Pertamina Didesak Inovasi Skema Pendanaan Kilang

Pertamina Didesak Inovasi Skema Pendanaan Kilang

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Pertamina Didesak Inovasi Skema Pendanaan Kilang menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Tantangan dan Peluang dalam Pengembangan Kilang Minyak Pertamina

Pertamina, salah satu BUMN terbesar di Indonesia, tengah menghadapi tantangan besar dalam mempercepat pembangunan dan pengembangan kilang minyak. Tantangan ini tidak hanya berasal dari sisi pendanaan, tetapi juga dari prospek keuntungan yang semakin sulit dijaga seiring dengan perubahan peta bisnis energi global.

Menurut Sunarsip, Ekonom Senior The Indonesia Economic Intelligence, langkah transformasi yang dilakukan oleh Pertamina tetap dianggap strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional. Namun, ia menyoroti bahwa aspek utama yang masih menjadi kendala adalah pembiayaan. Hingga saat ini, Pertamina termasuk salah satu BUMN besar yang belum menerima tambahan penyertaan modal negara (PMN). Hal ini membuatnya kesulitan dalam mendanai proyek-proyek besar seperti pembangunan kilang.

Sunarsip menyatakan bahwa Pendanaan seluruh proyek secara mandiri sangat berat. Ia menanyakan apakah Danantara, lembaga pendanaan milik pemerintah, bisa memberikan dukungan pendanaan bagi proyek kilang tersebut. Selain itu, ia menilai bahwa Pertamina masih terlalu mengandalkan pendanaan internal dalam menjalankan proyek strategisnya, tanpa adanya inovasi dalam skema pembiayaan.

Contoh nyata dari masalah ini adalah kerja sama dengan Saudi Aramco di proyek kilang Cilacap yang akhirnya gagal karena perbedaan skema kemitraan. Meski demikian, kemitraan strategis dengan investor global bisa menjadi solusi untuk menekan beban finansial sekaligus membuka potensi keuntungan bersama.

Sunarsip juga menilai bahwa momentum ideal dalam pembangunan kilang sudah lewat. Menurutnya, jika proyek ini dilakukan sekitar satu dekade lalu, Pertamina masih bisa memanfaatkan kondisi pasar energi yang lebih menguntungkan serta posisi keuangan yang relatif kuat. Saat ini, potensi keuntungan jauh lebih kecil dibandingkan dulu.

Namun, ia melihat adanya harapan baru terhadap transformasi Pertamina di bawah kepemimpinan Direktur Utama Simon Aloysius Mantiri. Terlebih, Simon mendapat dukungan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sunarsip menilai bahwa pembenahan internal di bawah kepemimpinan Simon terlihat nyata. Ia menilai bahwa banyak talenta potensial di dalam Pertamina yang bisa dikembangkan, asalkan ada inovasi dalam skema pembiayaan dan kerja sama strategis.

Dengan karakter kepemimpinan Simon dan Purbaya yang dinilai lugas dan tegas, Sunarsip optimistis bahwa Pertamina dapat menemukan keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, ketahanan energi, dan efisiensi keuangan. Ia berharap dua figur ini bisa bersinergi untuk menciptakan peluang baru bagi transformasi Pertamina dan keberlanjutan proyek kilang ke depan.

Namun, Sunarsip juga mengingatkan agar transformasi bisnis Pertamina tidak menjauh dari core business-nya di sektor minyak dan gas bumi (migas). Meskipun tren global mengarah pada energi baru dan terbarukan (EBT), sektor migas tetap penting bagi kemandirian energi nasional. Bahkan, negara-negara besar seperti China masih mendorong perusahaan migas mereka untuk ekspansi ke luar negeri. Oleh karena itu, oil and gas harus tetap menjadi cadangan strategis karena menentukan ketahanan energi.

Strategi yang tepat, menurut Sunarsip, adalah mengejar pengembangan EBT tanpa mengabaikan peran migas. EBT bisa dikembangkan, tapi oil and gas juga tidak boleh ditinggalkan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya bertemu dengan Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri pada Kamis (23/10/2025). Keduanya membahas pembangunan kilang hingga pengembangan hulu migas. Dalam rapat bersama Komisi XI DPR pada September 2025 lalu, Purbaya sempat secara terbuka mengkritik Pertamina yang tidak fokus pada pendirian kilang. Respons positif dari Simon pun disampaikan oleh Purbaya.

Purbaya mengklaim bahwa kritiknya terhadap Pertamina direspons positif oleh Simon. Mantan Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu memberikan pujian kepada Simon. "Dia bilang dia malah senang sekarang saatnya membangun kilang ke depan. Dia akan lebih sering membangun kilang lagi," ujarnya.

Meski begitu, Purbaya menyatakan bahwa pertemuannya dengan Simon belum menyimpulkan bahwa Pertamina akan segera menambah kilangnya. Ia memperkirakan bahwa BUMN itu bisa jadi menargetkan penambahan kilang sebagai salah satu program jangka menengah mereka.

Selain soal kilang, Purbaya juga menyampaikan kritik ihwal kinerja hulu migas Pertamina. Ia menyebut kinerja sektor hulu migas yang digarap oleh Pertamina. Kritik ini pun disambut positif oleh Simon. Purbaya menjelaskan bahwa lifting migas, salah satu bagian dari asumsi ekonomi makro yang berpengaruh terhadap APBN, tidak akan naik apabila tidak ada eksplorasi atau penemuan sumur minyak baru. Apalagi, ketersediaan minyak akan selalu berkurang setelah produksi dilakukan. "Jadi harus ada eksplorasi di hulu lagi. Kayaknya dia [Simon] mau katanya. Enggak tahu mampu apa enggak," terangnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Pertamina Didesak Inovasi Skema Pendanaan Kilang ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar