Ritel AS Pecat 1.000 Karyawan, Saham Meroket 30 Persen

Ritel AS Pecat 1.000 Karyawan, Saham Meroket 30 Persen

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Ritel AS Pecat 1.000 Karyawan, Saham Meroket 30 Persen tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perubahan Besar di Target: Pemangkasan Karyawan dan Penutupan Posisi

Target, jaringan ritel besar asal Amerika Serikat, akan melakukan perubahan signifikan dalam struktur organisasinya. Perusahaan ini akan memberhentikan sekitar 1.000 karyawan korporat serta menutup 800 posisi yang belum terisi. Dampak dari keputusan ini mencakup sekitar 8 persen tenaga kerja korporat global perusahaan.

CEO baru Target, Michael Fiddelke, mengumumkan keputusan ini melalui surel kepada seluruh karyawan pada Kamis (23/10/2025). Ia menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan untuk menjadikan perusahaan lebih kuat, lebih cepat, dan lebih baik. Fiddelke akan menggantikan Brian Cornell, CEO lama yang rencananya akan mundur tahun depan.

Pemangkasan karyawan dilakukan menjelang musim belanja akhir tahun, yang merupakan periode penting bagi sektor ritel. Namun, Target saat ini sedang menghadapi tekanan besar akibat penurunan penjualan dan gejolak internal setelah menghentikan sejumlah program diversity, equity, and inclusion (DEI) atau keberagaman, kesetaraan, dan inklusi.

Keputusan tersebut mendapat protes keras dari pendukung DEI. Mereka menilai Target mundur dari komitmen terhadap inklusi. Selama ini, Target dikenal sebagai salah satu pendukung utama gerakan DEI di kalangan korporasi Amerika. Perusahaan mengakui bahwa pemangkasan program DEI ikut memperburuk kinerja penjualan yang sudah melemah selama tiga kuartal berturut-turut.

Kondisi ekonomi yang lesu dan persaingan ketat dari Walmart, Amazon, serta Costco menambah tekanan terhadap Target. Konsumen kini lebih selektif dalam berbelanja, dengan banyak yang mengurangi pembelian barang rumah tangga dan pakaian, dua segmen utama Target.

Harga saham Target (kode: TGT) turun 30 persen sepanjang 2025. Kinerja itu menempatkannya di jajaran saham dengan performa terburuk di indeks S&P 500 tahun ini.

Seorang juru bicara Target menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) ini tidak bertujuan untuk memangkas biaya operasional. “Langkah ini adalah bagian dari upaya menata ulang organisasi agar kami bisa mengambil keputusan lebih cepat,” ujarnya.

Perusahaan belum mengungkap total biaya restrukturisasi akibat PHK dan penghapusan posisi tersebut. Meski begitu, pasar menilai langkah ini akan berdampak besar pada strategi Target menghadapi tekanan ekonomi yang belum reda. Dengan perubahan ini, Target berharap dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah tantangan yang semakin kompleks.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Simak terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar