
aiotrade, JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan Brasil memperkuat kemitraan strategis di bidang ekonomi hijau. Kesepakatan ini mencakup pengembangan bioenergi, ketahanan pangan, serta pembangkit listrik. Adapun total kesepakatan bisnis mencapai US$5 miliar atau setara Rp83,2 triliun (asumsi kurs Rp16.637/US$). Penguatan kemitraan Indonesia - Brasil ditandai dengan kunjungan kenegaraan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, ke Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025).
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan pertemuan bilateral kali ini berlangsung intensif dan produktif, menandai komitmen kedua negara sebagai kekuatan ekonomi baru yang terus berkembang di kawasan global selatan.
“Kita sudah sepakat di bidang energi, termasuk penandatanganan kesepakatan yang cukup signifikan antara PLN dan swasta,” ujar Presiden Prabowo, Kamis (23/10/2025).
Fokus Utama Kolaborasi
Kolaborasi di sektor bioenergi menjadi salah satu fokus utama, mengingat Brasil merupakan produsen etanol terbesar kedua di dunia. Pengalaman Brasil dalam pengembangan energi rendah karbon dinilai sangat relevan bagi Indonesia.
"Brasil adalah salah satu yang terdepan di dunia dalam hal bioenergi, khususnya etanol. Melalui nota kesepahaman (MoU) ini, kita akan serius mendorong alih teknologi dan transfer pengalaman mereka untuk mendukung percepatan program bioenergi nasional," jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Kerja Sama Sebagai Tindak Lanjut
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Brasil pada Juli 2025 lalu.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Patria Sjahrir, mengungkapkan sejumlah MoU penting telah ditandatangani antara pihak Indonesia dan Brasil dalam kunjungan kenegaraan tersebut.
Pandu menyebut MoU tersebut melibatkan BPI Danantara, PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero) yang berfokus pada investasi lintas sektor strategis.
“Tadi ada beberapa MoU yang dilakukan antara Danantara, termasuk PLN dan Pertamina untuk investasi di sektor pangan, investasi juga di sektor energi, dan pembangkit energi baru,” kata Pandu.
Menurutnya, total nilai kerja sama investasi yang dijajaki dari tiga sektor tersebut mencapai sekitar US$5 miliar.
“Iya, semuanya [total nilai US$5 miliar] di antara tiga [sektor] itu tapi nggak breakdown,” ujarnya.
Proyek-Proyek Kerja Sama
Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa proyek-proyek kerja sama tersebut akan mencakup pengembangan energi terbarukan, ketahanan pangan, serta transisi energi bersih yang melibatkan pengolahan bahan bakar berkelanjutan (sustainable fuel).
“Jadi energi itu renewable, terus sektor pangan, dan sektor pembangkit tenaga listrik. Pertamina itu soal sustainable fuel,” jelasnya.
Pandu pun mengamini kerja sama energi itu termasuk pengembangan etanol. Adapun terdapat 8 nota kesepahaman yang ditandatangani usai melakukan pertemuan bilateral.
Salah satunya, MoU antara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Indonesia dan J&F S.A Brasil.
Kehadiran J&F S.A.
Kesepakatan Indonesia dan Brasil ini semakin mengukuhkan posisi kedua negara sebagai kekuatan ekonomi baru dari Global South yang aktif membangun arsitektur ekonomi hijau dan industri berkelanjutan.
Adapun J&F S.A. adalah sebuah konglomerasi Brasil yang memiliki portofolio bisnis yang sangat luas dan berpengaruh secara global. Melalui J&F Bioenergia, anak usaha yang fokus pada produksi etanol dari tebu dan bioenergi lainnya.
Komentar
Kirim Komentar