Kelola Aset Rp1.000 Triliun, Ekonom: Waktunya Danantara Ambil Tindakan

Kelola Aset Rp1.000 Triliun, Ekonom: Waktunya Danantara Ambil Tindakan

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Kelola Aset Rp1.000 Triliun, Ekonom: Waktunya Danantara Ambil Tindakan menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Peran Danantara dalam Meningkatkan Kualitas Ekonomi Indonesia


Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Nazaruddin Malik, menilai bahwa saat ini sudah tiba waktunya bagi Danantara Indonesia untuk melakukan aksi nyata dengan melakukan investasi yang signifikan. Hal ini setelah Danantara berhasil mengelola aset senilai US$1.000 miliar atau sekitar Rp16.343,29 triliun.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menurut Prof Nazaruddin Malik, seorang ekonom berlatar belakang akademis, mencapai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% akan sangat sulit jika hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, diperlukan sumber pendanaan lain yang besar, seperti Danantara, untuk meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia.

"Adanya Danantara diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Nazaruddin Malik dalam acara Studium General bertajuk "Peran Danantara dalam Meningkatkan Kualitas Ekonomi Indonesia: Membangun Generasi Emas, Berdaya & Mandiri". Acara ini disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia, Prof. Muliaman Darmansyah Hadad, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/10/2025).

Dengan keberhasilan Danantara mengelola aset sebesar US$1.000 miliar, Nazar menilai sudah seharusnya dilanjutkan dengan realisasi investasi besar di sektor produktif. Menurutnya, perluasan aset Danantara juga bisa dilakukan dengan mengelola aset pemerintah di daerah. Aset-aset tersebut perlu didata terlebih dahulu agar nantinya benar-benar bisa menjadi produktif.

Di sektor pendidikan, dia menegaskan bahwa sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) dana Danantara sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor tersebut. Salah satu caranya adalah dengan memberikan beasiswa bagi dosen maupun mahasiswa.

Strategi Danantara dalam Perekonomian Nasional

Menurut Muliaman Darmansyah Hadad, perekonomian Indonesia dinilai membutuhkan mesin penggerak baru di luar APBN untuk menembus stagnasi pertumbuhan di angka 5%. Ia menjelaskan bahwa Danantara Indonesia dibentuk sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana kekayaan negara yang berfungsi mengelola aset dan dividen dari BUMN secara lebih produktif.

Langkah ini menjadi strategi penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional yang berorientasi pada keberlanjutan dan kemakmuran lintas generasi. Danantara hadir bukan sebagai lembaga baru semata, melainkan sebagai instrumen pembangunan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan menyiapkan tabungan jangka panjang bagi bangsa.

"Pertumbuhan ekonomi kita terlalu lama tertahan di sekitar 5% karena tumpuannya hanya pada APBN. Kita butuh mesin ekonomi kedua yang bisa menggerakkan produktivitas, mengonsolidasikan aset negara, dan menyalurkannya ke investasi jangka panjang agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Danantara memiliki peran penting dalam mentransformasi aset-aset BUMN. BUMN selama ini merupakan aset negara yang dipisahkan (sovereign asset), dan melalui Danantara diharapkan bisa memberikan sumbangsih ekonomi yang lebih besar bagi pembangunan nasional.

Prinsip Tata Kelola Global dan Fokus Investasi

Lembaga ini juga mengadopsi prinsip-prinsip tata kelola global (Santiago Principles) untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan investasinya. “BUMN adalah aset negara yang harus produktif. Tugas Danantara adalah memastikan aset-aset itu tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi kekuatan baru untuk membangun ekonomi nasional yang berdaya dan mandiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Dewan Pengawas BPI Danantara Indonesia, Muliaman Darmansyah Hadad, juga menjelaskan empat alasan fundamental dibentuknya lembaga SWF, yakni sebagai tabungan antargenerasi, sarana diversifikasi aset, pendorong pembangunan ekonomi, serta mekanisme untuk memaksimalkan hasil investasi jangka panjang.

Berbeda dengan negara-negara penghasil minyak seperti Norwegia atau Uni Emirat Arab, Indonesia membangun SWF berbasis non-komoditas dengan fokus pada hasil usaha BUMN dan aset-aset domestik yang dikelola secara profesional.

Fokus pada Sektor Prioritas

Menurut Muliaman, Danantara menempatkan investasi pada delapan sektor prioritas, antara lain energi terbarukan, mineral dan pertambangan, infrastruktur digital, jasa keuangan, kesehatan, pangan, serta kawasan industri dan properti. Arah kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mempercepat transformasi menuju Indonesia Emas 2045.

"Sumber kekuatan kita bukan minyak atau gas, melainkan kreativitas dan produktivitas bangsa sendiri. Karena itu Danantara berfokus domestik, namun tetap membuka ruang bagi investor global untuk berkolaborasi," kata dia.

Wakil Rektor II UMM bidang Umum dan Keuangan, Ahmad Juanda, mengatakan UMM mendukung penuh visi pembangunan nasional melalui peran pendidikan dan penguatan SDM. UMM, lanjut Juanda, berkomitmen untuk menjadi bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi bangsa.

"Melalui Center of Future Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE), UMM berupaya menyiapkan lulusan yang proaktif, tidak hanya siap kerja tetapi juga mampu menciptakan kerja. Semangat yang dibawa Danantara untuk membangun ekonomi mandiri sejalan dengan misi UMM sebagai kampus berdampak, yang terus berkontribusi menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Kelola Aset Rp1.000 Triliun, Ekonom: Waktunya Danantara Ambil Tindakan ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar