program Kampung Zakat diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Tujuan utamanya adalah membangkitkan ekonomi lokal dengan memberdayakan warga yang tinggal di kawasan tersebut. Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan program ini di Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, DI Jogjakarta. Dengan konsep baru, zakat tidak hanya menjadi instrumen sosial, tetapi juga strategi pembangunan berbasis partisipasi warga.

Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag mengembangkan model yang melibatkan delapan lembaga amil zakat (LAZ) dan pemerintah daerah. Kampung Zakat Wunung bertujuan menjadi model integrasi antara zakat, wakaf produktif, dan ekonomi lokal di tingkat akar rumput.

“Kampung Zakat bukan hanya tempat menyalurkan bantuan, tapi laboratorium sosial untuk membangun ekonomi umat,” ujar Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono Abdul Ghafur kepada wartawan pada Sabtu (25/10).

Waryono menekankan bahwa zakat dan wakaf harus ditempatkan sebagai modal produktif, bukan sekadar kegiatan filantropi sesaat. Salah satu contohnya adalah Kampung Alpukat yang telah dirintis sejak 2022. Di sini, lebih dari 2.000 pohon alpukat ditanam di lahan warga. Hasilnya bukan hanya panen buah, tetapi juga munculnya produk turunan seperti teh daun alpukat, brownies, dan kain ecoprint dari pewarna alami.

Program ini melibatkan kelompok ibu rumah tangga dan pelaku UMKM, sehingga membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat rantai ekonomi lokal. Dukungan berbagai LAZ membuat dampaknya semakin luas, mulai dari beasiswa anak yatim hingga pengembangan industri minyak atsiri dari tanaman nilam. Alpukat kini bukan sekadar komoditas, tetapi simbol kemandirian ekonomi warga Wunung.

Kolaborasi Lembaga Amil Zakat

Kampung Zakat Wunung disebut sebagai contoh nyata transformasi pengelolaan dana umat di Indonesia. Delapan lembaga seperti LMI, Dompet Dhuafa, Lazis NU, Rumah Yatim, dan Nurul Hayat berkomitmen aktif menggerakkan berbagai sektor, dari pertanian, pendidikan, sosial, hingga peternakan.

Selain zakat, aspek wakaf produktif juga menjadi bagian penting. Kementerian Agama tengah memfasilitasi sertifikasi tanah wakaf di wilayah tersebut agar bisa dikelola secara legal dan berkelanjutan sebagai bagian dari Kota Wakaf Gunungkidul.

Menurut data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), sedikitnya 257 keluarga mustahik menjadi sasaran utama program ini. Mereka akan menerima manfaat berupa modal usaha, pelatihan, dan intervensi sosial yang diharapkan mengurangi kerentanan ekonomi rumah tangga.

Program Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis KUA

Tidak hanya soal ekonomi, program itu juga menyoroti persoalan sosial seperti meningkatnya angka perceraian akibat tekanan ekonomi. Melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis KUA, masyarakat difasilitasi untuk membangun usaha kecil, baik dalam bentuk uang maupun barang, guna memperkuat ketahanan keluarga.

“Zakat dan wakaf bukan semata soal ibadah, tapi wujud keadilan sosial. Ia harus menumbuhkan solidaritas dan kemandirian,” tegas Waryono.

Dengan peluncuran Kampung Zakat Wunung, Gunungkidul kini menjadi contoh sukses bagaimana dana sosial keagamaan dapat diubah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pendekatan berbasis kolaborasi lintas lembaga dan partisipasi warga menjadi kunci keberlanjutan program ini.

Bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat model serupa akan direplikasi di berbagai daerah lain, menjadikan zakat dan wakaf bukan hanya urusan spiritual, tapi juga strategi nasional mengatasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Kampung Zakat Wunung Jadi Model Ekonomi Berkelanjutan Umat Gunungkidul ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar