
Tanggapan Pedagang dan Masyarakat terhadap Rencana Pemberantasan Impor Pakaian Bekas
Rencana pemerintah untuk memberantas impor pakaian bekas telah menimbulkan berbagai tanggapan dari kalangan pedagang maupun masyarakat di Pekanbaru. Mereka merasa kebijakan ini akan berdampak besar terhadap keberlangsungan usaha dan mata pencaharian banyak orang yang bergantung pada bisnis pakaian bekas impor.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Bagi para pemasok, bisnis pakaian bekas ini sudah berjalan sejak lama dan menjadi sumber ekonomi bagi banyak keluarga. Salah satu pemasok di Pekanbaru mengatakan bahwa barang biasanya didatangkan dari pergudangan besar di Bandung, Jawa Barat. Ia menjelaskan bahwa sistem pembelian dilakukan secara kolektif bersama beberapa rekan. Dalam sekali kirim, bisa mencapai 50 hingga 100 bal pakaian bekas, namun tidak semuanya milik satu orang.
Ia juga menyebutkan bahwa harga satu bal pakaian bekas bervariasi mulai dari Rp4 juta hingga Rp13 juta, tergantung jenis dan mereknya. Barang yang paling mahal disebut dengan istilah "Dress Sultan" yakni pakaian bekas mewah seperti gaun pesta atau gamis branded dari luar negeri. Menurutnya, Dress Sultan ini sangat diminati karena modelnya bagus dan masih seperti baru.
Meski disebut sebagai barang bekas, ia menegaskan bahwa tidak semua barang benar-benar second hand. Beberapa di antaranya merupakan barang toko luar negeri yang tidak laku terjual, lalu dicampur dengan pakaian bekas sebelum dijual kembali ke Indonesia. Kadang ada juga yang baru tapi tidak habis di toko, lalu digabungkan dengan pakaian second lainnya dalam satu bal. Kualitasnya tetap bagus dan justru itu yang banyak dicari.
Keuntungan yang diperoleh dari satu bal berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta, tergantung isi dan kualitas barang. Ia menjelaskan bahwa jika dapat bal yang isinya bagus, barang cepat habis dan untungnya lumayan. Tapi jika bal-nya kurang bagus, kadang malah rugi.
Para pedagang berharap pemerintah tidak serta-merta menutup mata terhadap realitas ekonomi di lapangan. Mereka mengatakan bahwa mereka bukan penyelundup besar, hanya pedagang kecil yang cari nafkah. Jika mau diberantas, seharusnya dimulai dari jalur masuknya, bukan langsung ke mereka.
Sementara itu, pedagang pakaian bekas di sejumlah lapak dan toko thrift Pekanbaru juga menyampaikan hal senada. Mereka menilai rencana pemberantasan impor pakaian bekas akan mematikan usaha kecil mereka. Seorang pedagang di kawasan Sukajadi mengatakan bahwa ia biasanya ambil langsung dari Bandung dengan harga per bal sekitar Rp5 juta sampai Rp15 juta, tergantung jenisnya.
Ia menyebut jenis pakaian yang dijual beragam, mulai dari kaus, celana jeans, kemeja, jaket, dress, hingga baju anak-anak. Ia menambahkan bahwa momen terbaik untuk berdagang adalah menjelang Ramadan dan Lebaran. Itu masa panen mereka, karena banyak orang berburu baju bagus tapi murah.
Para pedagang berharap pemerintah bisa mempertimbangkan kembali kebijakan pelarangan tersebut. Mereka menilai, bisnis pakaian bekas tidak hanya menguntungkan pedagang, tetapi juga membantu masyarakat menengah ke bawah. Banyak masyarakat merasa terbantu karena bisa beli pakaian bagus dengan harga murah. Bahkan ada yang bisa pakai baju branded luar negeri yang kalau beli baru harganya jutaan.
Menurutnya, larangan impor pakaian bekas seharusnya dibarengi dengan peningkatan kualitas produk lokal agar bisa bersaing. Masalahnya, baju lokal yang murah sering tidak nyaman dipakai, bahannya panas, dan cepat rusak.
Seorang pembeli di salah satu toko thrift kawasan Panam juga mengaku keberatan dengan rencana pemerintah itu. Ia menilai pakaian bekas impor justru menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin tampil rapi tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Ia menyebut bahwa baju bekas impor kualitasnya bagus. Ia bisa beli kaus merek luar seharga Rp50 ribu, padahal kalau baru bisa sampai Rp500 ribu. Kami bukan cari gaya, tapi cari yang nyaman dan terjangkau.
Masyarakat menilai, keberadaan pakaian bekas impor membantu memenuhi kebutuhan sandang bagi keluarga besar dengan biaya yang efisien. Contohnya, jika punya anak tiga, beli baju di mall bisa habis jutaan. Di thrift cukup beberapa ratus ribu sudah lengkap.
Komentar
Kirim Komentar