Proyeksi Kinerja SSIA Menurun, Ini Saran Analis

Proyeksi Kinerja SSIA Menurun, Ini Saran Analis

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Proyeksi Kinerja SSIA Menurun, Ini Saran Analis menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.
Featured Image

Proyeksi Kinerja SSIA Hingga Akhir Tahun 2025

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) masih memiliki harapan untuk mengalami perbaikan kinerja meskipun kondisi bisnisnya terlihat lesu hingga akhir tahun 2025. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pihak mengevaluasi prospek perusahaan yang fokus pada sektor properti dan pengembangan lahan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Erlin Budiman, VP of Investor Relations & Corporate Communications SSIA, menjelaskan bahwa perseroan memprediksi penurunan pendapatan konsolidasi sekitar 4% secara tahunan menjadi Rp 6 triliun. Pada tahun 2024 lalu, pendapatan SSIA mencapai Rp 6,25 triliun. Laba bersih juga diperkirakan turun sekitar 14% YoY menjadi Rp 200 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp 234 miliar di akhir tahun 2024.

Penurunan laba bersih disebabkan oleh adanya backlogs dari penjualan lahan Sabang Smartpolitan yang baru akan diakui di awal tahun 2026. Hal ini menyebabkan pergeseran dalam pencapaian pendapatan perusahaan.

Kinerja Kuartal II 2025 dan Prediksi Pemulihan

Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Indri Liftiany Travelin Yunus, menyampaikan bahwa kinerja SSIA pada kuartal II 2025 membukukan rugi sebesar Rp 32,2 miliar. Penurunan kinerja segmen perhotelan disebabkan oleh aktivitas renovasi yang memengaruhi pendapatan.

Namun, SSIA diperkirakan mampu memulihkan kinerjanya di sisa akhir tahun 2025. Salah satu faktor positif yang mendukung hal tersebut adalah aksi tambahan pembelian lahan di Subang Metropolitan oleh perusahaan mobil listrik asal China, BYD. Aksi ini dianggap sebagai katalis positif bagi keuangan SSIA.

Pergerakan Saham SSIA dan Analisis Teknikal

Berdasarkan data RTI, saham SSIA turun sebesar 18,18% dalam sebulan terakhir. Namun, secara year to date (YTD), harga saham SSIA masih naik sebesar 47,21% sejak awal tahun. Kenaikan harga saham yang signifikan didorong oleh aksi pembelian saham oleh dua konglomerat Indonesia, yaitu Grup Djarum dan Grup Barito.

Secara teknikal, indikator Fibonacci retracement SSIA saat ini berada dalam golden area, yaitu antara level 0,382 hingga 0,5 atau rentang harga Rp 1.935 hingga Rp 2.230 per saham. Stochastic oscillator juga sudah berada dalam area oversold, namun belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah dalam waktu dekat.

Rekomendasi Investasi untuk Saham SSIA

Indry merekomendasikan strategi buy on pullback untuk saham SSIA dengan entry level antara Rp 2.000 hingga Rp 2.040 per saham. Target harga yang ditetapkan adalah Rp 2.230 per saham. Investor disarankan melakukan cutloss jika saham menyentuh level Rp 1.935 per saham.

Dengan melihat proyeksi kinerja dan analisis teknikal, SSIA masih memiliki potensi untuk meningkatkan kinerja keuangan di masa depan. Meski ada tantangan, peluang pemulihan tetap terbuka, terutama dengan adanya investasi dari perusahaan besar seperti BYD.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Proyeksi Kinerja SSIA Menurun, Ini Saran Analis ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar