Net Inflow Rp1,75 Triliun Jadi Tanda Transaksi Tunai Kaltim Kuartal II/2025

Net Inflow Rp1,75 Triliun Jadi Tanda Transaksi Tunai Kaltim Kuartal II/2025

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Net Inflow Rp1,75 Triliun Jadi Tanda Transaksi Tunai Kaltim Kuartal II/2025 menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade,
BALIKPAPAN — Aliran uang kartal di Kalimantan Timur (Kaltim) pada kuartal II/2025 mencatatkan net inflow sebesar Rp1,75 triliun. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa nilai uang kartal yang masuk ke wilayahnya tercatat sebesar Rp4,22 triliun dalam transaksi tunai periode April hingga Juni 2025.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

"Sementara itu, nilai uang kartal yang diedarkan oleh otoritas moneter mengalami outflow sebesar Rp2,47 triliun," kata Budi Widihartanto dalam keterangan resmi, Kamis (23/10/2025).

Kondisi net inflow ini menunjukkan dinamika ekonomi yang sehat. Budi menyebutkan bahwa kebutuhan likuiditas masyarakat dan perbankan terpenuhi secara optimal tanpa mengorbankan fungsi pengawasan terhadap sirkulasi uang.

Secara spasial, kontribusi terbesar net inflow berasal dari wilayah kerja KPwBI Provinsi Kaltim yang menyumbang sebesar Rp1,43 triliun. Sementara itu, KPwBI Balikpapan mencatatkan net inflow sebesar Rp330 miliar.

Di sisi lain, dropping Uang Layak Edar (ULE) mengalami akselerasi pertumbuhan sebesar 6,60% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2025. Pencapaian ini berbeda dengan periode sebelumnya yang justru terkontraksi 0,81% (yoy) di kuartal I/2025.

Budi menyebutkan bahwa nominal ULE kuartal II/2025 tercatat sebesar Rp1,09 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I/2025 yang mencapai Rp1,06 triliun.

"Peningkatan dropping ULE tersebut sejalan dengan peningkatan permintaan pada kas titipan," ucapnya.

Dalam implementasi Clean Money Policy (CMP), Bank Indonesia mencatat penurunan signifikan pada penyerapan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) dari masyarakat. Nominal penarikan UTLE pada kuartal II/2025 turun tajam sebesar 55,55% (yoy) atau setara Rp80 miliar.

Namun, nilai nominal penarikan UTLE tetap konsisten dengan kuartal I/2025, kendati penurunan tahunan periode sebelumnya tercatat lebih dalam pada angka 70,12%.

Patut dicermati, rasio nominal penarikan UTLE terhadap inflow di Provinsi Kaltim justru mengalami kenaikan. Pada kuartal II/2025, rasio tersebut mencapai Rp4,22 triliun, melampaui capaian kuartal I-2025 yang tercatat Rp3,83 triliun.

Adapun, kenaikan rasio penarikan UTLE di awal tahun 2025 ini mengisyaratkan intensifikasi upaya otoritas moneter dalam mengoptimalkan distribusi uang berkualitas guna menopang kelancaran transaksi ekonomi di wilayah Benua Etam.

Faktor Pendukung Dinamika Ekonomi

Beberapa faktor dapat menjadi penyebab aliran uang kartal yang positif di Kalimantan Timur. Pertama, aktivitas ekonomi yang meningkat, terutama di sektor pariwisata dan perdagangan, memicu permintaan uang tunai yang lebih besar. Kedua, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter dan memastikan ketersediaan uang layak edar telah berdampak positif pada sistem perbankan dan masyarakat.

Selain itu, adanya inisiatif untuk mempercepat proses pembersihan uang tidak layak edar juga memberikan kontribusi signifikan. Dengan pengelolaan yang baik, Bank Indonesia berhasil mengurangi jumlah uang rusak yang beredar dan meningkatkan kualitas uang yang digunakan oleh masyarakat.

Kinerja Uang Layak Edar

Peningkatan dropping ULE menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya menggunakan uang yang layak edar. Hal ini juga didukung oleh kampanye yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan instansi terkait. Selain itu, peningkatan permintaan kas titipan menunjukkan bahwa lembaga keuangan juga aktif dalam mendukung program pembersihan uang.

Penurunan Penarikan UTLE

Penurunan signifikan dalam penarikan UTLE menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kualitas uang yang mereka miliki. Dengan demikian, jumlah uang tidak layak edar yang kembali ke Bank Indonesia semakin berkurang. Meskipun penurunan tahunan masih cukup dalam, tren ini menunjukkan adanya perbaikan dalam kesadaran masyarakat.

Rasio UTLE terhadap Inflow

Rasio nominal penarikan UTLE terhadap inflow yang meningkat menunjukkan bahwa Bank Indonesia semakin efektif dalam mengelola aliran uang. Dengan rasio yang lebih tinggi, hal ini menandakan bahwa jumlah uang yang dikembalikan sebagai UTLE lebih besar dibandingkan jumlah uang yang masuk ke wilayah Kaltim. Ini menjadi indikator bahwa pengelolaan uang kartal semakin optimal.

Kesimpulan

Kondisi aliran uang kartal di Kalimantan Timur pada kuartal II/2025 menunjukkan tren positif. Dengan net inflow sebesar Rp1,75 triliun, dinamika ekonomi di wilayah ini terlihat stabil dan sehat. Berbagai kebijakan dan inisiatif yang dilakukan oleh Bank Indonesia telah berdampak nyata, termasuk peningkatan kualitas uang layak edar dan penurunan jumlah uang tidak layak edar. Dengan terus memperkuat koordinasi antara pemerintah, bank sentral, dan masyarakat, diharapkan kondisi ekonomi di Kaltim akan terus meningkat.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Net Inflow Rp1,75 Triliun Jadi Tanda Transaksi Tunai Kaltim Kuartal II/2025 ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar