
Kehilangan Anak, Sebuah Ujian Ketabahan
Kehilangan buah hati adalah salah satu ujian terberat yang bisa dialami oleh orang tua. Namun, dalam lembaran sejarah Islam, terdapat sosok wanita mulia yang ketabahannya melampaui logika manusia biasa. Ia adalah Ummu Sulaim (Rumaysha binti Milhan), seorang sahabiyah yang dikenal karena kecerdasan dan keimanannya yang kokoh. Kisah Ummu Sulaim saat ditinggal mati anaknya bukan sekadar cerita duka, melainkan madrasah tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya menyikapi takdir Allah dengan rida dan ketenangan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Detik-Detik Kepergian Abu Umair
Suatu hari, putra kecil Ummu Sulaim dari pernikahannya dengan Abu Thalhah yang bernama Abu Umair, menderita sakit keras. Saat itu, Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah atau tengah menjalankan ibadah puasa. Di tengah ketiadaan sang suami, malaikat maut datang menjemput nyawa si kecil.
Alih-alih meratapi nasib dengan teriakan yang memilukan, Ummu Sulaim justru menunjukkan reaksi yang mencengangkan. Beliau memandikan jenazah anaknya, mengafaninya, dan meletakkannya di tempat tidur seolah-olah sang anak hanya sedang terlelap tidur.
Kecerdasan Ummu Sulaim Menenangkan Suami
Ketika Abu Thalhah pulang di malam hari dan bertanya, "Bagaimana keadaan anak kita?", Ummu Sulaim menjawab dengan kalimat yang sangat bijak: "Dia sedang dalam keadaan tenang dan lebih baik." Jawaban ini mengandung kebenaran (karena orang yang meninggal telah tenang dari rasa sakit dunia), namun juga bertujuan agar suaminya bisa berbuka puasa dan beristirahat dengan tenang.
Malam itu, Ummu Sulaim bahkan berdandan cantik, melayani suaminya dengan penuh kasih sayang, hingga mereka melakukan hubungan suami istri.
Perumpamaan Titipan, Cara Bijak Menyampaikan Kabar Duka
Setelah suaminya merasa tenang dan puas, barulah Ummu Sulaim menyampaikan kabar duka tersebut dengan sebuah kiasan yang sangat menyentuh. "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada orang yang meminjamkan barang kepada suatu keluarga, lalu ia meminta kembali barang titipannya. Apakah mereka berhak menahannya?" tanya Ummu Sulaim. Abu Thalhah menjawab, "Tentu saja tidak."
Maka dengan lembut Ummu Sulaim berkata, "Maka berharaplah pahala dari Allah atas kematian anakmu."
Buah Kesabaran, Doa Rasulullah dan Berkah Keturunan
Mendengar berita itu, Abu Thalhah sempat merasa kaget dan melaporkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukannya mencela, Rasulullah justru tersenyum dan mendoakan keberkahan atas malam yang mereka lalui.
Hasil dari kesabaran yang menakjubkan ini, lahirnya Abdullah. Dari hubungan malam itu, Ummu Sulaim mengandung dan melahirkan seorang putra bernama Abdullah. Keturunan Penghafal Al-Qur'an. Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abi Thalhah kelak memiliki sembilan anak, dan semuanya menjadi hafiz (penghafal) Al-Qur'an. Ini adalah buah dari keridaan orang tuanya terhadap takdir Allah.
Mengambil Hikmah dari Ketabahan Rumaysha
Kisah Ummu Sulaim mengajarkan kita bahwa sabar bukan berarti tidak sedih, melainkan mampu mengendalikan diri dan tetap berprasangka baik kepada Allah di saat terpahit sekalipun. Dunia hanyalah tempat penitipan, dan setiap yang dipinjamkan pasti akan diminta kembali oleh Sang Pemilik.
Semoga kita bisa meneladani kekuatan iman Ummu Sulaim dalam menghadapi setiap badai ujian dalam hidup kita. Amin.
Komentar
Kirim Komentar