Menteri Perindustrian Percaya Indonesia Puncaki Ekosistem Industri Halal Global

Menteri Perindustrian Percaya Indonesia Puncaki Ekosistem Industri Halal Global

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Menteri Perindustrian Percaya Indonesia Puncaki Ekosistem Industri Halal Global menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Indonesia masih kalah dari Malaysia dalam pemeringkatan ekosistem industri halal. Untuk itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menginginkan Indonesia bisa berada pada posisi pertama.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Saat ini, berdasarkan The Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, Malaysia menempati peringkat pertama dengan skor 165,1. Pada peringkat kedua terdapat di Arab Saudi dengan skor 100,9, sementara Indonesia berada di peringkat ketiga dengan skor 99,9.

“Kita harus yakin dan kita akan terus mengupayakan kalau tidak dalam waktu lama kita akan menempatkan posisi pertama dalam pembangunan atau pembangunan produk-produk halal atau ekosistem industri halal,” kata Agus dalam konferensi pers capaian kinerja 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan pada Senin (20/10).

Adapun pada peringkat keempat terdapat Uni Emirat Arab dengan skor 95,8 dan Bahrain dengan skor 81,9. Pemeringkatan tersebut dilakukan berdasarkan beberapa komponen yakni finansial, regulasi halal, kesadaran masyarakat, sosial dan inovasi.

Meski berada di peringkat ketiga, Agus menuturkan pertumbuhan Indonesia dalam pemeringkatan tersebut lebih tinggi dari Malaysia.

“Indonesia mencatat sebagai negara dengan kenaikan skor tertinggi dibanding 2024 yaitu naik 19,8 poin, di mana Malaysia walaupun masih berada di ranking utama, tetapi poinnya turun negatif 28,1 dibandingkan 2024,” ujarnya.

Sementara itu, Arab Saudi mencatat pertumbuhan 7,3 poin, UEA 16 poin dan Bahrain 81,9 poin. Agus juga menjelaskan saat ini ada tiga sektor yang terkait industri manufaktur yang masuk dalam penilaian pemeringkatan tersebut.

Sektor tersebut adalah fashion halal, makanan halal dan farmasi serta kosmetik halal. Di sektor fashion halal, Indonesia berada di peringkat pertama di atas Malaysia, Italia, Turki dan Singapura.

Sementara di sektor makanan halal Indonesia masih berada di peringkat keempat di bawah Malaysia, Singapura, UEA namun di atas Yordania. Untuk sektor farmasi dan kosmetik halal, Indonesia masih berada di peringkat kedua di bawah Malaysia namun berada di atas UEA, Singapura.

Ke depan, Kemenperin juga akan melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam pemeringkatan tersebut.

“Masih banyak sekali yang kita lakukan untuk memperbaiki dan juga mengejar potensi dari ekonomi halal yang begitu besar,” kata Agus.

Strategi Peningkatan Ekosistem Industri Halal

Untuk mencapai posisi pertama dalam pemeringkatan ekosistem industri halal, Kemenperin telah merancang beberapa strategi. Berikut beberapa langkah yang akan diambil:

  • Penguatan Regulasi: Memastikan adanya aturan yang jelas dan konsisten dalam pengembangan industri halal, termasuk standar produksi dan sertifikasi.
  • Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Melakukan kampanye edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya produk halal dan manfaatnya bagi kesehatan dan keyakinan.
  • Dukungan Finansial: Memberikan insentif dan dukungan keuangan kepada pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk halal.
  • Inovasi Teknologi: Mengadopsi teknologi modern dalam proses produksi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk halal.
  • Kolaborasi Internasional: Menjalin kerja sama dengan negara-negara lain yang memiliki pengalaman dalam pengembangan industri halal.

Sektor yang Terlibat dalam Pemeringkatan

Terdapat tiga sektor utama yang menjadi fokus dalam pemeringkatan ekosistem industri halal, yaitu:

  • Fashion Halal: Indonesia berada di posisi pertama dalam sektor ini, mengungguli Malaysia, Italia, Turki, dan Singapura.
  • Makanan Halal: Indonesia berada di peringkat keempat, di bawah Malaysia, Singapura, dan UEA, namun unggul dari Yordania.
  • Farmasi dan Kosmetik Halal: Indonesia berada di posisi kedua, di bawah Malaysia, tetapi unggul dari UEA dan Singapura.

Potensi Ekonomi Halal yang Besar

Ekonomi halal memiliki potensi yang sangat besar, baik secara nasional maupun internasional. Dengan meningkatkan kualitas dan jumlah produk halal, Indonesia dapat memperkuat daya saingnya di pasar global.

Selain itu, pengembangan industri halal juga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen untuk terus memperbaiki dan mempercepat perkembangan industri halal di Indonesia.

Tantangan dan Peluang

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kurangnya Sumber Daya Manusia yang Terlatih: Diperlukan pelatihan dan pendidikan yang lebih intensif untuk meningkatkan kualitas SDM di bidang industri halal.
  • Infrastruktur yang Belum Memadai: Perlu investasi dalam infrastruktur seperti pusat sertifikasi dan laboratorium.
  • Persaingan Global: Harus siap bersaing dengan negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam industri halal.

Namun, dengan strategi yang tepat dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini untuk mencapai posisi terdepan dalam pemeringkatan ekosistem industri halal.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Menteri Perindustrian Percaya Indonesia Puncaki Ekosistem Industri Halal Global ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar