KNEKS: Nilai Haji dan Umrah Terbuang ke Luar Negeri

KNEKS: Nilai Haji dan Umrah Terbuang ke Luar Negeri

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai KNEKS: Nilai Haji dan Umrah Terbuang ke Luar Negeri menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


Potensi Ekonomi Industri Haji dan Umrah yang Masih Terabaikan

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Industri haji dan umrah di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, namun pengelolaannya dinilai belum optimal. Sampai saat ini, nilai tambah dari sektor ini masih banyak mengalir ke luar negeri, sehingga manfaat ekonomi bagi pelaku usaha dalam negeri belum maksimal.

Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Sutan Emir Hidayat menilai bahwa industri haji dan umrah nasional belum terkelola sebagai satu ekosistem ekonomi yang terintegrasi. Padahal, sektor ini memiliki keterkaitan langsung dengan berbagai industri lain seperti halal, UMKM, jasa keuangan syariah, serta logistik.

“Indonesia masih berperan besar sebagai penyedia jamaah, bukan sebagai pemilik rantai nilai. Nilai tambah domestik masih terbatas pada travel agent dan sebagian perlengkapan jamaah,” ujar Sutan kepada aiotrade, Senin (22/12/2025).

Jika dikelola secara terpadu, industri haji dan umrah menurut Sutan berpotensi menciptakan lapangan kerja yang luas dan mendorong pemerataan ekonomi. Namun, masalah utamanya datang dari struktur industri itu sendiri.

Multiplier Effect yang Bocor

Multiplier effect dari industri haji dan umrah dinilai masih “bocor” ke luar negeri, terutama pada sektor transportasi udara, akomodasi, katering, dan layanan pendukung di Arab Saudi. Produk konsumsi jamaah pun sebagian besar masih dipasok dari negara lain, sehingga manfaat ekonomi bagi pelaku usaha dan petani domestik belum maksimal. Kondisi ini membuat nilai tambah domestik yang dinikmati Indonesia masih terbatas.

Sutan menjelaskan bahwa Indonesia masih berada di posisi hilir dalam rantai nilai global haji dan umrah. Akibatnya, meskipun permintaan terus tumbuh, dampaknya terhadap perekonomian nasional belum sebanding.

Tantangan Eksternal yang Mengancam

Tekanan eksternal diperkirakan masih akan membayangi sektor ini pada 2026. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan riyal Arab Saudi berpotensi meningkatkan biaya paket, sementara dinamika geopolitik Timur Tengah turut memengaruhi biaya asuransi, penerbangan, dan logistik.

Di saat yang sama, kebijakan Arab Saudi lewat Vision 2030 yang kian melonggarkan akses visa diperkirakan akan meningkatkan volume jamaah, tapi juga memperketat persaingan harga dan kualitas layanan.

Pembenahan Kebijakan yang Diperlukan

Dengan demikian, tantangan tersebut menuntut pembenahan kebijakan yang lebih terintegrasi. Penguatan standarisasi produk, konsolidasi UMKM agar mampu memenuhi skala ekonomi, serta diplomasi ekonomi dengan Arab Saudi menjadi kunci untuk menekan kebocoran ekonomi.

Di saat yang sama, pengembangan pembiayaan syariah dan platform digital haji dan umrah buatan dalam negeri juga dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia.

“Selain itu, KNEKS mendorong penguatan hilirisasi nilai dan pembiayaan syariah, termasuk standardisasi produk, konsolidasi UMKM, serta diplomasi ekonomi dengan Arab Saudi,” pungkas Sutan.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai KNEKS: Nilai Haji dan Umrah Terbuang ke Luar Negeri ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar