
Inovasi Ekonomi Lokal di Pasar Bumi Pakuwon
Di Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, terdapat sebuah inovasi ekonomi yang menarik perhatian banyak orang. Pasar Bumi Pakuwon tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan perekonomian mandiri masyarakat setempat. Di sini, warga dan wisatawan tidak lagi menggunakan uang Rupiah seperti biasanya, melainkan "benggol", alat tukar berbentuk potongan kayu hasil kerajinan warga setempat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Setiap satu benggol bernilai Rp5.000. Pengunjung dapat menukarkan uang rupiah atau melalui QRIS di pintu masuk pasar, lalu menggunakan benggol itu untuk membeli jajanan, hasil bumi, dan produk UMKM lokal. Ide ini berasal dari Pak Kades Samari, yang ingin menciptakan identitas lokal sekaligus menjadi simbol ekonomi mandiri desa.
Pasar Bumi Pakuwon merupakan agenda budaya bulanan yang digagas sejak Oktober 2024. Diadakan di akhir bulan setiap bulan. Hingga Oktober 2025 ini, kegiatan ini yang ke-13. Event ini rutin digelar setiap bulan di kawasan sawah dan perbukitan Desa Bantaragung, sekaligus menjadi ajang promosi wisata dan produk lokal.
Rata-rata, setiap kegiatan memutar 3.000 hingga 4.000 keping benggol atau setara dengan transaksi sekitar Rp20 juta per bulan. Jumlah pengunjungnya mencapai 1.000 hingga 3.300 orang. Selain menjual hasil bumi dan kuliner tradisional, pasar ini juga menampilkan beragam pertunjukan seni seperti tari Jaipong, pencak silat, dan genjring.
Produk Lokal yang Menarik Minat Wisatawan
Menurut Wawan Hermanto, pengelola Pasar Bumi Pakuwon, UMKM yang ada di pasar Pakuwon ada sekitar 15. Mereka berdagang makanan dan jajanan khas Sunda. Hal ini bukan hanya menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi desa secara mandiri.
“Pemuda yang dulu menganggur kini bisa ikut bekerja sebagai pedagang, barista, panitia, atau pengelola homestay. Setiap event, homestay warga selalu penuh,” jelasnya.
Pasar Bumi Pakuwon terbuka untuk umum dan tidak memungut tiket masuk atau gratis. Pengunjung cukup datang, menukar uang dengan benggol yang ingin menikmati makan. Lalu menikmati suasana pedesaan, pertunjukan budaya, serta kuliner khas Sunda khususnya Majalengka. Disana juga ada Sungai yang biasa dipakai keluarga mengajak main anak-anaknya.
Keunikan Pasar Bumi Pakuwon
Pasar Bumi Pakuwon memiliki beberapa keunikan yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri. Pertama, penggunaan benggol sebagai alat tukar yang tidak biasa. Kedua, adanya pertunjukan seni yang menambah nuansa budaya dalam acara tersebut. Ketiga, pasar ini tidak hanya menyediakan produk lokal, tetapi juga menjadi sarana promosi wisata dan budaya.
Beberapa hal yang bisa dinikmati oleh pengunjung antara lain:
- Berbelanja produk UMKM lokal
- Menikmati kuliner khas Sunda
- Menyaksikan pertunjukan seni seperti tari Jaipong dan pencak silat
- Mengunjungi sungai yang sering digunakan oleh keluarga untuk bermain
Selain itu, pengunjung juga dapat menginap di homestay yang disediakan oleh warga setempat. Hal ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam tentang kehidupan masyarakat pedesaan.
Potensi Ekonomi Mandiri
Pasar Bumi Pakuwon tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga menjadi salah satu contoh sukses perekonomian mandiri di wilayah pedesaan. Dengan adanya inisiatif ini, banyak pemuda yang kini memiliki peluang kerja dan kesempatan untuk berkembang.
Dalam waktu singkat, pasar ini telah berhasil meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa. Tidak hanya itu, pasar ini juga menjadi tempat yang cocok untuk melestarikan budaya lokal dan menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.
Komentar
Kirim Komentar