NYDIG: Bitcoin Bukan Pelindung Inflasi, Tapi Kuat Saat Dolar Melemah

NYDIG: Bitcoin Bukan Pelindung Inflasi, Tapi Kuat Saat Dolar Melemah

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai NYDIG: Bitcoin Bukan Pelindung Inflasi, Tapi Kuat Saat Dolar Melemah menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Peran Bitcoin sebagai Aset Lindung Nilai dan Barometer Likuiditas

Bitcoin, yang sering dijuluki sebagai "emas digital", tidak selalu berperan konsisten sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi seperti yang diperkirakan oleh komunitas kripto. Menurut Greg Cipolaro, Global Head of Research NYDIG, Bitcoin kini lebih berfungsi sebagai "barometer likuiditas" daripada pelindung nilai terhadap inflasi.

Dalam riset yang dirilis pada Jumat (25/10), Cipolaro menunjukkan bahwa inflasi tidak memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga Bitcoin. Sebaliknya, pelemahan dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga Bitcoin, sejalan dengan pergerakan emas.

Tidak Ada Korelasi Kuat antara Inflasi dan Harga Bitcoin

Cipolaro menyatakan bahwa klaim bahwa Bitcoin adalah aset lindung nilai terhadap inflasi tidak didukung oleh data yang kuat. Ia mencatat bahwa korelasi antara Bitcoin dan ukuran inflasi tidak konsisten dan rendah. Meski ekspektasi terhadap inflasi bisa menjadi indikator yang lebih baik dalam memengaruhi harga Bitcoin, korelasinya tetap rendah.

Sebagai bagian dari komunitas kripto, banyak orang menganggap Bitcoin sebagai "emas digital" karena suplai yang terbatas dan sifatnya yang terdesentralisasi. Namun, Cipolaro menilai bahwa Bitcoin semakin terhubung dengan sistem keuangan tradisional dan menunjukkan perilaku mirip dengan aset konvensional.

Emas juga Tidak Konsisten sebagai Pelindung Inflasi

Menariknya, Cipolaro juga menyoroti bahwa emas, yang selama ini dianggap sebagai pelindung inflasi, tidak menunjukkan performa konsisten. Pada beberapa periode, emas justru menunjukkan korelasi terbalik dengan inflasi, sesuatu yang mengejutkan bagi aset yang diklaim sebagai pelindung nilai inflasi.

Dolar Melemah, Bitcoin dan Emas Terangkat

Cipolaro menjelaskan bahwa harga emas biasanya naik saat dolar AS melemah terhadap mata uang lain, sebagaimana tercermin dalam Indeks Dolar AS (DXY). Ia menambahkan bahwa Bitcoin juga memiliki korelasi terbalik dengan dolar AS, meskipun hubungan ini masih lebih baru dan tidak sekuat emas. Namun, tren tersebut sudah terlihat.

NYDIG memprediksi bahwa korelasi negatif antara Bitcoin dan dolar AS akan semakin kuat seiring dengan meningkatnya peran Bitcoin dalam sistem keuangan global.

Suku Bunga dan Likuiditas sebagai Faktor Kunci

Lebih lanjut, Cipolaro menilai dua faktor makro utama yang memengaruhi harga Bitcoin dan emas adalah suku bunga dan jumlah uang beredar. Emas cenderung naik saat suku bunga turun dan melemah saat suku bunga meningkat. Pola yang sama, kata Cipolaro, kini juga terlihat pada Bitcoin.

Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter global yang longgar memiliki hubungan positif dengan pergerakan harga Bitcoin. “Kebijakan moneter yang lebih ekspansif cenderung menjadi angin segar bagi Bitcoin,” ujarnya.

Integrasi Bitcoin dalam Sistem Keuangan Global

Cipolaro menyimpulkan bahwa pergerakan harga Bitcoin yang semakin menyerupai emas di tengah dinamika makro menunjukkan integrasinya yang kian dalam dalam sistem keuangan global. “Secara makro, emas kini berfungsi sebagai lindung nilai terhadap suku bunga riil, sementara Bitcoin telah berevolusi menjadi indikator likuiditas global,” pungkasnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai NYDIG: Bitcoin Bukan Pelindung Inflasi, Tapi Kuat Saat Dolar Melemah ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar