Okupansi Mal Jakarta Melonjak Didorong Permintaan Ritel Tiongkok

Okupansi Mal Jakarta Melonjak Didorong Permintaan Ritel Tiongkok

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Okupansi Mal Jakarta Melonjak Didorong Permintaan Ritel Tiongkok menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade, JAKARTA — Konsultan properti Colliers Indonesia mengungkapkan bahwa tingkat okupansi pusat perbelanjaan atau mal di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada kuartal III/2025.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menjelaskan bahwa hingga September 2025, tingkat okupansi mal di Jakarta mencapai 74,7%. Proyeksi ini menunjukkan bahwa angka tersebut akan terus meningkat hingga akhir tahun, dengan perkiraan mencapai 76,1%.

Ferry menyampaikan bahwa peningkatan ini sejalan dengan adanya peningkatan permintaan dari sejumlah brand asal Tiongkok yang mulai masuk ke pasar Indonesia. Produk-produk tersebut berasal dari berbagai segmen, salah satunya adalah brand makanan dan minuman (F&B) Tiongkok.

"Dari sisi permintaan, brand-brand asal Tiongkok ini semakin banyak yang datang untuk berekspansi. Kami di Colliers memang membantu beberapa brand Tiongkok yang belum ada di sini untuk masuk dan melakukan ekspansi di beberapa mal yang ada di Jakarta," ujar Ferry dalam Media Briefing, Rabu (1/10/2025).

Menurutnya, brand Tiongkok mulai aktif memperluas bisnis mereka di Indonesia sepanjang tahun ini. Dengan demikian, konsep department store saat ini mulai diperkecil agar dapat memberi ruang bagi brand-brand baru tersebut.

"Selain itu, kita juga melihat beberapa mal kelas atas mulai mempersiapkan diri dengan menaikkan biaya hunian, termasuk harga tarif sewa dan service charge-nya," tambahnya.

Meskipun begitu, Ferry menjelaskan bahwa kenaikan harga sewa hanya akan terjadi pada mal-mal dengan tingkat okupansi tinggi. Dalam paparannya, saat ini tarif dasar sewa mal di Jakarta ada di angka Rp573.206 per meter.

Pada akhir tahun, diperkirakan tarif tersebut akan meningkat menjadi Rp575.475 per meter. Sementara itu, rata-rata tarif dasar sewa mal di Bodetabek pada kuartal II sebesar Rp389.589 per meter dan diprediksi akan meningkat menjadi Rp397.761 pada akhir 2025.

"Jadi, terutama untuk mal-mal dengan tingkat hunian yang sudah tinggi, khususnya mal kelas atas, bisa jadi mereka akan mempertimbangkan kenaikan biaya hunian," pungkas Ferry.

Faktor Penyebab Peningkatan Okupansi Mal

Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan okupansi mal di Indonesia antara lain:

  • Kehadiran brand asing: Adanya brand-brand asing, khususnya dari Tiongkok, yang mulai masuk dan berkembang di pasar Indonesia. Hal ini menciptakan daya tarik baru bagi pengunjung.
  • Perubahan konsep bisnis: Konsep department store yang lebih kecil memungkinkan ruang untuk brand-brand baru, sehingga meningkatkan variasi produk dan layanan di mall.
  • Strategi pengelolaan mal: Pengelola mall kelas atas mulai mengadopsi strategi penyesuaian harga sewa dan service charge guna menarik brand-brand premium.

Perkiraan Harga Sewa Mal

Harga sewa mal di Jakarta dan Bodetabek mengalami proyeksi kenaikan sebagai berikut:

  • Jakarta:
  • Tarif dasar sewa saat ini: Rp573.206 per meter
  • Prediksi akhir tahun: Rp575.475 per meter

  • Bodetabek:

  • Rata-rata tarif dasar sewa kuartal II: Rp389.589 per meter
  • Prediksi akhir tahun: Rp397.761 per meter

Impak terhadap Industri Properti

Peningkatan okupansi dan kenaikan harga sewa memiliki dampak positif terhadap industri properti, khususnya sektor retail dan komersial. Mal-mal dengan tingkat okupansi tinggi cenderung lebih stabil dalam hal pendapatan dan pertumbuhan bisnis. Selain itu, kenaikan harga sewa juga mencerminkan peningkatan nilai properti dan potensi investasi yang menjanjikan.

Dengan kondisi ini, pengelola mall dan investor properti perlu terus memantau dinamika pasar serta menyesuaikan strategi bisnis agar tetap kompetitif dan efisien.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Okupansi Mal Jakarta Melonjak Didorong Permintaan Ritel Tiongkok ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar