
Sesekali, seseorang duduk sendirian di sudut kafe kecil, menikmati secangkir kopi tanpa gula. Awalnya, itu hanya sekadar rutinitas harian. Namun, cerita dari penjual kopi dan batagor yang mengeluhkan penurunan daya beli membuat perhatian saya tertarik.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pembicaraan tersebut akhirnya mendorong saya untuk memesan sepiring batagor dengan harga Rp5.000. Meskipun porsi terlalu besar bagi saya, saya memilih untuk mencoba. Penjual mengatakan bahwa dulu pada hari Minggu, warung selalu ramai. Kini, suasana jauh berbeda. Mereka mengeluhkan kesulitan finansial dan penurunan daya beli. Benarkah ini terjadi?
Beberapa hari sebelumnya, saya juga berbincang dengan pemilik warung nasi. Perbincangan itu membuka wawasan baru tentang situasi ekonomi yang dialami para pedagang kecil.
Setelah berjalan-jalan pagi, saya singgah di sebuah warung yang nyaman. Saya tidak ingin makan, hanya memesan jeruk hangat dengan sedikit gula. Dari percakapan tersebut, saya mengetahui bahwa harga bahan-bahan pokok seperti minyak dan gula meningkat. Harga minyak naik dari Rp16.000 menjadi Rp19.000 per liter, sedangkan gula naik dari Rp15-16.000 menjadi Rp18-19.000 per kilogram.
Penjual mengeluhkan kenaikan biaya produksi yang semakin tinggi. "Gak kuat modal," katanya dengan nada lirih. Selain itu, penjualan menurun dibanding sebelumnya. Ia memperkirakan bahwa jumlah pelanggan berkurang atau mereka mengurangi pengeluaran. Sebelumnya, pelanggan biasa memesan kopi, camilan, mi instan, atau nasi rames. Kini, mereka hanya memesan kopi dan sesekali camilan.
Akibatnya, menu di etalase warung terbatas. Hanya beberapa hidangan seperti telur dadar, tempe orek, ikan goreng, sup, dan tumis kecambah yang tersedia.
Pada hari lain, saya menyusuri gang sempit yang berliku seperti labirin. Di sana, saya beristirahat di buk (tempat duduk beton). Di depan saya, ada gerobak penjualan gorengan dan cireng. Di sebelahnya, ada pikulan baslok. Daftar menu terpampang di dinding belakang tempat saya duduk.
Tidak lama kemudian, seorang pedagang keliling menawarkan gorengan dan mi goreng. "Masih banyak, nih. Sepi," katanya sambil meletakkan barang dagangannya. Pukul sepuluh pagi, barang dagangan masih penuh di keranjang.
Seorang ibu di sebelah saya bertanya, "Meunang nganjuk? Belum ada duit nih." Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil sebungkus bihun goreng harga Rp3 ribu. "Meunang nganjuk?" dalam bahasa Sunda berarti "boleh berutang?"
Pedagang itu mengangkat keranjang plastik dan melanjutkan perjalanan. Saya berjalan ke gerobak dan memesan cireng. Penjual menunjukkan empat potong cireng yang sudah digoreng.
Di antara waktu sarapan dan makan siang, saya menyantap cireng hangat sambil berbincang dengan para pedagang. Ternyata, mereka satu rumah. Ibu di sebelah saya yang tadi membeli bihun adalah ibu dari penjual di gerobak. Suaminya menjual baslok pikulan, sedangkan dua anak perempuan mereka menjual di gerobak karena belum mendapat pekerjaan.
Gerobak alumunium dan pikulan tidak bergerak dari posisi mereka. Mereka bergantung pada pembeli tetangga atau orang lewat seperti saya. "Ngider, sepi pembeli juga. Mending di sini. Nggak capek, hasil sama," ujar penjual baslok.
Menurutnya, saat ini lebih sulit melariskan dagangan. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Katanya, orang-orang sedang kesulitan uang. Saya memaknainya sebagai penurunan daya beli.
Dua minggu lalu, setelah pertemuan dengan Kompasianer Efwe di Stasiun Bogor, saya duduk di dekat halte BisKita menunggu kerabat. Sembari menanti, saya memesan kopi. Dari percakapan dengan penjual kopi yang juga menjual batagor, saya mendengar ungkapan serupa: uang sedang susah didapat; penjualan menurun.
Pedagang kecil itu mengatakan bahwa dulu hari Minggu selalu ramai. Sekarang, sepi. Ia mengira hanya dirinya yang mengalami sepi, ternyata pedagang kecil di sekitarnya mengalami hal yang sama.
Menurut penuturannya, selama setahun terakhir, kondisi sepi terjadi. Ia mengukur dari kuantitas tepung terigu yang biasa dibeli 10 kilogram per hari, kini hanya 3 kilogram sehari. Itu pun kadang tidak habis.
Akhirnya, saya memesan batagor hanya sebagai upaya kecil membantu melariskan dagangan. Harganya Rp5.000 saja. Mborong? Tidaklah! Uang saya juga terbatas.
Tak jarang, saya membeli penganan atau makanan berat bukan karena lapar, melainkan untuk turut melariskan barang jualan pedagang kecil yang menghadapi situasi sulit. Pengetahuan tentang kesulitan mereka didapat setelah berbincang dengan mereka.
Membeli tidak banyak. Lima ribu sampai sepuluh ribu perak. Jumlah kecil bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang biasa dikawal "tot tot wuk wuk". Namun bagi saya, uang tersebut merupakan upaya kecil menggerakkan perputaran modal seorang pedagang kecil. Dengan gembira, mereka menepuk-nepukkan lembaran diterima pada gerobak. Doa pelaris.
Saya tidak ingin menambahkan modal. Kondisi keuangan tidak memungkinkan memfasilitasinya. Lagi pula, pemberian modal kepada suatu usaha memerlukan penelitian cermat tentang peluang dan risikonya.
Memberi referensi ke akses permodalan? Itu bisa berarti bertambahnya kerumitan baru bagi pedagang kecil itu.
Maka, satu hal yang bisa saya lakukan adalah membeli barang dagangan mereka. Hanya dengan sedikit uang, mungkin menjadi awal larisnya barang dagangan. Moga-moga.
Selain itu, dari perbincangan dengan para pedagang kecil di atas, saya mendapatkan sedikit pemahaman:
- Dalam skala terbatas, terjadi penurunan daya beli konsumen yang menyurutkan penjualan usaha kecil.
- Penurunan bisa jadi karena konsumen mengurangi pengeluaran mereka, lantaran hendak mengirit atau sebab kenaikan harga-harga kebutuhan lainnya.
- Jumlah pembeli berkurang. Mereka lebih berhati-hati mengeluarkan uang setelah, misalnya, di-PHK.
- Boleh jadi sebagian konsumen beralih ke lain hati (ke warung lain).
- Persaingan meningkat, lantaran tumbuhnya usaha sejenis. Mungkin saja mereka yang tadinya berlaku sebagai pembeli, sekarang jadi penjual penganan, nasi, atau kopi.
- Para pedagang kecil tersebut bertahan, lantaran belum ada sumber penghasilan pengganti.
Tentunya, simpulan tersebut amatlah sederhana. Mengabaikan faktor lebih kompleks yang berpengaruh terhadap penurunan penghasilan pedagang kecil di atas, seperti: perubahan selera; penentuan lokasi; suasana; pilihan menu; pelayanan; hingga dinamika keadaan ekonomi makro.
Jadi artikel ini bukan analisis pakar atau ekonom, melainkan pandangan naif seorang man on the street ketika memaknai perbincangan dengan para pedagang kecil.
Juga bukan generalisasi atau penyamaratan terhadap suatu kedaan. Bahasan bersudut pandang sempit ini hanya memotret keadaan terbatas pada dua tiga pedagang kecil.
Harapan besar saya, semoga bisikan lirih pedagang kecil itu didengar oleh para petinggi di atas sana. Mereka tidak lantas terpinggirkan, berhubung "tot tot wuk wuk" hendak melintas.
Komentar
Kirim Komentar