
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pertumbuhan Sektor Perbankan di Wilayah Timur Indonesia
Sektor perbankan di wilayah timur Indonesia, yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), menunjukkan adanya peningkatan kinerja secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga Agustus 2025. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perbankan mulai membaik setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami stagnasi.
Total aset perbankan di wilayah tersebut tercatat sebesar Rp562,4 triliun atau tumbuh sebesar 5,22% YoY. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp352,85 triliun dengan pertumbuhan sebesar 4,01% YoY. Penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,02% YoY, mencapai Rp440,97 triliun.
Meski pertumbuhan yang terjadi masih cukup moderat, kinerja tersebut sedikit lebih baik dibandingkan posisi hingga Mei 2025. Pada saat itu, rata-rata pertumbuhan aset hanya sebesar 4,49% YoY, sementara DPK hanya tumbuh sebesar 2,52% YoY.
Dominasi Tabungan dalam Penghimpunan Dana
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menjelaskan bahwa berdasarkan portofolio, penghimpunan dana pihak ketiga di wilayah timur didominasi oleh tabungan sebesar 57,31%. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan tetap terjaga.
Menurut Muchlasin, preferensi masyarakat untuk menyimpan dana dalam bentuk tabungan yang lebih likuid turut mendukung stabilitas penghimpunan dana. Namun, meskipun ada peningkatan, penyaluran kredit menjadi komponen yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Kinerja Penyaluran Kredit yang Masih Tertahan
Pertumbuhan penyaluran kredit pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,02% YoY, yang jauh lebih rendah dibandingkan posisi Mei 2025 yang mencapai 5,02% YoY. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh kontraksi penyaluran kredit pada segmen kredit modal kerja.
Muchlasin menjelaskan bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, serta kurangnya permintaan dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meskipun demikian, OJK menilai bahwa kinerja penyaluran kredit tetap menunjukkan aktivitas intermediasi yang berjalan lancar.
Rasio LDR dan NPL yang Menunjukkan Stabilitas
Dalam hal rasio antara kredit dan dana, yaitu loan to deposit ratio (LDR), angka yang tercatat adalah sebesar 124,97%. Angka ini menunjukkan bahwa bank masih mampu memanfaatkan dana yang terkumpul untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat.
Sementara itu, rasio nonperforming loan (NPL) atau kredit bermasalah masih terjaga pada level 2,80%, yang menunjukkan bahwa risiko kredit tetap dalam batas yang dapat dikelola. Hal ini menjadi indikator positif bagi stabilitas sektor perbankan di wilayah Sulampua.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meski kinerja sektor perbankan menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tantangan masih tetap ada. Salah satunya adalah meningkatkan efisiensi penyaluran kredit agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha. Di sisi lain, peluang untuk meningkatkan pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga masih terbuka lebar, terutama jika masyarakat semakin percaya pada layanan perbankan.
Dengan langkah-langkah yang tepat, sektor perbankan di wilayah timur Indonesia bisa terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Komentar
Kirim Komentar