
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Harga Tembaga Mendekati Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Harga tembaga kembali mengalami kenaikan yang signifikan, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini terjadi setelah adanya pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China pekan ini. Pasar kini sedang memperhatikan kemungkinan kesepakatan besar yang akan dijajaki untuk menurunkan ketegangan hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Berdasarkan data dari Bloomberg, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) sempat naik 0,9% menjadi US$11.065,50 per ton. Angka ini hanya berjarak sekitar US$50 dari rekor tertinggi yang bertahan sejak paruh pertama 2024. Pada pukul 09.24 waktu Shanghai, harga tembaga di LME naik 0,7% menjadi US$11.034 per ton. Selain itu, harga logam industri lainnya seperti aluminium dan seng juga mengalami kenaikan. Alumunium naik 0,5%, menuju penutupan tertingginya dalam lebih dari tiga tahun, sementara harga seng meningkat 0,3%.
Pembicaraan Perdagangan AS dan China Berlanjut
Negosiator perdagangan AS dan China telah menyelesaikan pembicaraan pada Minggu (26/10/2025). Pertemuan awal ini membuka jalan bagi Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk memfinalisasi kesepakatan tersebut akhir pekan ini. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa ancaman Trump untuk memberlakukan tarif sebesar 100% terhadap China kini sudah "tidak lagi berlaku". Sementara itu, Beijing akan menangguhkan selama satu tahun rencana untuk memperluas pengendalian ekspor logam tanah jarang.
Kenaikan Harga Tembaga yang Terus Berlangsung
Harga tembaga sempat mencapai rekor US$11.104,50 per ton pada Mei tahun lalu dan kembali menembus level US$11.000 awal bulan ini. Sejak saat itu, harganya sempat berfluktuasi karena Washington dan Beijing mengambil posisi keras menjelang pembicaraan perdagangan.
Kinerja kuat logam merah tersebut tahun ini, yang sudah naik sekitar 25% di LME, terutama didukung oleh gangguan produksi di negara-negara penghasil utama. Freeport-McMoRan Inc. memangkas proyeksi penjualan tembaganya pada September lalu setelah terjadi kecelakaan fatal di tambang raksasanya, Grasberg, di Indonesia. Tambang Kamoa-Kakula milik Ivanhoe Mines Ltd. di Republik Demokratik Kongo juga mengalami penurunan produksi yang signifikan.
Dampak Penurunan Nilai Dolar AS
Penurunan nilai dolar AS tahun ini turut memberikan dorongan tambahan bagi harga logam karena membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih menarik. Indeks dolar sendiri melemah lebih dari 7% sejak Januari seiring investor bertaruh bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga.
Optimisme terhadap Transisi Energi Global
Harga tembaga juga mencerminkan optimisme yang lebih luas terhadap transisi energi global. BHP Group, perusahaan tambang terbesar di dunia, memperkirakan permintaan tembaga global akan meningkat sekitar 70% hingga tahun 2050, dan telah menjadikan logam ini sebagai fokus utama pertumbuhannya.
Komentar
Kirim Komentar