
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa bahagia atas capaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menembus level 8.000, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Capaian ini menjadi perhatian utama di kalangan masyarakat dan media pada hari Senin (20/10).
Presiden Beri Pujian untuk Kinerja Ekonomi
Dalam pengantarnya pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Prabowo mengungkapkan bahwa pencapaian IHSG mencapai 8.000 merupakan hal yang tidak terduga. Ia menyatakan bahwa ini adalah hasil kerja keras dari jajaran kabinet di bidang ekonomi.
“IHSG telah tumbuh hingga menembus 8.000, tertinggi sepanjang sejarah republik kita. Ini di luar dugaan, dan saya kira hasil kerja keras para menteri di bidang ekonomi,” ujarnya.
Prabowo menekankan bahwa meskipun IHSG sering dianggap sebagai indikator kepercayaan investor dan pasar terhadap perekonomian nasional, ia lebih memperhatikan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia itu sendiri.
Pada awalnya, IHSG sempat melampaui level 8.000 saat Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR pada Jumat (15/8). Namun, capaian tersebut hanya bertahan sesaat sebelum akhirnya melemah sebesar 32,876 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.898,37 menjelang akhir pidatonya.
Secara keseluruhan, terdapat 229 saham yang menguat, 432 saham yang melemah, dan 139 saham yang stagnan. Total volume transaksi mencapai 47,486 miliar saham dengan frekuensi 1,95 juta kali dan nilai transaksi sebesar Rp 30 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 14.277 triliun.
Meski terjadi fluktuasi, IHSG cukup stabil di posisi 8.000 seperti pada Senin (20/10) sore. Saat itu, IHSG ditutup menguat 2,19 persen ke 8.088. Pada waktu itu, ada 510 saham menghijau, 183 saham merah, dan 117 saham stagnan. Transaksi mencapai Rp 22,74 triliun.
Menteri Keuangan Tidak Akan Naikkan Dana Transfer ke Daerah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah pusat tidak akan menaikkan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2026. Meskipun beberapa gubernur menuntut peningkatan dana tersebut, pemerintah masih ragu karena adanya dugaan penyimpangan di tingkat daerah.
“Saya ingat beberapa waktu lalu ada 18 gubernur datang ke tempat saya kan, mereka menuntut transfer ke daerah dinaikkan. Sebenarnya kalau saya sih mau aja naikin, cuma pemimpin di atas masih ragu dengan kebijakan itu karena mereka bilang sering diselewengkan uang di daerah,” kata Purbaya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kemendagri.
TKD adalah dana yang dialokasikan oleh pemerintah pusat kepada daerah untuk mendukung pembangunan, memperbaiki layanan publik, serta mengurangi kesenjangan antarwilayah. Purbaya meminta para gubernur untuk terlebih dahulu membenahi tata kelola dan mempercepat penyerapan anggaran di daerah.
Ia berencana meninjau kembali penyaluran TKD pada kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026. Jika pengelolaan daerah sudah lebih rapi dan penyelewengan berkurang, barulah Purbaya akan berani mengajukan kenaikan TKD ke Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau jelek, saya enggak bisa ajukan ke atas. Presiden kurang suka rupanya kalau itu. Tapi kalau kita punya bukti sudah bagus semua, harusnya enggak ada masalah kita naikkan,” ujarnya.
Purbaya berharap kepala daerah dapat menunjukkan perbaikan dalam dua triwulan ke depan. “Jadi, untuk membantu bapak-bapak di daerah, tolong bantu saya juga untuk mendapatkan track record seperti itu. Dua kuartal saya pikir sudah cukup, kuartal IV tahun ini dan kuartal I tahun depan,” pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar