Penurunan Suku Bunga BI Dorong Rotasi Sektor, Bank Jadi Penopang IHSG 2026

Penurunan Suku Bunga BI Dorong Rotasi Sektor, Bank Jadi Penopang IHSG 2026

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Penurunan Suku Bunga BI Dorong Rotasi Sektor, Bank Jadi Penopang IHSG 2026 menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Prospek Perubahan Arah Pasar Saham di Tahun 2026

Pada tahun 2026, prospek penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) membuka peluang perubahan arah dalam pergerakan pasar saham. Sejumlah sektor yang sensitif terhadap suku bunga, khususnya perbankan, mulai menjadi incaran sebagai calon penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, dampaknya diperkirakan tidak akan langsung terlihat.

Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy, menilai bahwa penurunan suku bunga BI tidak langsung berdampak pada sektor riil maupun pasar saham. Selama tahun ini, BI telah memangkas suku bunga lebih dari 100 basis poin. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam suku bunga kredit. Menurut Isfhan, yang lebih dulu turun adalah biaya dana perbankan atau funding cost, sementara suku bunga kredit masih relatif tinggi.

Kondisi ini terjadi karena adanya jeda waktu atau lag sekitar enam hingga 12 bulan sejak suku bunga acuan diturunkan hingga perbankan benar-benar menurunkan suku bunga kredit. "Oleh karena itu, dampak penurunan suku bunga secara menyeluruh, baik ke sektor riil maupun ke pasar keuangan, kemungkinan baru akan terasa lebih jelas pada paruh kedua tahun depan," ujar Isfhan dalam konferensi pers virtual.

Kondisi Suku Bunga dan Dampaknya pada Sektor Properti

Isfhan menjelaskan bahwa penurunan suku bunga kredit biasanya hanya terjadi setelah perbankan menyesuaikan struktur pendanaan dan risiko. "Ketika BI rate turun, suku bunga kredit itu tidak langsung turun. Biasanya ada jeda enam sampai 12 bulan, sehingga dampaknya baru terasa di second half tahun depan," katanya.

Kondisi ini membuat saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti sektor properti dan konstruksi, belum tentu langsung menguat pada awal 2026. Isfhan menilai sektor properti masih akan menghadapi tantangan, terutama karena daya beli masyarakat dan permintaan domestik yang diperkirakan belum sepenuhnya pulih.

Ia memperkirakan pertumbuhan permintaan domestik pada 2026 masih berada di bawah 5 persen, atau sekitar 4,5 persen. Selama suku bunga kredit masih relatif tinggi, pemulihan sektor properti dinilai akan berjalan lambat, khususnya pada awal tahun.

"Biasanya suku bunga rendah mendorong minat beli properti. Namun saat ini, kemampuan pembiayaan atau leasing power masih lemah. Dengan domestic demand yang masih di bawah 5 persen, pemulihan sektor ini akan cukup menantang," paparnya.

Dengan kondisi tersebut, sektor properti dan saham-saham sensitif terhadap suku bunga diperkirakan baru akan mulai bergerak lebih signifikan pada paruh kedua 2026, seiring turunnya suku bunga kredit dan membaiknya akses pembiayaan.

Peluang Rotasi Sektor pada Tahun 2026

Di sisi lain, Isfhan mencatat peluang rotasi sektoral yang cukup menarik pada 2026. Meski sektor komoditas masih berpotensi mencatatkan kinerja positif, terutama komoditas mineral dan emas yang dinilai masih berada dalam tren bullish, tidak semua komoditas diperkirakan bernasib sama.

Rotasi sektor berpotensi terjadi dari saham batu bara menuju sektor finansial. Perbankan justru dinilai berada pada posisi yang menarik, terutama karena margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) berpotensi meningkat pada awal 2026. Penurunan biaya dana yang telah terjadi lebih dulu, sementara suku bunga kredit belum turun, berpotensi membuat margin perbankan menjadi lebih tebal pada kuartal pertama dan kedua 2026.

Kondisi ini dinilai dapat menjadi katalis utama kembalinya minat investor ke sektor finansial. "Kami melihat potensi rotasi kembali ke sektor finansial cukup besar. Saham-saham perbankan besar juga sudah relatif murah, seperti BRI, BCA, dan BNI, karena harganya telah turun cukup dalam," katanya.

Namun demikian, momentum rotasi ke sektor finansial akan sangat bergantung pada kinerja NIM perbankan pada awal 2026. Jika kenaikan margin terlihat signifikan, sektor finansial berpeluang menjadi motor utama penguatan IHSG, sebelum sektor-sektor sensitif suku bunga lainnya, seperti properti dan konstruksi, menyusul pada paruh kedua tahun.

Tahun Transisi bagi Pasar Saham Indonesia

Dengan demikian, Isfhan memandang 2026 akan menjadi tahun transisi bagi pasar saham Indonesia. Penurunan suku bunga tidak serta-merta mendorong seluruh sektor sekaligus, melainkan membuka peluang rotasi bertahap. Dalam skenario tersebut, sektor finansial diproyeksikan tampil lebih dulu sebagai penopang indeks, sebelum sektor-sektor lainnya mulai bangkit seiring melonggarnya kondisi moneter.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Penurunan Suku Bunga BI Dorong Rotasi Sektor, Bank Jadi Penopang IHSG 2026 ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar