Kemenag Perhatikan Banyak yang Mengaku Dai Tapi Kurang Ilmu

Kemenag Perhatikan Banyak yang Mengaku Dai Tapi Kurang Ilmu

Kabar dunia hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Kemenag Perhatikan Banyak yang Mengaku Dai Tapi Kurang Ilmu tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kemenag Perhatikan Kualitas Dai dan Ulama

Kementerian Agama (Kemenag) menyadari adanya fenomena yang cukup mengkhawatirkan, yaitu banyak orang yang mengaku sebagai dai, namun pemahaman mereka terhadap agama masih minim. Untuk itu, Kemenag terus berupaya memperkuat kaderisasi ulama dan dai agar mereka memiliki pengetahuan yang memadai sebelum menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat.

Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, menegaskan bahwa saat ini banyak orang yang menyebut dirinya sebagai dai, tetapi pemahaman agamanya belum cukup dalam. Ia menjelaskan bahwa salah satu upaya Kemenag untuk menciptakan dai atau ulama yang kompeten adalah melalui ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII.

Menurut Ismail, keberadaan dai yang kompeten sangat penting agar masyarakat semakin dekat dengan ajaran agamanya. “Menteri Agama Nasaruddin Umar pernah menyampaikan bahwa ketika umat dekat dengan agama, negara akan damai. Sebaliknya, jika umat jauh dari ajaran agama, potensi kekacauan bisa terjadi,” ujarnya.

STQH sebagai Wadah Kaderisasi Dai

STQH Nasional XXVIII menjadi salah satu wadah untuk kaderisasi dai. Para kafilah dari berbagai daerah bersaing dalam keilmuan Alquran dan Hadits. Melalui ajang ini, diharapkan muncul generasi dai yang lebih berkualitas dan mampu memberikan pencerahan bagi masyarakat.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa kegiatan STQH Nasional XXVIII diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Selain lomba keilmuan, acara ini juga menyajikan diskusi tentang pembinaan karakter, ketahanan keluarga, toleransi, merawat kerukunan, dan menjaga lingkungan.

Abu menambahkan bahwa STQH Nasional XXVIII juga menjadi pusat talenta Kemenag. Para juara perlombaan masuk dalam daftar talenta yang siap mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional serupa.

Hasil Kompetisi STQH Nasional

Pada STQH Nasional dua tahun lalu di Jambi, kontingen Jawa Timur berhasil menjadi juara umum, diikuti oleh DKI Jakarta di posisi kedua. Kemenag memastikan bahwa proses penilaian berjalan secara objektif dan transparan. Hal ini bertujuan untuk menjaga integritas dan kredibilitas acara tersebut.

Dengan adanya STQH Nasional, Kemenag tidak hanya fokus pada kompetisi keilmuan, tetapi juga membuka ruang untuk diskusi dan dialog yang lebih luas. Acara ini menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya pendidikan agama yang benar dan berkelanjutan.

Peran Dai dalam Pembangunan Bangsa

Dai memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa, terutama dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan moral di tengah masyarakat. Dengan kaderisasi yang baik, dai dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan antarumat beragama.

Selain itu, dai juga menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik atau perbedaan pendapat yang muncul di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Kemenag terus mendorong pelibatan dai dalam berbagai program pembangunan nasional, baik secara langsung maupun melalui pendekatan edukasi dan pemberdayaan.

Tantangan dan Solusi

Meskipun ada kemajuan dalam kaderisasi dai, masih terdapat tantangan seperti kurangnya sumber daya dan minat masyarakat terhadap pendidikan agama. Untuk mengatasi hal ini, Kemenag terus melakukan inovasi dalam penyelenggaraan STQH dan program lainnya.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
Peningkatan kualitas pelatihan bagi para dai
Pengembangan sistem pendidikan agama yang lebih inklusif
* Penguatan kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan

Dengan demikian, diharapkan keberadaan dai dan ulama yang kompeten akan semakin meningkat, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan negara.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Simak terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar