
Pemandangan Tak Biasa di Jogja City Mall
Di tengah kegiatan rutin pengunjung yang biasanya ramai di Jogja City Mall (JCM), Minggu (26/10/2025) sore, terjadi sesuatu yang tak biasa. Pusat perbelanjaan tersebut "diserbu" oleh ratusan fotografer yang berdatangan dengan penuh antusiasme. Mereka membawa kamera profesional hingga ponsel pintar, sibuk membidik setiap sudut mal dengan berbagai sudut pandang yang menarik.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Para fotografer ini adalah peserta dari ajang 'HISFA On The Spot (HOTS) 2025', sebuah kompetisi fotografi yang digagas oleh komunitas foto tertua di Yogyakarta, Himpunan Seni Foto Amatir (HISFA). Acara ini bukan sekadar lomba, melainkan juga menjadi perayaan kebangkitan dan penanda eksistensi bagi para penggemar fotografi.
Ketua HISFA Yogyakarta, Erlangga Fakhri Sujono, menjelaskan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi. Ia menyebut bahwa sejak lima atau enam tahun terakhir, tidak ada lomba foto on the spot di Yogyakarta.
Konsep On The Spot yang Menantang
Konsep on the spot menjadi tantangan tersendiri dalam kompetisi ini. Peserta dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kamera profesional dan kamera handphone. Mereka ditantang untuk berkreasi secara spontan tanpa adanya informasi tentang tema, syarat, dan ketentuan sebelum hari pelaksanaan. Mereka hanya diberi waktu sekitar dua jam untuk menghasilkan karya terbaik.
Daya tarik HOTS yang menyajikan total hadiah sebesar Rp22.500.000 mampu menembus batas usia dan profesi. Dari total 335 peserta yang ikut, tampak beragam usia dan latar belakang. Ada anak-anak, dewasa, hingga lansia yang usianya sudah mencapai 80-an ikut serta dalam lomba ini. Bahkan, ada peserta yang masih duduk di bangku SD yang ikut.
Filosofi HISFA yang Tetap Bertahan
Filosofi HISFA yang telah berdiri sejak 1954 pun tetap bertahan. Meskipun memiliki nama "amatir", hal ini tidak berarti tidak profesional. Di dalam komunitas ini, banyak anggota yang berprofesi sebagai fotografer, namun tetap bergabung dengan rekan-rekan yang memiliki minat serupa.
Erlangga menjelaskan bahwa anggota HISFA saat ini sekitar 400 orang. Profesi mereka bervariasi, mulai dari dokter, pengusaha, hingga fotografer freelance. Yang penting adalah memiliki hobi yang sama.
Solidaritas dan Inklusivitas
Solidaritas dan inklusivitas menjadi kunci eksistensi HISFA selama puluhan tahun. Komunitas ini rutin berkumpul setiap hari Jumat untuk melakukan hunting foto bersama tanpa memandang senioritas. Hal ini mencerminkan semangat kebersamaan dan saling mendukung dalam dunia fotografi.
Pemilihan Jogja City Mall sebagai lokasi acara bukanlah tanpa alasan. HISFA yang merayakan hari jadinya ke-71 ingin membawa gairah fotografi lebih dekat dengan masyarakat umum. Namun, panitia memberi batasan, seperti larangan memotret fasilitas umum toilet dan mushala. Selain itu, peserta juga dilarang masuk unit tenant mal atau tangga darurat.
Strategi yang Efektif
Strategi ini terbukti berhasil. Di tengah hiruk pikuk aktivitas mal, aksi ratusan fotografer ini menjadi tontonan menarik sekaligus edukasi visual bagi pengunjung. Karya-karya para peserta akan dinilai langsung oleh deretan juri yang sudah diakui di kancah fotografi nasional, seperti Soetomo, Misbachul Munir, hingga Budi Prazt.
Erlangga memastikan bahwa HOTS akan menjadi agenda tahunan. Tidak hanya berhenti di lomba, HISFA telah merancang rencana yang lebih besar untuk tahun depan. Rencananya, tahun depan akan ada lomba beserta pameran foto. Pameran ini kemungkinan akan diselenggarakan di mall selama satu minggu atau satu bulan.
Harapan untuk Masa Depan
Lebih lanjut, Erlangga berharap lomba ini bisa menghasilkan ide-ide kreatif dan sudut pandang baru dari para peserta, sekaligus mengedukasi publik yang menyaksikan langsung serunya perlombaan. Dengan banyaknya peserta yang menggunakan kamera ponsel pintar, mata masyarakat praktis akan terbuka bahwa untuk berkarya tidak harus memakai kamera mahal.
Ia berharap, lomba ini dapat memberikan semangat pada fotografer-fotografer muda agar terus berkarya dan menunjukkan hasil yang istimewa kepada seluruh masyarakat. "Jangan takut untuk berkarya," ujarnya.
Komentar
Kirim Komentar