Pemerkosaan di Eropa: Fakta atau Mitos?

Pemerkosaan di Eropa: Fakta atau Mitos?

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Pemerkosaan di Eropa: Fakta atau Mitos? tengah menjadi sorotan dunia. Berikut laporan selengkapnya.

Grafik Viral yang Mengklaim Inggris sebagai Ibu Kota Pemerkosaan di Eropa

Sebuah grafik viral menunjukkan bahwa Inggris memiliki tingkat pemerkosaan tertinggi di Eropa. Namun, klaim ini didasarkan pada data yang tidak akurat dan memperlihatkan informasi yang salah.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Peringatan: Artikel ini mengandung referensi tentang kekerasan seksual dan detail lain yang mungkin mengganggu pembaca.

Grafik tersebut viral di platform X (dahulu Twitter) dan menampilkan batang merah berlabel "Britania Raya" yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. Judul utamanya adalah "rapes in Europe" atau "pemerkosaan di Eropa." Menurut grafik tersebut, jumlah kasus pemerkosaan di Inggris pada tahun 2022 tampak jauh lebih tinggi dibandingkan Spanyol, Yunani, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Namun, grafik itu merupakan contoh nyata bagaimana data yang tampaknya akurat dapat digunakan untuk menyesatkan dan memutarbalikkan fakta.

Tim Cek Fakta DW mencoba untuk menelusuri klaim tersebut.

Klaim: "Inggris sekarang menjadi ibu kota pemerkasaan di Eropa," tulis seorang pengguna di platform X. Klaim tersebut telah dilihat lebih dari satu juta kali.

Cek fakta DW: Menyesatkan

Angka yang menunjukkan bahwa Inggris mencatat 109 kasus pemerkosaan per 100.000 penduduk berasal dari World Population Review, yang mengutip data dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (United Nations Office on Drugs and Crime /UNODC). Namun, UNODC sendiri memperingatkan bahwa "perbandingan antarnegara sangat sulit dilakukan."

Situs tersebut juga menekankan kepada pembaca bahwa statistik pemerkosaan internasional bersifat seperti "membandingkan apel dengan jeruk," karena perbedaan besar dalam definisi hukum, cara pelaporan, hingga faktor budaya.

“Data itu diambil dari sumber yang secara eksplisit mengatakan ‘jangan digunakan untuk perbandingan antarnegara karena tidak akurat,’” jelas Tanya Serisier, dosen kriminologi di Birkbeck University of London dan penulis buku Speaking Out: Feminism, Rape and Narrative Politics, kepada DW.

Kenapa Angkanya Menyesatkan?

Angka-angka tersebut memang dikutip secara akurat dari World Population Review pada musim panas 2025. Data itu kemudian diperbarui dan menunjukkan bahwa Inggris mencatat 117 kasus pemerkosaan per 100.000 penduduk. Jumlahnya meningkat tajam dari 25 kasus per 100.000 pada tahun 2003. Angka itu sempat berada di kisaran 100 kasus antara tahun 2018 dan 2020 sebelum mencapai level tertingginya saat ini.

Namun, membandingkan angka-angka ini antarnegara sangatlah kompleks. Pada tahun 2022, Grenada menempati posisi teratas dalam daftar, diikuti oleh Inggris, Swedia, Panama, dan Islandia. Sementara itu, Lebanon, Indonesia, Uni Emirat Arab, dan Hong Kong berada di posisi terbawah.

Eurostat, kantor statistik Uni Eropa yang mengumpulkan data serupa dari seluruh Eropa, mengatakan kepada DW bahwa "berfokus hanya pada jumlah tindak pidana dapat menyesatkan." Angka yang tampaknya tinggi di Inggris lebih mencerminkan praktik pelaporan dan definisi hukum yang berlaku di negara tersebut, daripada tingkat kejadian sebenarnya.

Alasan Statistik Pemerkosaan Antarnegara Sulit Dibandingkan

Ada banyak alasan mengapa statistik kejahatan, khususnya pemerkosaan, sulit dibandingkan antarnegara.

Pertama, definisi hukum tentang pemerkosaan berbeda-beda. Beberapa negara menetapkan definisi yang sempit, mensyaratkan bukti kekerasan fisik atau paksaan. Negara lain, seperti Inggris, menggunakan definisi yang lebih luas dan berbasis pada persetujuan, setelah mereformasi undang-undangnya pada tahun 2003.

Kedua, metode pencatatan dan pelaporan kejahatan juga bervariasi. Misalnya, pemerkosaan berkelompok bisa dihitung sebagai satu kasus di beberapa negara, sementara di Inggris dihitung sebagai beberapa pelanggaran berdasarkan jumlah pelaku.

Selain itu, Inggris menggunakan sistem statistik input, di mana setiap laporan langsung dihitung sebagai satu kasus. Sebaliknya, negara lain mungkin menunggu hingga laporan resmi diajukan atau investigasi selesai sebelum mencatatnya.

Terakhir, faktor budaya turut memengaruhi. Tingkat kepercayaan terhadap sistem hukum, mitos seputar pemerkosaan, sikap terhadap persetujuan, dan pemahaman masyarakat tentang kekerasan seksual sangat beragam. Seperti yang dijelaskan Eurostat, semua ini memengaruhi apakah korban memilih untuk melaporkan kejahatan, yang pada akhirnya membentuk statistik yang digunakan dalam grafik.

Cara Ukur Lebih Akurat untuk Angka Pemerkosaan

Kriminolog menyarankan pendekatan alternatif untuk memahami prevalensi pemerkosaan dengan survei korban. Dalam metode ini, sampel representatif masyarakat ditanyai tentang pengalaman mereka selama periode tertentu, ketimbang mengandalkan statistik laporan polisi.

"Statistik kejahatan hanya menunjukkan hal-hal yang 'tampak di permukaan,' seperti ujung gunung es," kata Serisier. "Namun, sebagian besar kasus tidak pernah sampai pihak berwenang."

Menurut Kantor Statistik Nasional Inggris, polisi mencatat lebih dari 71.000 kasus pemerkosaan di Inggris dan Wales pada tahun 2024, jumlahnya meningkat 479% sejak 2002. Namun, Survei Kejahatan untuk Inggris dan Wales memperkirakan bahwa sekitar 1,9 juta orang dewasa mengalami pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan pada tahun 2022. Meski begitu, persentase orang dewasa yang melaporkan pernah diperkosa tetap relatif stabil sejak 2005, berkisar antara 0,4% hingga 0,7% per tahun.

Ahli kriminologi Marcelo Aebi dari Universitas Lausanne mengatakan, satu-satunya cara untuk benar-benar mengetahui angka sebenarnya adalah melalui survei korban berskala Eropa dengan pertanyaan yang seragam.

Dewan Nasional Swedia untuk Pencegahan Kejahatan juga menyimpulkan hal serupa dalam laporan tahun 2020. Mereka menyatakan bahwa "survei korban kejahatan Eropa yang dilakukan dengan baik merupakan sumber pengetahuan yang lebih akurat."

Faktor Imigrasi Jadi Sebab Tak Didukung Bukti

Laporan tersebut berisi klaim bahwa "Faktor pendorongnya? Imigrasi massal yang tak terkendali," tulis anggota parlemen Inggris Rupert Lowe, pemimpin kelompok anti-imigrasi Restore Britain, yang menciptakan grafik tersebut. Unggahannya telah dilihat lebih dari satu juta kali.

Cek fakta DW: Salah

Inggris dan Belanda memiliki proporsi penduduk kelahiran luar negeri yang hampir sama, sekitar 16% pada tahun 2022. Namun, grafik menunjukkan tingkat pemerkosaan di Belanda per 100.000 penduduk kurang dari seperenam tingkat di Inggris.

"Klaim yang sering dilontarkan pada dasarnya adalah, 'kami menerima lebih banyak imigran, terutama dari daerah tertentu, dan itu meningkatkan angka kekerasan seksual,'" kata Serisier. "Tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu sama sekali," tambahnya.

Inggris tidak mempublikasikan data tentang kewarganegaraan atau etnis pelaku. Data nasional menunjukkan bahwa 85% korban mengenal pelakunya, menurut survei pemerintah antara tahun 2014 dan 2017.

Kenaikan laporan pemerkosaan lebih mungkin disebabkan oleh faktor lain, misalnya reformasi pencatatan kasus oleh polisi setelah skandal tahun 2014. Kemudian, perubahan budaya akibat gerakan #MeToo dan kasus-kasus terkenal yang mendorong lebih banyak korban untuk melapor.

Rupert Lowe, mantan anggota partai populis Reform UK pimpinan Nigel Farage, meluncurkan Restore Britain pada musim panas 2025 dan menyerukan penghapusan sistem suaka serta deportasi massal.

"Saya ingin melihat datanya karena fakta harus datang lebih dulu," kata Marcelo Aebi. "Dalam isu seperti ini, banyak yang melakukan advokasi, orang-orang yang sejak awal sudah tahu apa yang ingin mereka sampaikan dan bagaimana menjelaskannya. Retorika itu mudah, tapi bukti sulit."

Meskipun statistik pemerkosaan di Inggris tampak sangat tinggi, kenyataannya jauh lebih kompleks. Perbedaan definisi hukum, praktik pelaporan, dan faktor budaya membuat perbandingan internasional menyesatkan dan klaim yang menghubungkan imigrasi dengan kekerasan seksual tidak didukung oleh bukti.

Jika Anda mengalami tekanan emosional, carilah bantuan profesional. Anda dapat menemukan informasi tentang di mana Anda bisa mendapatkan bantuan, di mana pun Anda tinggal di dunia, di situs web: www.befrienders.org .

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Ikuti terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar